Tiga Ribu Lima Ratus Tujuh Puluh Sembilan Wajah Cinta

“Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.

Kebanyakan orang hanya memberikan penjelasan dalam hal sebab-musabab,
konsekuensi, tanda-tanda, penguat-penguat dan buah dari cinta serta hukum hukumnya.

Maka batasan dan gambaran cinta yang mereka berikan berputar pada enam hal di atas walaupun masing-masing berbeda dalam pendefinisiannya, tergantung kepada pengetahuan, kedudukan, keadaan dan penguasaannya terhadap masalah ini.”

(Imam Ibnul Qayyim, dalam Madarijus Salikin)

* * *

“Kami telah menuturkan beberapa pendapat penyair mengenai cinta bahwa cinta pada mulanya terjadi dari penglihatan dan pendengaran. Kemudian bila Allah menghendaki kita dibuat untuk dapat selalu mengingat-ingat apa yang mungkin diakibatkan oleh pendengaran dan penglihatan. Lantas kenapa bisa terjadi cinta dan bagaimana? Bagi orang awam keberadaan cinta tidak terlalu menjadi perhatian mereka, sedangkan bagi orang-orang yang ahli mereka selalu mempertanyakan sebab-musababnya.

Dari Nabi shalallahu alaihi wa salam beliau bersabda:
“Ruh-ruh adalah seperti layaknya tentara perang yang disiagakan, maka apabila saling mengenal (saling pengertian dengannya) akan terjalin sebuah hubungan yang harmonis (kekompakan), sedang apabila saling mengingkari maka akan tercerai berai.”

Seorang penyair berkata:
Aku membawa segunung cinta untukmu. Sedang aku sesungguhnya tidak mampu membawa jubah dan aku begitu lemah. Cinta bukanlah bagian dari kebaikan dan tenggang rasa. Akan tetapi cinta adalah sesuatu yang karenanya jiwa terbebani dengan beban yang berat.“

(Imam Muhammad bin Daud Azh Zhahiri, dalam Az Zahrah)

* * *

“Cinta adalah sesuatu yang permulaannya seperti sebuah senda gurau dan akhirnya adalah merupakan keseriusan. Karena keagungannya, arti cinta sangat rumit untuk digambarkan. Engkau tidak akan dapat menemukan hakikatnya kecuali setelah bersusah payah (dengan pengorbanan). Sementara orang-orang telah berbeda pandangan mengenai hakikat cinta yang sebenarnya, mereka berkata kesana-kemari. Menurut pendapat saya, cinta adalah pertautan antar bagian-bagian jiwa yang terbagi pada asal unsurnya yang luhur. Kita pun telah tahu bahwa rahasia mengenai percampuran dan perbedaan pada segala penciptaan sesungguhnya adalah suatu pertemuan dan pemisahan unsur-unsur yang terdapat dalam jiwa dan raga”

(Imam Ibnu Hazm, dalam Thauqul Hamamah)

* * *

“Cinta adalah tempat persinggahan yang menjadi ajang perlombaan bagi orang-orang yang bersaing, jadi sasaran mereka beramal, menjadi curahan yang mencinta, dengan sepoi angin cinta, para hamba yang beribadah merasakan ketenangan.

Cinta adalah santapan hati, gizi dan kegemaran jiwa. Cinta ibarat kehidupan, sehingga orang yang tidak memilikinya tak ubahnya jasad tak bernyawa. Cinta adalah pelita. Siapa yang tidak menjaganya, dia ibarat tengah berada dilautan yang gelap gulita.

Cinta adalah obat penawar. Siapa yang tak memilikinya, hatinya dihinggapi beragam penyakit. Cinta adalah kelezatan. Siapa yang tidak merasakannya, maka seluruh hidupnya diwarnai gelisah dan penderitaan.”

(Imam Ibnu Qayyim, dalam Syarhul Ashabul Asyarah)

* * *

“Cinta adalah kecondongan jiwa yang sangat kuat kepada satu bentuk yang sesuai dengan tabiatnya, maka jika pemikiran jiwa itu kuat mengarah kesana, ia akan selalu mengharapkannya. Oleh karena itu pula, biasanya penyakit baru akan selalu muncul bagi orang yang sedang jatuh cinta.”

(Imam Ibnul Jauzi, dalam Dzammul Hawa)

* * *

“Cinta itu ibarat pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Buahnya menampakkan dirinya di hati, di lidah dan di anggota badan. Buah itu adalah ketaatan akan perintah Tuhan, dan kenangan terus menerus kepada kekasih yang memenuhi hati dan melimpah ke lidah.”

(Imam Al Ghazali, dalam Al Mahabbah)

* * *

“Cinta itu ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah ma’rifah kepadaNya, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadapNya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya, bahan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya, kapan saja, jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah cintanya kepada Allah”

(Imam Ibnul Qayyim, dalam Raudhatul Muhibbin)

* * *

Dari Anas radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

* * *

Dari Anas radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

* * *

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya para shahabat tentang segolongan orang yang bukan berasal dari kalangan Nabi dan Rasul, tetapi memiliki kedudukan yang amat mulia di sisi Allah sehingga dielu-elukan oleh para syuhada’, beliau menjawab,
“Mereka adalah satu kaum yang cinta mencintai karena Allah tanpa ada hubungan sanak saudara atau kerabat diantara mereka serta tidak ada hubungan harta benda yang ada pada mereka. Maka, demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa dikala orang lain takut, dan mereka tidak berduka cita dikala orang lain berduka cita.” (HR. Abu Dawud)

* * *

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, "siapa mereka itu?”, “mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad)

* * *

Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Allah Azza wa Jala, mendatangiku (dalam mimipi) Dia berfirman kepadaku: “Wahai Muhammad, ucapkanlah ‘Ya Allah seseungguhnya aku mohon cintaMu, cinta orang-orang yang mencintaiMu, dan amal yang membawaku untuk mencintaiMu” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

* * *

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa, “Ya Allah, berilah aku rezeki cintaMu dan cinta orang yang bermanfaat untukku cintanya di sisiMu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku diantara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untukku dalam segala hal yang Engkau cintai.” (HR. Tirmidzi)

Advertisements

Menjadi Teman Anak Kader

Ini tentang berusaha berprasangka baik pada Allah. Pada takdir yang telah ditetapkannya bagi kami. Berprasangka baik terhadap wajah-wajah teduh yang mewarnai perjalanan hidup kami. Mungkin ini juga termasuk ikhtiar permohonan ampun atas angkuh dan tingginya hati saat dulu pernah merasa lebih baik dari wajah-wajah teduh ini. Ini tentang merajut benang-benang ukhuwah diantara kami dan kalian.

Akhir-akhir ini saya menyaksikan drama-drama tentang keteguhan, pengorbanan, dan keikhlasan yang diputar berulang-ulang tiada henti setiap hari di pelupuk mata saya. Ruh-ruh yang dulunya hanya saya resapi dari mengkaji buku-buku perjuangan yang menjelaskan poin-poin risalah ta’lim. Tadhiyah, Tajarrud, Tsabbat, dan Ikhlas. Kini ruh-ruh itu menjelma menjadi sosok-sosok yang melihat mereka membuat gemuruh di dada saya. Selain karena ini tahun perjuangan kata banyak orang, tetap saja saya mempertanyakan, bagaimana bisa hal ini terjadi?

Saya kembali teringat masa-masa dulu saya mengenal dakwah ini. Paling mula yang saya ingat saya sudah menyanyi-nyanyikan lagu-lagu Izzatul Islam dan Shoutul Harokah ketika kelas 6 SD. Saya menyanyikan itu setiap perjalanan berangkat dan pulang sekolah. Lagu Gelombang Keadilan, Bingkai Kehidupan, Surat Meutia Kepada Purnama, dan lagu-lagu lainnya saya dengarkan dari kaset-kaset paman saya yang saat itu baru-baru saja dekat dengan Partai berlambang bulan sabit mengapit padi. Bukan karena paman saya selalu memutar lagu-lagu itu di rumah, tapi karena anak kecil seperti saya suka mencari tahu dan melakukan hal-hal baru, maka saya sendiri yang memperdengarkan lagu-lagu itu. Continue reading Menjadi Teman Anak Kader

Suara dari Balik Tirai Hijau Musholla

Pagi ini aku sedang mengagumi seseorang. Aku tak tau namanya. Tapi apa yang aku dengar darinya, dari balik tirai hijau pembatas di musholla Teknik Informatika ITS, benar-benar membuatku kagum.

Pagi itu sekitar pukul 09.00 lewat beberapa menit aku sampai di kampus. Karena aku berangkat dengan memakai sandal, aku masuk kampus lewat pintu belakang, karena dekat musholla aku menuju musholla terlebih dulu untuk shalat dhuha. Saat aku berjalan mengarah ke musholla itu aku melihatnya berjalan dari arah yang berbeda. Dia juga menuju musholla sepertinya. Saat itu biasa saja, aku belum mengaguminya, hehe.

Setelah melakukan shalat dhuha aku merebahkan punggungku tepat ditempat aku shalat. Saat itu aku hampir mulai terlelap ketika aku mendengar sayup-sayup suara bacaan Al Qur’an dari balik tirai yang membatasi tempat pria dan wanita. Sejenak aku dengarkan lebih seksama suara bacaan Al Qur’an itu, aku merasa nyaman. Suaranya indah, nadanya cukup merdu. Jujur baru kali ini aku mendengarkan bacaan Al Qur’an secara langsung dari seorang wanita selain ibu saya. Merasa tertarik untuk mendengarkan lantunan itu lebih jelas, aku bergerak mendekati arah suara. Tepat disamping tirai aku dengarkan suara itu lebih jelas, lebih indah. Saat itu di musholla hanya ada aku dan perempuan itu. Jadi suasana cukup hening yang membuatku bisa mendengarkan suara indah itu dengan jelas. Aku sengaja tidak banyak melakukan gerakan yang bisa menimbulkan suara. Takutnya dia mendengar dan kemudian memelankan suaranya. Continue reading Suara dari Balik Tirai Hijau Musholla

Tenanglah, Hanya Masalah Kecocokan

jangan kau kira cinta datang

dari keakraban dan pendekatan yang tekun

cinta adalah putera dari kecocokan jiwa

dan jikalau itu tiada

cinta takkan pernah tercipta,

dalam hitungan tahun, bahkan millenia

-Kahlil Gibran-

_____________________________________________

dan kecocokan jiwa itu adalah ditangan Allah.

bercocoklah dengan kebaikan, insyaAllah ada jiwa baik yang dicocokkan denganmu.

#saya sedang tidak galau.

Berbagi Galau (Lagi)

Jumat pagi tadi ada sedikit galau yang merasuk ke dada (#halah). Apa pasal? Yap, seperti biasa, pemuda bujang kalau galau pasti tentang pasangan hidup (jodoh). nah, tapi galau saya tentang hal ini insyaAllah galau yang baik loh.hehe

Ceritanya, Jumat tadi pagi ada kajian SOF, singkatan dari Spirit of Friday. Ini acara dari Departemen Syiar KMI, LDJ Jurusan saya. Temanya sebenarnya tentang ‘Muslim Prestatif’, tapi kok ada hubungannya sama jodoh ya? bentar, ini juga lagi diceritain. Sebelumnya lihat dulu gambar poster publikasi acaranya, saya sendiri yang desain loh. :3

Spirit of Friday

Dalam materi yang disampaikannya, mas Dewa -yang jadi pemateri- menyampaikan mengenai apa yang membedakan pemuda berprestasi secara umum dengan pemuda muslim berprestasi. Apa yang membedakan diantara keduanya adalah mengenai pemahaman dan keyakinan akan takdir Allah. Continue reading Berbagi Galau (Lagi)

Rekonsiliasi. Jeda Cinta yang Menepi

“Dia,” kata Ammar bin Yasir kepada Utsman bin Affan, “Berwasiat agar engkau tidak menshalatkannya.” Kalimat menyesakkan tentang akhir kisah Abdullah bin Mas’ud itu ditulis dalam kitab Ansabul Asyraf jilid V halaman 36.

Ini tentang cinta manusia-manusia utama yang berjeda. Manusia-manusia yang belajar di sekolah rabbani bersama murabbi qur’ani. Manusia-manusia yang telah mendapat keridhaan Allah dan keadilannya diakui. Cinta di antara manusia-manusia ini begitu dalam dan senantiasa dinaungi keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan, begitu indah.

Meski di antara manusia-manusia pilihan ini cinta dan ukhuwah telah menjadi napas kehidupannya, bukan berarti mereka senantiasa seiya sekata dalam urusan kehidupannya. Mereka adalah manusia seutuhnya dengan perbedaan karakter, pemikiran, dan pandangan. Oleh karena itu, kadangkala, di antara mereka pun muncul perselisihan dan perbedaan pendapat. Saat itulah, sang murabbi, Rasulullah Muhammad, akan memutuskan perkara mereka dengan keputusan langit ataupun pendapat hukumnya sendiri.

Itu terjadi tatkala Rasulullah masih berada di tengah-tengah mereka. Saat Rasulullah meninggalkan mereka menuju Rabbnya dan wahyu berhenti, perselisihan di antara mereka pun diselesaikan dengan dua pegangan utama mereka, Al Qur’an dan As Sunnah. Jika permasalahannya tidak didapati di kedua pegangan itu, mereka pun menyelesaikannya secara bersama-sama.

Tatkala fitnah mulai merambah bumi Islam seperti deburan angin yang membawa debu dan membawa gelapnya malam, peristiwa-peristiwa memilukan pun terjadi. Ini tentang salah seorang sahabat Rasulullah yang dimuliakan dan membuat malaikat malu kepadanya, Utsman bin Affan. Dialah manusia yang menurut Rasulullah adalah umatnya yang paling pemalu.

Di masa jabatannya sebagai khalifah, ia mengangkat beberapa orang kerabatnya dan orang-orang yang dekat dengannya sebagai pejabat pemerintahan. Di antaranya adalah Al Walid bin Uqbah. Dia adalah salah seorang Bani Aslam yang dibebaskan pada peristiwa Fathu Makkah. Rasulullah pernah mengangkatnya sebagai petugas pengumpul zakat dari Bani Musthaliq. Ayahnya adalah Uqbah bin Abdi Mu’ith yang sangat berperan menyiksa kaum mustadh’afin dan menyakiti Rasulullah di Makkah. Uqbah adalah salah seorang tawanan Perang Badar yang dihukum mati.

“Tahukah kalian atas apa yang dilakukan orang ini kepadaku?” kata Rasulullah setelah memutuskan hukuman mengenai Uqbah ini sebagaimana dicatat dalam Al Bidayah wa An Nihayah. “Saat aku sujud di belakang Maqam Ibrahim, dia datang lalu menginjakkan kakinya ke leherku. Aku mencubitnya, tetapi kakinya tidak juga diangkat. Aku merasa seolah-olah kedua mataku akan keluar.” Continue reading Rekonsiliasi. Jeda Cinta yang Menepi