Di Ujung Membaca Alquran

Seakan mewakili kondisi saya akhir-akhir ini. ta’iduni ilal Qur’an, ya Rabb.

Pohon Gula

Dulu, aku dan kakak laki-lakiku adalah dua saudara yang tidak pernah akur setiap waktu. Aku tidak menemukan figur kakak laki-laki idaman adik perempuan pada sosoknya. Kami hobi bertengkar, dia hobi ngece, aku hobi menangis. Aku tidak cukup cekatan membalas ece-annya dan tidak cukup kuat memukulnya yang bertulang keras serta pandai berkelit.

Tapi setidaknya, ada satu hal yang kami selalu kompak kerjakan. Mengaji di ruang tengah yang diakhiri dengan membaca doa khatam quran.

Allahummarhamna bil quran, waj’alhulana imaaman wa nuuran wa huda wa rohmah. Allahumma dzakkirna minhu maa nasiiha, wa’allimna, minhu maa jahiilna, warzuqna tilaawatahu, aana al laili wa aana an nahaari, waj’alhulanna hujjatan, yaa Rabbal Alamin.

Doa-doa ini kami lafadzkan dengan nada yang begitu begitu saja. Membacanya, pertanda kewajiban mengaji selesai sudah. Bisa ditinggal untuk bersiap makan malam, nyemil, atau sekadar iseng merapikan buku untuk esok sekolah.

Tak jarang, kami–aku membacanya sambil lalu. Sambil melamun, mengelupasi renda mukena, melipat ujung-ujung…

View original post 326 more words

Di Sanalah Zakariya Berdoa Kepada Tuhannya

Hunalika da’a zakariya rabbah.

Saya sangat menyukai surah Maryam. Membacanya selalu menumbuhkan bunga bahagia di dada. Rima ayat yang selalu manshub (berakhiran fathah) membuatnya begitu syahdu dilantunkan. Tetapi kali ini bukan tentang Surah Maryam. Adalah surah Ali Imran yang sedang memenuhi pikiran saya. Sebagai penyuka surah Maryam, tentunya surah Ali Imran menjadi sidekick bagi pengembaraan kisah salah satu keluarga yang diutamakan oleh Allah. Karena Imran adalah ayah dari Maryam. Dan bersama dengan keluarga Ibrahim, keluarga Imran adalah diantara keluarga yang Allah tinggikan melebihi segala umat.

Terkisah di surah Ali Imran, setiap kali Zakariya, paman Maryam yang mengasuhnya sejak kecil, mengunjungi Maryam di mihrabnya di sisi Baitul Maqdis, Ia selalu mendapati makanan terhidang di sisi Maryam. “Dari manakah engkau mendapat makanan ini?” Tanya Zakariya kepada Maryam. “Makanan ini datangnya dari sisi Allah,” Jawab Maryam. Mari kita perhatikan apa yang selanjutnya terjadi.

Hunalika da’a zakariya rabbah. Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya.

Zakariya menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang luar biasa. Dan Mihrab Maryam adalah tempat yang istimewa. Maka seketika Zakariya mengangkat tangannya dan berdoa. Ia tumpahkan segala pintanya atas sesuatu yang ia telah bersabar begitu lama.

Rabbi habli min ladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka sami’uddu’a. Wahai Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.

Zakariya mendambakan anak begitu lama. Maka tersebab doa di tempat yang istimewa ini, Allah mengabulkan pintanya. Melalui Jibril, tersampailah kabar kepada Zakariya ketika ia sedang beribadah di mihrabnya. “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran Yahya, yang membenarkan kalimat yang datang dari Allah, yang dihormati, yang pandai menahan diri, dan seorang nabi yang termasuk dikalangan orang-orang shalih.”

praying

Hunalika da’a zakariya rabbah. Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya.

Di sini saya menyadari seringnya kelalaian itu datang. Bahwa ada hal-hal yang dapat begitu cepat menghubungkan kita dengan Allah. Baik berupa tempat maupun saat-saat tertentu. Tetapi kita sering meremehkan dan lalai darinya. Kita mengetahui kemustajaban doa diantara Adzan dan Iqamah. Begitu juga ketika turun hujan, ketika sujud dalam shalat, ketika meminum air Zamzam, dan banyak lagi waktu-waktu mustajab lainnya. Atau tempat-tempat mustajab seperti Multazam, Raudhah, dan padang Arafah. Tapi seberapa sering kita mewaspadai datangnya waktu-waktu itu dengan antusias untuk kemudian melantunkan doa-doa kita?

Jika boleh meminjam salah satu teori dalam Astrofisika, Wormhole, lubang jalur yang menghubungkan dua titik tertentu di ruang angkasa, yang memungkinkan perpindahan secara drastis yang tidak dibatasi hukum-hukum ruang dan waktu normal. Maka jika boleh mengumpamakan, mungkin inilah Wormhole yang mengantar doa-doa kita melesat menuju Allah.

Atau dalam bahasa yang lebih syahdu yang sering digunakan dalam pembicaraan suluk, mungkin inilah manzilah-manzilah. Stasiun-stasiun persinggahan yang mengantar ke tujuan yang satu. Sebagaimana bulan, matahari dan benda-benda langit lainnya yang telah Allah tetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) dalam perjalanannya. Maka ada manzilah-manzilah yang telah Allah tetapkan bagi hambaNya untuk menujuNya.

Hunalika da’a zakariya rabbah. Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya.

Maka sadarkah kita akan sebuah manzilah besar, manzilah induk, yang merangkum sekian banyak arus jalur perjalanan? Adalah Ramadhan, manzilah induk itu. Ia merangkum sekian banyak manzilah dalam satu manzilah besar bernama Ramadhan. manzilah diantara adzan dan iqamah, manzilah sujud dalam shalat, manzilah sahur dan berbuka, manzilah hari Jumat, manzilah lailatul qadar, dan manzilah-manzilah lainnya. Semuanya dapat kita singgahi di dalam manzilah induk yang juga penuh keberkahan; Manzilah Ramadhan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setiap muslim pada tiap siang dan malam harinya di Bulan Ramadhan, memiliki doa yang mustajab.” (diriwayatkan Al Bazzar, Shahih menurut Albani)

Bulan Ramadhan adalah “Hunalika da’a zakariya rabbah” kita. Hadiah istimewa dari Allah. Jangan tahan lisan kita dari mengadu dan berdoa kepada Tuhannya. Berdoalah, Tuhan kita Maha Mendengar doa.

– – – – –

(Malam Kelima Ramadhan 1437H. Terinspirasi dari tadabbur ustadz Ahmad Musyaddad)

Ramadhan: Personal Taste

Jadi jangan mengira saya penyuka drama korea dari judul ‘Personal Taste’, hehe. Saya ingin berbagi agenda sehari-hari yang insya Allah akan diniati di Ramadhan kali ini (1437 H). Nuansa agenda kali ini lebih cocok untuk jiwa-jiwa yang disibukkan dengan 8 jam duduk di depan meja kerja (baca: karyawan).

Jadi wahai jiwa-jiwa yang disibukkan dengan 8 jam duduk di depan meja kerja, jangan bersedih hati dan merasa kalah amal dari mereka yang jiwanya merdeka melakukan apa saja kapan saja (meskipun sebenarnya memang kalah haha). Setidaknya 8 jam kesibukan yang rawan lupa dari mengingat Allah itu bisa kita produktifkan (Banyak tips di http://productivemuslim.com) semaksimal mungkin.

Nah preferensi yang saya rancang untuk Ramadhan kali ini akan seperti ini secara garis besar:

  • Reading
  • Listening
  • Memorizing
  • Advancing

Reading

Pasti semua sudah paham amalan paling laris di bulan Ramadhan. Yak, tadarus Al Qur’an. Secara bahasa sebenarnya tadarus al Qur’an ini artinya mempelajari Al Qur’an. Tapi kemudian di masyarakat kita maknanya beralih ke membaca Al Qur’an. Membaca Al Qur’an ini ada dua macam jenis. Qiro’ah dan Tilawah. Qiro’ah adalah membaca ayat-ayat Al Qur’an tanpa memperhatikan arti/kandungan maknanya. Sedangkan Tilawah adalah membaca ayat-ayat Al Qur’an sekaligus memperhatikan arti/kandungan maknanya, yang pada tahapan yang lebih tinggi ianya akan disebut Tadabbur. Nah kita bisa melakukan salah satu dari keduanya, atau jika memilih Tilawah, maka Qiro’ah sudah tercakup di dalamnya.

Qiro’ah

Ini cocok bagi mereka yang punya jiwa pembalap. Karena bulan Ramadhan, balapannya bukan di jalanan, tapi di lembaran-lembaran Al Qur’an. Tapi ingat, balapan disini maksudnya bukan ngebut yang kemudian merusak tajwid dan pengucapan. Tetap harus memperhatikan tajwid dan makhraj secara baik. Maksudnya balapan adalah, orientasi pada kuantitas. 2 kali khatam, 5 kali khatam, atau 10 kali khatam. Tentunya ini membutuhkan pula keluangan waktu yang banyak. Paling enak dilakukan selepas atau sebelum setiap shalat 5 waktu. Dan dapat di-‘boosting‘ selepas tarawih atau saat sahur. Jika mentarget 2 khatam misalnya, maka usahakan konsisten minimal di setiap waktu shalat untuk membaca 4 lembar jika dengan mushaf ayat pojok. Dan apabila boosting juga dilakukan, maka di akhir Ramadhan insya Allah capaian kita akan melebihi target.

Tilawah

Ini cocok bagi mereka yang ingin melakukan pengobatan hati. Karena memang Al Qur’an adalah obat, terutama bagi hati. Dengan membaca kandungan makna Al Qur’an insya Allah semakin meneguhkan keimanan dan menajamkan kesadaran kita sebagai seorang muslim. Cara reguler, biasanya dilakukan simultan dengan Qiro’ah yang dilakukan. Misal target khatam tilawah sekali selama Ramadhan, setiap waktu shalat diiringi qiro’ah 2 lembar, kemudian membaca terjemahan 2 lembar tersebut. Cara lainnya bisa dengan mengakhirkan membaca terjemahan selepas shalat tarawih, sebagai pengantar sebelum tidur. Atau jika ingin ngebut Qiro’ah tapi juga tetap memahami makna bacaannya, bisa dengan cara yang kedua itu. Target qiro’ah 2 kali khatam, maka setiap waktu shalat diiringi membaca Al Qur’an 4 lembar. Kemudian setiap selepas tarawih membaca terjemahan Al Qur’an satu juz. Sehingga di akhir Ramadhan, setidaknya selesai 2 kali Qiro’ah, dan 1 kali baca terjemahan.

Listening

Selain mulut yang dikondisikan untuk bersering-sering menjaring pahala dengan bacaan Al Qur’an, telinga juga butuh nutrisi yang sama. Jangan sampai apa-apa yang masuk ke telinga kita di bulan Ramadhan ini tak ada bedanya dengan bulan-bulan lainnya. Listening ini aktivitas yang paling santai dan bisa dilakukan simultan dengan aktivitas lain. Beberapa jenis listening yang patut dicoba.

Sema’an

Ini istilah tradisional di masyarakat untuk aktivitas menyimak bacaan Al Qur’an. Berbagai rekaman murottal Surah Al Qur’an oleh berbagai Qari’ dapat kita jumpai dan dapati dengan mudah. Saya yakin setidaknya kita punya satu paket 30 juz lengkap murottal dari Qari tertentu. Favorit saya Syeikh Misyari Rasyid Alafasi. Silakan pilih sesuai kesukaan. Sema’an dapat dilakukan di banyak tempat. Bagi jiwa-jiwa yang disibukkan dengan 8 jam duduk di depan meja kerja, Sema’an dapat dilakukan dalam perjalanan ketika berangkat ke kantor atau pulang dari kantor. Di mobil, sepeda motor, busway, KRL, dan sebagainya. Tapi harap diperhatikan volumenya agar tetap waspada dengan kondisi sekitar.

Podcasting

Ini aktivitas yang sedang saya gandrungi saat ini. Podcasting adalah memutar rekaman pelajaran, diskusi, atau sebagainya secara tematik. Dalam hal ini yang kita bicarakan adalah tema keislaman tentunya. Ada banyak sekali situs-situs yang menyedia podcast untuk didengar-alir(streaming) atau diunduh. Saya sangat menyarankan untuk mendengarkan Podcast berbahasa inggris oleh ustadz-ustadz dan dai-dai dari negeri barat. Beneran! Berikut beberapa diantara yang saya rekomendasikan:

Bayyinah Podcast (http://podcast.bayyinah.com/)
Sebagian besar kita pasti mengenal ustadz Nouman Ali Khan. Bayyinah ini institusi yang dipelopori oleh beliau dengan dai-dai lainnya. Tema utamanya adalah Al Qur’an, dengan pendekatan tafsir dan tadabbur. Akan banyak hal-hal baru yang akan kita ketahui dibalik setiap ayat yang dibahas.

Qalam Institute (http://www.qalaminstitute.org/podcast-2/)
Dipelopori oleh ustadz Abdul Nasir Jangda, yang juga pengajar di Bayyinah Institute. Paling rekomendasi adalah topik ‘Seerah – Life of the Prophet‘ dan ‘Ramadan Reflections

SeekersHub (http://seekershub.org/podcast/)
Digarap oleh ustadz-ustadz lulusan Timur Tengah, Al Azhar, Pakistan, dan lainnya. Temanya mencakup semua diskursus keislaman seperti aqidah, fiqih, dan tazkiyah/tasawuf.

Podcast Induk Lainnya
Merangkum berbagai ustadz dan dai negeri barat lainnya, seperti ustadz Yasir Qadhi, Mufti Menk, Omar Suleiman, Bilal Philips, Yasmin Mogahed, dan yang lainnya.
https://player.fm/featured/islamic
http://www.muslimcentral.com/islamic-lectures/

Podcast Berbahasa Indonesia (tambahan dari permintaan Mbak Dini, yang punya MusliMagnet)
sebenernya rekaman kajian di Indonesia itu banyak, hanya kurang terkelola, tidak beristilah podcast, dan dikumpulin sendiri-sendiri tergantung institusi. Tapi ini ada beberapa yang saya rekomendasikan:

Pemuda Hijrah (http://pemudahijrah.com/rekaman-kajian/)
Komunitas SHIFT ini lagi beken di Bdg, muda-mudi Bdg pasti banyak yang tahu. Biasanya bulanan mabit di masjid Al Lathiif. Pengasuhnya ust Hanan Attaki, dulu zaman saya kerja praktek di Telkom R&D Gegerkalong beliau yg mengasuh kajian masjid dan halaqah tahsin. Ganteng, suaranya enak, hihi.

MajelisTaklim (http://www.majelistaklim.com/)
Website induk yang menghimpun sekian banyak kajian berbagai dai, ustadz dan habaib. Ada Aa Gym, Arifin Ilham, Habib Rizieq, Buya Yahya, dll. Favorit saya ustadz Arifin Ilham kalau disini.

Percikan Iman (http://www.percikaniman.org/multimedia/)
Salah satu komunitas majelis taklim dan keislaman di Bdg, asuhannya ustadz Aam Amiruddin. Taklim rutin biasanya di Masjid Telkom Gegerkalong, tempat saya pernah kerja praktek, saya tahu dari saat itu.

Buya Yahya (http://buyayahya.net/)
Buya Yahya salah satu ulama muda aswaja jebolan Hadhramaut yang sangat menarik perhatian dalam usaha dakwahnya di Cirebon. Kajian-kajiannya selalu ramai, pembahasan ringan dan mudah dipahami.

Al Iman Center (http://alimancenter.com/category/download/)
MT Al Iman salah satu majelis taklim di Jakarta yang eksis sejak 90-an. Kajiannya diisi ustadz-ustadz muda dari LIPIA dan tematik oleh ustadz-ustadz senior. Tapi rekaman bentuk audio masih sedikit, kebanyakan berupa video di kanal youtube. di belakang nanti saya beri tautan website converter video ke audio.

Lain-lain:
http://warungustad.com/ Website induk himpunan banyak ustadz dan ustadzah se Indonesia. Bentuknya video tapinya.
http://dtjakarta.or.id/category/artikel/aa-gym/mp3-aa-gym/ Rekaman-rekaman Aa Gym di Jakarta
http://tafaqquhstreaming.com/category/download/ Kajian-kajian primer di masjid Agung Riau
Selain itu, podcast di souncloud juga banyak, tapi karena diblokir di jaringan internet kantor, jadi jarang mengambil dari sana.

Website Converter Video ke Audio:
http://www.saveitoffline.com/ Bisa dari berbagai website penyedia video
http://www.youtubeinmp3.com/ Khusus Youtube ke Mp3
(thank me later)

Memorizing

Memorizing ini tentunya terkait dengan hafalan Al Qur’an di kepala kita. Bagi jiwa-jiwa yang disibukkan dengan 8 jam duduk di depan meja kerja, aktivitas ini sebenarnya bisa dilakukan tanpa harus memeras keringat dan tenaga kita asalkan target yang kita tentukan tidak terlampau tinggi (ya iyalah!). Agar setidaknya di bulan Ramadhan ini kita memiliki tambahan hafalan Al Qur’an.

Addition

Menambah hafalan 1 juz? terlalu berat sepertinya. Mari ambil beberapa surah dari surah-surah halaman belakang, atau beberapa lembar dari surah-surah panjang. Misal kita targetkan 1 pekan dapat 1 lembar hafalan. Sehingga selesai Ramadhan kita bisa dapat setidaknya 4 lembar hafalan baru. Caranya, 1 pekan terdiri dari 7 hari, hari pertama lakukan proses menghafal (ada berbagai cara menghafal, ambil yang cocok menurut selera). Kapan? paling enak sebelum sahur dan selepas subuh, satu halaman, atau kalau tidak sanggup cukup setengah halaman. Kemudian di murojaah pada shalat dhuha dan shalat sunnah rawatib. Hari kedua tambah sisa setengah halaman (jika hari pertama hanya setengah halaman) kemudian tetap murojaah pada shalat dhuha dan shalat sunnah rawatib. Hari ketiga murojaah penuh satu halaman pada shalat dhuha dan shalat sunnah rawatib. Hari keempat – keenam lakukan hal yang sama. Kemudian hari ketujuh, murojaah 1 lembar di setiap kesempatan yang sempat, bisa saat shalat sunnah atau saat waktu luang.

Backtrack

Istilah keren untuk murojaah. Maksudnya murojaah surah-surah yang sudah kita hafal dulu-dulu. Khususnya surah-surah yang rawan terlupakan (yang jarang kita pakai untuk bacaan saat shalat misalnya). Caranya? Bisa dilakukan dengan listening murottal di berbagai kesempatan! (ingat bagian Sema’an di atas). Sehingga selain menambah hafalan, kita juga masih mempertahankan hafalan yang lama. Insya Allah.

Advancing

Bulan Ramadhan rasanya kurang sempurna jika tidak kita warnai pula dengan amalan-amalan penyempurna. Banyak sekali amalan penyempurna yang dapat kita lakukan di bulan Ramadhan. Semua amalan kebaikan adalah nawafil (penyempurna). Berikut diantaranya untuk diperbanyak:

  • Dzikir:
    • Wirid Ramadhan
      (1) Allahumma innaka Afuwwun Karim, Tuhibbul afwa fa’fuanna ya Karim
      (2) Asyhadu anlaa ilaaha illallah, astaghfirullah, as’aluka ridhoka wal jannah wa a’udzubika minannar
      (3) Subhanal malikil quddus, rabbul mala’ikati warruh
      Dibaca terutama selepas tarawih dan saat i’tikaf di masjid.
    • Dzikir Pagi dan Petang
    • Perbanyak Istighfar
    • Perbanyak Shalawat
  • Baca Buku-buku atau artikel keislaman
  • Sedekah
  • Ganti musik-musik umum (bagi yang masih suka mendengarkan) dengan musik-musik positif dan nasyid
    dan lain sebagainya.

Timeline

3 AM – 4 AM : Qiyam, Boosting Qiro’ah, Hafalan
4 AM – 6 AM : Sahur, Shalat Subuh, Qiro’ah/Tilawah, Hafalan(lanjutan), Dzikir Pagi
6 AM – 8 AM : Berangkat Kerja, Sema’an, Dzikir
8 AM – 12 AM : Kerja, Podcasting, Dhuha, Murojaah
12 AM – 1 PM : Dhuhur, Murojaah, Qiro’ah/Tilawah
1 PM – 3 PM : Kerja, Podcasting, Artikel
3 PM – 5 PM : Ashar, Murojaah, Qiro’ah/Tilawah
5 PM – 6 PM : Pulang kerja, Sema’an, Dzikir Petang
6 PM – 7 PM : Buka, Maghrib, Qiro’ah/Tilawah
7 PM – 9 PM : Isya, Tarawih, Murojaah, Qiro’ah/Tilawah
9 PM – 10 PM : Boosting Qiro’ah/Tilawah, Baca Buku
10 PM – 3 AM : Tidur

Demikian Personal Taste Ramadhan tahun ini (1437 H).
semoga bermanfaat bagi yang menulis.🙂

Diorama Tadabbur: yang Senantiasa Mengingat

“Yaitu mereka yang senantiasa mengingat Allah disaat berdiri, duduk, dan disaat mereka berbaring.”

Ada seorang suami pulang dari kerja cukup larut mendapati istrinya sudah pulas tertidur. Di meja makan telah terhidang makan malam yang disiapkan sang istri untuknya. Dia mendapati di dapur masih terserak beberapa perabotan masak yang belum dibereskan. Dia hanya tersenyum, meletakkan barang-barang kemudian menuju dapur untuk membersihkan peralatan yang belum sempat dibereskan oleh istrinya. Dia lakukan itu dengan sangat hati-hati agar tak ada satu bunyipun yang bisa membangunkan istrinya dari tidur.

Setelah itu dia membersihkan diri, kemudian makan dengan hidangan yang teleh disediakan istrinya di meja makan. Dia pulang cukup larut hingga seketika selepas makan ia sudah merasakan kantuk. Demi tak menyia-nyiakan kesempatan digelarnya sajadah kemudian shalat sunnah dan witir. Dalam dzikirnya selepas sholat dia tatapi wajah sang istri yang tenang tertidur disampingnya. Dia merasa bersyukur pada Allah, tak henti-hentinya ia ucapkan hamdalah dan tasbih seraya mengelus halus punggung tangan sang istri.

Dia bersyukur pada Allah yang memberikannya seorang istri yang shalihah dan baik budinya. Istri yang tak pernah mengeluh karena suaminya sering pulang cukup larut. Istri yang tak pernah mengeluh lelah meski harus mengurus 4 anak yang masih kecil dan remaja. Terkadang ia agak telat memberi uang belanja kepada sang istri karena memang keuangannya juga sedang seret. Tapi istrinya tidak pernah menagih, dan setiap hari selalu saja siap terhidang makanan dan bekal tanpa ia minta.

Ya Allah jika bukan Engkau yang menjaga perangainya dan melembutkan hatinya maka aku bukanlah orang yang sedemikian teguh menjalani kehidupan berrumah tangga, begitu gumam hatinya. Allah ya Rabb, jadikanlah ia sebaik-baik penyejuk mata bagiku, dan jadikanlah aku sebaik-baik pemimpin baginya. Ia akhiri munajatnya dengan mengecup lembut kening sang istri, berhati-hati agar dia tidak terbangun. Dia ingin sang istri menikmati istirahatnya setelah seharian mengurus rumah dan 4 buah hati mereka tanpa ada yang membantu.

* * * * *

“Yaitu mereka yang senantiasa mengingat Allah disaat berdiri, duduk, dan disaat mereka berbaring.”

Sang istri yang terjaga di tengah malam mendapati suaminya telah pulas berbaring di sampingnya merasa sangat bersalah. Sebenarnya ia berniat beristirahat sejenak melepas penat, ternyata Allah menakdirkannya tidur lebih lama, sehingga tak mendapati kepulangan sang suami yang telah tertidur di sampingnya. Bergegas ia bangkit memeriksa apakah suaminya sudah makan malam. Didapatinya dapur telah bersih yang padahal dia belum sempat membereskannya sebelum tidur tadi. Makanan di meja makan juga dimakan oleh suaminya bahkan telah dirapikan sehingga tak tersisa lagi untuknya melakukan sesuatu. Sang istri hanya bisa tersenyum mengetahui kelakuan suaminya.

Tak beberapa lama diambilnya air wudhu, sajadah digelar, dan tenggelamlah ia dalam alunan-alunan tahajjudnya. Khidmat sekali malam itu. Di rumah petak kontrakan, dengan sepasang suami istri dan 4 anak mereka, malam itu terasa lapang dan syahdu. Sang istri masih tenggelam dalam munajat malamnya bersama Tuhannya. Ia lantunkan surah-surah terbaik yang dihafalnya. Ia nikmati benar-benar setiap ruku dan sujudnya. Selepas shalat dzikirnya tak berhenti, doa-doa ia panjatkan kepada Rabb semesta alam. Tak lupa pula doa-doa kebaikan, keberkahan, dan keselamatan suaminya, anak-anaknya, keluarga dan rumah tangganya.

Rabbi auzi’ni an asykura ni’matakalladzi an’amta alayya. Duhai Rabb-ku tunjukilah aku agar senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku. Membaca doa ini hadirlah wajah teduh sang suami di depan matanya. Suaminya adalah salah satu diantara nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepadanya. Menjadi istri dari seorang lelaki yang shalih dan penyayang. Suami yang selalu mengajaknya berbuat kebaikan. Suami yang selalu sedia menawarkan bantuan mengurusi perkara-perkara rumah tangga padahal urusan pekerjaannya pun masih ada. Suami yang senantiasa menyempatkan waktu menemani anak-anaknya, mengajarkan mereka mengenal Tuhan dan Nabinya, juga mengeja huruf-huruf al qur’an. Suami yang rela bekerja sampai larut malam untuk menafkahi keluarganya.

Ya Allah jadikanlah aku istri yang menjadi penyejuk mata bagi suamiku, gumam hatinya. Ia pandangi lekat-lekat wajah sang suami diantara temaram lampu kamar. Wajahnya mengguratkan lelah yang menumpuk-numpuk. Ya Allah jadikanlah gurat-gurat di wajahnya ini sebagai pembela baginya di hari kiamat nanti, bahwa ia adalah suami yang senantiasa mengarahkan istri dan anak-anaknya menuju ketaatan kepadaMu. Ya Allah jadikan gurat-gurat lelah di wajahnya sebagai pelindung baginya dan keluarganya dari api neraka. Ya Allah kumpulkanlah kami kembali di surgamu kelak. Tak terasa air mata sang istri menetes satu persatu.

* * * * *

“Yaitu mereka yang senantiasa mengingat Allah disaat berdiri, duduk, dan disaat mereka berbaring.”

Tak terasa waktu mulai mendekati subuh. Sang istri membelai halus kening suaminya sembari berbisik lembut di telinganya. Mas, sudah menjelang subuh, bolehlah disempurnakan shalatnya. Bisik sang istri. Sang istri tahu kebiasaan suaminya jika pulang lebih larut dari biasanya, yaitu menyempatkan shalat sunnah 2 rakaat kemudian witir sebelum tidur. Itu dilakukannya agar tetap mendapat amalan shalat jika ketika bangun tak mendapat kesempatan shalat tahajjud.

Sang suami membuka matanya perlahan. Dipandanginya wajah istrinya sambil tersenyum. Ia segera bangkit dan mengambil wudhu. Kemudian menyempurnakan shalat malamnya. Sang istri memandangi suaminya shalat malam, baginya itu adalah pemandangan yang sangat menyejukkan mata.

Selesai shalat dan berdzikir beberapa saat, sang suami mendekat ke arah istrinya yang sedari tadi memandanginya shalat dan berdzikir. Dik, masih ada waktu, kita murajaah yuk. Ujar sang suami. Bagaimana kalau surah Maryam, mas? Tanya sang istri. Boleh. Sang istri kemudian membenarkan posisinya, duduk bersila di samping sang suami, menggenggam tangannya, dan menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami. Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. Ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria. Yaitu ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara lembut…

* * * * *

“Yaitu mereka yang senantiasa mengingat Allah disaat berdiri, duduk, dan disaat mereka berbaring.”
Penggalan ayat ke 191 surah Ali Imran.

Sarinah dan Benang-Benang Usia

Sekian lama menyaksikan peristiwa pemboman (atau lumrah disebut terorisme) hanya dari layar-layar kaca atau surat-surat kabar, kemarin saya hanya sejauh 1 KM dari lokasi pemboman di Sarinah. Saya turut berduka dengan korban yang meninggal, semoga saat menemui ajalnya itu para korban sedang berzikir, atau mencari nafkah untuk keluarga, atau menjalankan tugas dan pekerjaan dengan profesional, sehingga dengan itu semua jadi wasilah untuk meraih syahid dan jannah.

Saya tak bisa berkomentar apa-apa terkait peristiwa itu sebagaimana banyak wacana, teori, dan dugaan-dugaan silih berganti memenuhi timeline-timeline media sosial, kolom-kolom media masa, dan sesi-sesi berita di layar kaca. Allah Maha Tahu segala. Secanggih-canggih siasat manusia, Allah-lah yang menguasai segala siasat.

Saya lebih terhenyak untuk merenungi nasib yang menimpa sebagian korban, yaitu Kematian. Sejauh 1 KM jarak kantor saya dengan lokasi takdir datangnya ajal kematian 6-7 manusia. Jika umur manusia seumpama benang yang ditarik semakin pendek setiap berakhirnya hari, bulan atau tahun, saya tak mampu membayangkan andai saja panjang benang-umur saya tinggal sepanjang 1 KM. Memang sesungguhnya setiap detik berganti manusia berjalan semakin mendekati waktu kematiannya. Tapi tersisa sepanjang 1 KM atau bahkan 100 KM sekalipun bukanlah gambaran yang mampu menenangkan jiwa, bukan?

Tepat setelah peristiwa Sarinah terjadi, bersebaranlah berbagai himbauan melalui pesan-pesan singkat, status-status media sosial, ataupun corong-corong suara di kantor-kantor. Himbauan agar tidak panik, tidak keluar gedung untuk sementara waktu, menghindari pusat-pusat keramaian atau tempat-tempat strategis, dan lain sebagainya. Himbauan-himbauan yang sebagian besar intinya untuk menjaga keselamatan diri masing-masing. Saya pun tak lepas dari mendapatkan berbagai himbauan ini baik dari sanak keluarga, kerabat, teman-teman atau broadcast-broadcast pada grup chat.

Saat sedang sibuk dengan berbagai himbauan yang silih berganti masuk itu, saya merasa kehilangan sesuatu. Saya kehilangan kesadaran bahwa kematian tak akan dapat kita hindari meski berlapis-lapis tebalnya benteng yang melindungi kita. Saya kehilangan kesadaran bahwa Allah Maha Berkehendak atas segala nasib manusia. Saya dan mungkin sebagian orang sibuk untuk tetap siaga menuruti himbauan-himbauan itu untuk menyelamatkan diri kami. Dengan tanpa sadar melupakan bahwa hakikatnya kematian itu sudah sedari dulu menempel di balik punggung. Sedekat itu.

Semoga usaha-usaha saya untuk menyelamatkan diri itu bukan bentuk rasa takut pada kematian. Menjaga keselamatan diri adalah fitrah naluriah manusia dan Islam sangat mengutamakan keterjagaan jiwa dan raga manusia. Tapi takut dengan kematian adalah hal yang berbeda. Sejenak setelah mengetahui kejadian di Sarinah itu timbul perasaan was-was pada diri saya seandainya yang tercatat ajalnya pada hari itu adalah saya. Saya semacam khawatir dan tidak percaya diri dengan bekal yang akan saya bawa ketika menghadapinya. Ternyata saya masih belum siap menemui kematian.

Saya pernah mendengar salah seorang Ustadz mengatakan bahwa sesungguhnya hanya orang-orang yang tidak siap bertemu Allah dan pengadilanNya yang akan merasakan takut menghadapi kematian. Karena dia tahu bahwa tak banyak kebaikan yang dimilikinya, sedangkan keburukannya bertumpuk-tumpuk. Seorang mukmin yang bersih jiwanya, tertib amal shalihnya, dan indah akhlaknya tak akan takut menghadapi kematian. Justru wirid (rutinitas)-nya setiap pagi dan petang adalah berharap mendapatkan kematian dengan cara yang baik.

Imam Syafi’i dalam salah satu ujarannya yang terkenal pernah mengakatan bahwa yang paling dekat dengan manusia adalah kematian. Mungkin karena saking dekatnya sampai terkadang manusia tak menyadarinya.

Allah…

Saya rindu dengan himbauan-himbauan yang tak hanya mengajak untuk menyelamatkan diri, tapi juga yang membangkitkan kesadaran bahwa hanya kepada Allah-lah kita memohon keselamatan.

Saya rindu dengan nasihat-nasihat yang tak hanya menganjurkan untuk berusaha, tapi juga yang membentangkan ketenangan dengan teduhnya tawakkal.

Saya rindu mengisi hari-hari dengan gemerlap amal shalih, keteraturan ubudiyah, serta tertibnya wirid-wirid nawafil yang menanamkan rasa tenang dan kepasrahan.

Saya rindu untuk senantiasa mengingatMu di setiap nafas ya Rabb, untuk setiap waktu merindukan perjumpaan yang indah denganMu, untuk selalu bergantung kepadaMu atas segala sesuatu.

Ya Rabb, matikan hamba dengan kematian yang baik.

* * *

Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al Jumuah: 8)

Diceritakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallu alaihi bersabda:
Barangsiapa menyukai bertemu Allah, maka Allah juga senang berjumpa dengannya.Sebaliknya, siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun enggan berjumpa dengannya.”(HR Muslim 4847 dan yang lain)

Rasulullah shallu alaihi bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemusnah segala kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu.” (HR Ath Thabrani & Al Hakim)

Kapal Besar itu Bernama Tawakkal

Apa yang akan terjadi pada Nuh -alaihissalam- dan pengikutnya yang tak begitu banyak itu jika saja ia tidak memenuhi perintah Rabb-nya untuk membuat kapal di atas tanah yang tinggi jauh dari perairan? Akal sehat mana yang bisa membenarkan apa yang dikerjakan Nuh dengan kapal diatas gunung itu?

Semoga Allah merahmati Nuh dan para pengikutnya yang beriman lagi shalih. Ia telah mengajarkan kami makna yang benar tentang bertawakkal kepada Allah. Kapal besar yang ia bangun, yang menyelamatkan kaum beriman dan makhluk Allah yang lain dari azab Allah, adalah bentuk perwujudan tawakkal tertinggi seorang hamba kepada Rabb-nya. Hampir-hampir saja berkurang kadar tawakkalnya tatkala ia mengadu pada Rabb-nya atas anak lelaki yang dicintainya, yang ditenggelamkan oleh Allah bersama orang-orang kafir lainnya. Nuh mengadu kepada Rabb-nya:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Huud : 45)

Rabb-nya membalas peraduannya, Ia berfirman:
“Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya perbuatannya tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu agar kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Huud : 46)

Amat tegas jawaban Allah atas peraduan Nuh. Peraduan seorang bapak atas anak yang disayanginya. Tapi Allah lebih menyayangi utusan-Nya daripada rasa sayang makhluk kepada sesamanya. Nuh pun kembali kepada kesadaran tawakkalnya yang tinggi. Ia menyadari teguran Rabb-nya:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Dan sekiranya Engkau tidak memberikan ampun kepadaku, serta menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Huud : 47)

Semoga Allah merahmati Nuh dan para pengikutnya. Sungguh ia termasuk orang-orang yang tinggi tawakkalnya kepada Allah.

– – –

Tawakkal, ujar Ibnul Qayyim rahimahullah -ketika menjelaskan tempat-tempat persinggahan hamba yang beribadah dan memohon pertolongan pada Allah semata (iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in)-, adalah tempat persinggahan yang paling luas dan menyeluruh, yang senantiasa ramai ditempati orang-orang yang singgah disana. Karena luasnya dan keumuman kaitan tawakkal, yang bisa disinggahi orang-orang mukmin dan juga orang-orang kafir, orang baik dan orang jahat, termasuk juga burung dan hewan-hewan lainnya. Semua yang ada di bumi bertawakkal kepada Allah. Entah tawakkalnya dalam kebaikan atau keburukan, dalam memenuhi kebutuhan hidup atau menuruti keserakahan, atau dalam menolong agama Allah atau bermaksiat kepada Allah.

Tawakkal seorang mukmin, berbeda dengan tawakkal umum dan naluriah makhluk. Tawakkal seorang mukmin berangkat dari keimanan yang meniscayakan pengesaannya kepada Allah. Ia memahami bahwa hanya kepada Allah tempatnya untuk bergantung dan menyandarkan segala urusan. Ia mengenal Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan dan nama-nama yang mulia. Yang dengannya ia merasa aman dan tidak membutuhkan lagi yang selain dari-Nya. Kesadarannya akan hal itu membuatnya berserah diri hanya pada Allah, dan menyandarkan semua urusan serta menggantungkan semua harapan kepada-Nya.

Seperti itu pulalah Nuh bertawakkal kepada Allah diatas kapal besarnya. “Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Huud: 41).

Dimana kapal besar tawakkal kita saat Allah menguji dengan ujian yang membuat lemas tubuh kita, menguras pikiran kita, bahkan mengguncang perasaan kita?

Dimana kapal besar tawakkal kita saat apa yang kita usahakan dengan keras lagi berpayah-payahan Allah takdirkan kegagalan atasnya?

Dimana kapal besar tawakkal kita saat tangan dan mulut kita lebih ringan meminta pertolongan dan mengadu nasib kepada saudara, rekan, karib dan makhluk lainnya, sedangkan Allah sebaik-baik tempat bergantung dan meminta pertolongan?

Sesungguhnya kapal besar yang menyelamatkan Nuh dan pengikutnya adalah ketawakkalan mereka kepada kehendak Allah. Seandainya mereka tidak bertawakkal kepada Allah, niscaya sebesar dan setangguh apapun kapal besar yang mereka bangun tak akan mampu menghalangi mereka dari azab dan ketetapan Allah. Kapal besar itu adalah tawakkal.

Lalu dimana kapal besar tawakkal kita?

“Banyak orang bertawakkal tapi tertipu dengan tawakkalnya,” ujar Ibnul Qayyim. Seperti orang-orang yang sibuk dengan sebab (usaha), dan rasa takut atas kegagalan. Mereka mengira usahanya yang berpayah-payah adalah sebab paling utama atas hasil yang diinginkan. Sikap ini menghalanginya dari tawakkal yang benar kepada Allah. Seperti juga orang-orang yang menyia-nyiakan dan bersantai-santai tidak mau memikul beban. Mereka meninggalkan sebab (usaha) karena mereka mengira hal itu akan mengurangi rasa tawakkalnya pada Allah. Jadilah mereka mengarungi gurun dengan tanpa membawa perbekalan dan persediaan air. Semua itu mereka gantungkan pada Allah. Sikap ini adalah ketergelinciran dalam memahami hakikat tawakkal yang benar.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pada hakikatnya, tawakkal merupakan keadaan yang terrangkai dari berbagai perkara. Yang hakikatnya tidak bisa sempurna kecuali dengan seluruh rangkaiannya. Semuanya berkaitan dan mengisyaratkan pada selainnya. Perkara-perkara itu adalah:

1. Mengetahui dan mengenal Allah, sifat, kekuasaan, kecukupan, keesaan, dan kembalinya segala urusan kepada ilmu-Nya, dan yang terjadi atas kehendak dan kekuasaan-Nya. Ini merupakan derajat pertama yang menjadi pijakan kaki hamba saat berada di tempat persinggahan tawakkal.

2. Menetapkan sebab dan akibat. Siapa yang meniadakan hal ini, berarti ada yang tidak beres dengan tawakkalnya. Ini kebalikan dari pendapat yang mengatakan bahwa menetapkan sebab bisa menodai tawakkal dan meniadakan sebab merupakan kesempurnaan tawakkal. Ketahuilah bahwa tawakkal dengan meniadakan sebab tidak akan benar sama sekali. Karena tawakkal termasuk sebab yang paling kuat untuk mendapatkan apa yang ditawakkali. Tawakkal ini seperti doa yang dijadikan Allah sebagai sebab untuk mendapatkan apa yang diminta dalam doa itu.

3. Memantapkan hati pada pijakan tauhid. Tawakkal seorang hamba tidak dianggap benar jika tauhidnya tidak benar. Bahlan hakikat tawakkal adalah tauhidnya hati. Selagi di dalam hati masih ada kaitan-kaitan syirik, maka tawakkalnya cacat. Seberapa jauh kemurnian tauhid, maka sejauh itu pula kebenaran tawakkalnya.

4. Menyandarkan hati kepada Allah dan merasa tenang karena bergantung kepada-Nya, sehingga di dalam hati itu tidak ada kegelisahan karena godaan sebab dan tidak merasa tenang karena bergantung kepadanya.

5. Berbaik sangka terhadap Allah. Sebarap jauh baik-sangkamu terhadap Allah, maka sejauh itu pula tawakkalmu kepada-Nya.

6. Ketundukan dan kepasrahan hati kepada Allah serta memotong seluruh perintangnya. Inilah makna sebagian orang, bahwa tawakkal adalah membebaskan diri dari pengaturan atau menyerahkan pengaturan kepada Allah sebaik-baik pengatur.

7. Pasrah. Ini merupakan ruh tawakkal, inti dan hakikatnya, yaitu menyerahkan semua urusannya kepada Allah, tanpa menuntut dan menentukan pilihan, bukan merasa dipaksa dan terpaksa.

Jika seorang hamba telah mencapai derajat ini, maka ia akan beralih ke derajat lain, yaitu ridha, yang merupakan buah dari tawakkal.

– – –

Radhitubillahi rabban, wabil islami diinan, wabimuhammadin nabiyyan warasulan.

Kami ridha kepadaMu ya Allah sebagai Rabb kami, yang memelihara dan mengatur semua urusan kami,
dan kami ridha islam sebagai agama kami,
dan kami ridha nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul kami, contoh dan teladan terbaik bagi kami.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Diilmui dari Surah Huud dan Kitab Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah.

I

Save the Best For the Last

source: freepik.com
source: freepik.com

Saya kerap dianggap aneh oleh beberapa kawan karena cara makan saya yang berbeda dari kebanyakan. Jika kebanyakan orang makan antara nasi dan lauk secara bersamaan atau simultan bergantian, saya akan memakan dulu nasi dengan sedikit cuilan lauk. Hingga ketika nasi sudah habis, tinggallah yang terakhir lauk yang masih cukup utuh untuk dimakan selanjutnya. Atau ketika makan bubur ayam, selain tak mengaduk-campur semangkuk bubur ayam itu, saya pun akan menyisihkan irisan-irisan daging ayam ke pinggiran mangkuk untuk dimakan secara terpisah setelah bubur habis.

Kalau ditanya mengapa, sebenarnya tak ada alasan khusus mengapa cara makan saya seperti itu. Karena hal ini sudah menjadi kebiasaan yang saya lakukan sejak kecil. Saya pun tak tahu mengapa saat kecil saya melakukan cara makan seperti ini. Mungkin alasan paling logis yang bisa saya buat-buat untuk menjawab pertanyaan ini adalah, karena saya ingin menikmati bagian paling baik atau paling enak dari makanan di saat akhir tanpa terganggu dengan rasa-rasa bagian makanan yang lain. Jadi dengan merasakan yang paling enak tepat sebelum makanan habis, saya akan mendapatkan impresi yang baik dan kepuasan atas makanan tersebut.

Save the best for the last. Ternyata ungkapan ini banyak diterapkan dalam berbagai latar profesi dan aktivitas. Saya dulu pernah menonton pertunjukan sirkus eskimo di televisi. Sirkus tersebut menampilkan berbagai atraksi yang fantastis dan mengundang decak kagum pada kebanyakan penonton. Tapi yang paling saya ingat, tepuk tangan paling riuh, teriakan paling sorai, dan mata-mata yang paling membelalak adalah saat penampilan mutakhir yang ditampilkan oleh para performer sirkus tersebut. Penampilan terakhir itu begitu luar biasa dan memang yang paling bagus diantara para penampilan-penampilan lainnya. Dan pada akhirnya hasil yang diperoleh pun layak, impresi yang luar biasa dari para penonton.

Saya kira sebagaimana para pesirkus atau pesulap, semua profesi terutama yang berhubungan dengan panggung dan giving-something-to-people juga akan sedikit banyak memikirkan untuk mempersembahkan yang terbaik di akhir sesi penampilan. Public Speaker tentunya juga seperti ini. Dari seminar-seminar atau acara yang menghadirkan public speaker, trainer, atau motivator yang pernah saya ikuti juga saya kira memiliki hal ini. Mereka akan memberikan performance yang paling baik untuk menciptakan impresi kepada khalayak yang mendengar atau melihat mereka. Bisa mungkin berupa sebuah sesi ice breaking atau simulasi yang fantastis. Atau membacakan sebuah kutipan entah dari orang lain atau buatannya sendiri yang diucapkan secara dramatis dan mempesona. Atau mungkin juga sebuah sesi kontemplasi yang khidmat dengan iringan suara latar yang mencipta suasana penuh haru biru.

Tapi ada satu hal yang saya dapat dari sedikit memikirkan tentang hal ini. Tentunya saya memikirkan ini secara lepas, dengan tanpa teori atau ilmu yang bisa didasari. Bahwa kehebatan penampilan terakhir itu sedikit banyak adalah akumulasi dari kehebatan-kehebatan penampilan sebelumnya yang menemukan puncaknya di akhir penampilan. Jadilah penampilan itu sepaket penampilan mengagumkan yang membuat orang mengingat-ingatnya cukup lama. Artinya bahwa, seorang performer bisa memberikan penampilan terbaik di akhir penampilan dengan memastikan bahwa penampilan-penampilan sebelumnya juga baik atau setidaknya memenuhi ekspektasi yang dia tentukan sendiri.

Karena tentunya, dari kacamata penonton, tidak mungkin penampilan akhir yang fantastis akan dihargai jika penampilan-penampilan sebelumnya tidak cukup baik atau bahkan buruk. Penonton tidak mungkin tiba-tiba bertepuk tangan dengan gemuruh atau bersorak sorai di penampilan akhir yang mempesona jika sebelumnya tidak didahului dengan penampilan-penampilan yang juga mengagumkan. Maka tepuk tangan yang gemuruh, teriakan-teriakan yang sorai, serta mata-mata yang membelalak itu sebenarnya adalah akumulasi kekaguman sejak awal yang akhirnya menemui puncaknya di penghujung penampilan. Mengkin seperti itu teori impresi (setidaknya yang saya pahami, hehe). Maka seorang pesirkus, atau penampil panggung lainnya, ketika mereka memikirkan sebuah format penampilan terbaik di akhir pertunjukan, mau tidak mau mereka juga akan memikirkan dan mengusahakan bagaimana penampilan-penampilan sebelumnya juga tidak mengecewakan.

Lalu pada akhirnya berbilang-bilang usia hidup kita ini tak ubahnya seperti pesirkus yang sedang menyuguhkan atraksi terbaiknya. Tiap hari demi harinya seperti sesi-sesi pertunjukan yang berkesinambungan. Sesi satu selesai, dilanjutkan sesi dua keesokan harinya. Begitu seterusnya, 365 sesi dalam setahun. Dan (mungkin) masih bertahun-tahun lagi pertunjukan ini masih berlanjut. Mampukah kita mempersembahkan yang terbaik di akhir penampilan nantinya. Jikapun bisa, apakah penampilan terbaik itu akan dihargai sedangkan sebelum-sebelumnya tak terhitung pula berapa kali penampilan kita yang mengecewakan.

Semoga belum terlambat bagi kita untuk memberikan penampilan-penampilan yang baik. Hingga pada saatnya datang, penampilan-penampilan baik itu menemui puncaknya dengan persembahan paling baik, paling murni, paling suci, dan paling membanggakan kelak. Save the Best For the Last.

“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau yang telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian dengan-Mu, dan pada janji-Mu, aku akan berusaha selalu taat kepada-Mu, sekuat tenagaku Ya Allah. Aku berlindung kepada-Mu, dari keburukan yg kuperbuat. Kuakui segala nikmat yang Engkau berikan padaku, dan kuakui pula keburukan-keburukan dan dosa-dosaku. Maka ampunilah aku ya Allah. Sesungguhnya tak ada yg mampu mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Sayyid Istighfar)

 

Allahu yarham, Ustadz Pepeng ‘Jari-Jari’

BEGITU INDAH CARA ALLAH MENCINTAIMU
(Untuk ayahanda, ustad, seniman, Mas Pepeng)

Sungguh indah cara Allah mencintaimu
Ia menghadirkanmu ke dunia
lewat rahim seorang ibu yang bersahaja,
dan kekal dengan tawakkal
Ibu yang menjadikan anak sebagai sahabat,
guru dan matahari
ibu yang sanggup hadirkan
sosok dan petuah ayah yang tiada lewat cerita

Betapa indah cara Allah mencintaimu
Ia beri sifat jenaka yang menjadikanmu
sang penghibur dalam segala musim dan cuaca
Maka tawa yang kau cipta
membuat hidup sekitar lebih bermakna

Allah mencintaimu
Ia beri ketinggian nalar dalam mencerna
Kau pun masuk ke dalam bukubuku tanpa pretensi
dan selalu kembali sebagai orang yang mengerti
dan memberi pengertian

Begitu indah cara Allah mencintaimu
Ia anugerahkan ketenaran nan memancar
agar berlimpah rizkimu,
agar tiap orang mengenal sosokmu
hingga ke jarijari mereka

Lalu tiba saat yang tak akan pernah kau lupakan itu
Ketika Allah memberi sakit yang mengiris iris
perih dan nyaris membuatmu tak berdaya
:multiple sclerosis
Mengapa?
Mengapa saya?
Mengapa tidak?
Pertanyaan-pertanyaan yang kau jawab sendiri
Di dalam kamar putih lengang pasi

Mungkinkah dalam sakit
ada sesuatu yang lebih berharga
dari yang pernah dikira manusia?

Begitulah. Kau sakit
Namun dalam sakitmu yang divonis langka,
parah dan menahun
kau menjelma orang yang membaca lebih banyak
Kau mengamati lebih detail,
merasakan lebih dalam
bersabar tanpa lagi kenal tepi
meski kau hanya bisa terbaring

Namun begitulah cara Allah mencintaimu
Dalam sakit Ia bahkan menjadikanmu
lebih banyak jalin silaturahim.
Orang berbondong bondong mengunjungimu
untuk berbagai alasan
Mereka ingin menghibur namun mereka yang kau hibur
Mereka ingin menyemangati, namun mereka yang tersemangati
Mereka ingin memberi informasi tentang dokter, tabib dan obat
bagi penyakitmu
tapi kau menjelma penyembuh paling mujarab
bagi jiwa-jiwa yang lalai, luka, dan hampa syukur
Bahkan di antara berbagai suntikan,
luka-luka nganga, darah dan nanah
kau masih sempat berpikir
tentang keadaan sekitar
tentang bagaimana memberdayakan masyarakat
negeri ini dan mencari cara menghapus lara mereka
Allah telah memberimu daya
yang membuat kami terperangah
Maka percikpercik cahaya kisahmu pun
menjelma inspirasi tanpa batas

Begitulah cara Allah mencintaimu
dengan menguji dan mengasahmu hingga kilau
sampai tiba masa berjumpa kelak
tapi yang pasti, seperti katamu,
“Sebelum ajal pantang mati!”

Maka duhai,
betapa indah cara Allah mencintaimu
Dia karuniakan empat Mohammad
sebagai cahaya mata dan sukma
Dan untuk menjagamu selamanya
Ia tak kirimkan pendamping
dari kalangan biasa
tetapi seorang bidadari
yang dalam dirinya berpadu
ketulusan Maryam
serta cinta dan kecerdasan Aisyah
Bidadari yang tertidur setelah yakin kau lelap
dan bangun sebelum kau terjaga
diselimutinya kau dengan doadoa
yang tak henti getarkan langit

Begitu Indah cara Allah mencintaimu
Begitu indah…sampai di airmataku

(Helvy Tiana Rosa, Perjalanan Rawamangun-Depok, 26 November 2014)

————————–
Mas Pepeng ‘jari-jari’, wafat hari ini 17 Rajab 1436h / 6 Mei 2015.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu

View on Path

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gelas di Tepi Meja

Saya termasuk orang yang suka dengan kucing. Tapi saya ‘tidak lagi’ memelihara kucing. Dengan ‘tidak lagi’ ini berarti saya dulu pernah memeliharanya. Hampir banyak sampai pernah ada tujuh kucing di tempat tinggal saya. Berawal dari seekor kucing betina yang ditemukan ibu diam-diam bersembunyi dibalik kayu-kayu berantakan sisa pekerjaan ayah. Kucing itu akan melahirkan tak lama lagi. Akhirnya kami pun menata tempat persembunyiannya supaya cukup nyaman saat nantinya si kucing melahirkan. Kemudian lahirlah tiga kucing, satu jantan dan dua betina. Salah satu betina nantinya akan melahirkan tiga kucing lagi. Jadilah ada tujuh kucing yang pernah tinggal di rumah saya.

Beberapa waktu lalu saya membuka salah satu website meme dan melihat komik strip tentang kucing. Komik strip itu bercerita tentang salah satu kelakuan menyebalkan kucing. Ketika ada gelas diatas meja, entah bagaimana sebagian besar kucing akan tertarik dengannya. Mencolek-colek seperti penasaran. Lalu ketika colekan-colekan itu mendorong gelas sampai ke tepian meja, colekan selanjutnya adalah yang paling seru. Kita semua tahu bagaimana nasib si gelas setelah colekan itu. Jatuh kemudian pecah. Atau mungkin tidak pecah karena terbuat dari bahan yang tidak pecah belah, hanya menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.

Saya sempat terpikirkan hal ini cukup lama. Bukan tentang kelakuan si kucing. Tapi pikiran saya lebih tertarik pada gelas dan nasibnya. Semakin lama saya bayangkan tentang gelas itu, semakin saya temukan diri saya sama seperti gelas itu. Gelas yang berada persis di tepi meja. Terlihat aman karena posisinya di atas meja, tapi sebenarnya rapuh. Dengan guncangan atau dorongan sedikit saja dia akan jatuh. Terlepas apakah gelas tersebut pecah atau tidak ketika jatuh, faktanya dia tetap jatuh.

Seringkali lintasan peristiwa dalam kehidupan dan keseharian saya tak ubahnya seperti gelas di tepi meja. Mungkin anda juga pernah mengalaminya, meski tidak sesering saya. Berapa banyak kubangan maksiat yang telah saya ceburi? Berapa sering perangkap dosa yang sama berhasil menjebak saya? Pertanyaan-pertanyaan yang selalu tak bisa saya tentukan berapa angka untuk menjawabnya. Bahkan menyebutkan satu saja pun malu. Maksiat yang berkali-kali, dosa yang berulang-ulang, kelalaian yang kerap, membuat saya tak ubahnya seperti gelas di tepi meja. Yang ketika jatuh diletakkan lagi di tepi meja. Jatuh lagi. Diletakkan lagi di tepi meja. Begitu seterusnya. Sedangkan bagian tengah meja tetap saja luas lapang tak terisi apa-apa. Tapi gelas itu selalu saja memilih berada di tepi meja.

Saya jadi membayangkan, jika iman kita adalah sebentuk gelas kaca. Saat ia jatuh dan pecah berkeping, akan sangat susah untuk mengembalikannya seperti sedia kala. Pasti ada satu serpihan kecil yang tidak akan kita temukan meski kita cari kesana kemari. Akhirnya jadilah gelas tambalan itu kehilangan sebagian kecil dari dirinya. Lalu saat ia jatuh lagi untuk kedua kalinya dan seterusnya, akan ada lagi satu demi satu serpihan kecil yang hilang. Lalu akan seperti apa yang tersisa dari gelas tambalan saya hari ini?

Ada yang salah jika gelas ada di tepi meja. Sementara bagian tengah meja masih luas lapang tak terisi apa-apa. Seperti juga ada yang salah dengan diri ini, ketika ia terus-menerus melakukan kesalahan yang sama. Kita mungkin bisa langsung bertaubat setelah melakukan kesalahan. Tapi setelah itu kita tetap terpeleset pada kesalahan yang sama. Selalu seperti itu. Karena keimanan kita berada di pinggiran penjagaanNya. Atau lebih tepatnya, kita menempatkan keimanan kita di pinggiran penjagaanNya. Dengan sombong merasa nyaman di sana dan tak mau bergerak ke tengah-tengah penjagaanNya. Sementara di tengah sana terbuka lebar dan lapang untuk kita tempati.

Pertanyaannya, mengapa ia tak mau bergerak ke tengah, sementara setiap kali dia berada di tepi, dia sadar suatu saat akan mudah baginya untuk terjatuh (lagi)? Jangan menanyakannya pada saya, karena saya juga masih mencari jawabannya dan belum (benar-benar) mendapatkannya sampai sekarang. Atau mungkin saya pernah mendapatkannya tetapi kemudian dengan sengaja saya buang begitu saja. Saya tidak tahu. Tapi jika kalian temukan jawabannya, sudilah berbagi dengan saya. Yang saya tahu hanya bahwa Allah adalah sebaik-baik pemaaf dan pengampunanNya seluas langit dan bumi.

Dan tentang iman yang sebentuk gelas kaca itu, ternyata Ia tidak meminta kita susah-payah menambalnya ketika jatuh dan pecah. Lewat lisan utusanNya, Ia menyuruh kita, “Perbaruilah imanmu!” (HR Ahmad dan Al Hakim). Duhai, Dia amat tahu kegundahan saya. Dengan gelas yang baru maka tak perlulah khawatir akan satu serpihan kecil yang susah ditemukan itu. Mungkin saya dan kalian bisa memulai mencari jawaban dari sana. Dengan meminta kepada Pemilik Hati ini sebentuk iman yang baru, segenggam hati yang baru, sebaru saat ia pertama kali diciptakan lalu dengan tanpa ragu mengiyakan sumpah ketaatan kepada Pemiliknya.

Kita akan memulainya dari sana. Dari gelas-gelas kaca yang baru. Yang enggan untuk lagi-lagi diletakkan di tepian meja. Yang enggan untuk lagi-lagi harus terjatuh dan pecah.

Mencari Sebentuk Keberkahan dari Saat-Saat yang Menyulitkan

Barakallahu laka, wabaraka alaika, wajama’a bainakuma fi khair.

Begitulah doa pernikahan yang diajarkan oleh Rasulullah. Para pemuda-pemudi yang belum menikah pasti menghafal erat-erat doa ini, dan disampaikan dengan penuh bahagia bercampur sedih kepada teman-teman senasibnya yang satu persatu mulai menikah. Dalam hatinya pun selalu terselip harap suatu saat doa ini juga akan diucapkan oleh orang-orang kepadanya, yang menandakan bahwa saat itu dia sudah menikah. Semoga Allah merahmati dan mengasihi selalu orang-orang lajang ini yang satu persatu teman-teman senasibnya mulai meninggalkannya dalam pernikahan. Amin.

Kita tak akan membicarakan tentang derita hidup orang-orang lajang. Biarkan itu jadi urusan mereka dengan Allah. Saya lebih tertarik dengan pembahasan atas doa pernikahan di atas. Sebagian kita mungkin pernah atau sering bertanya mengapa doa keberkahan-‘baraka’- diucapkan dua kali. ‘Laka’-bagimu dan ‘alaika’-atasmu.

Senin malam lalu dalam Kajian Tauhid-nya di masjid Bank Indonesia, Aa Gym menjelaskan (lagi) tentang maksud doa keberkahan yang diucap dua kali dalam doa pernikahan tersebut, sambil sebelumnya menyindir-nyindir para jamaah lajang kapan mereka akan mengakhiri episode penuh derita itu. Maknanya adalah hal itu menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan pernikahan bumbu-bumbunya tak akan selalu sedap semerbak. Dalam pernikahan, cuacanya tak akan selalu cerah benderang. Maka terseliplah doa, agar pun disaat-saat sulit dalam pernikahan nanti, semoga masih ada keberkahan yang dapat dicecapi disana.

‘Laka’ dalam konteks bahasanya, mengacu pada hal-hal yang baik. Sedangkan ‘alaika’ mengacu pada hal-hal yang buruk. Seperti kita dapati dalam doa sapaan ‘Assalamu alaikum’, yang bermakna semoga keselamatan bagimu dari hal-hal yang buruk. Maka tersebab begitu agungnya perkara pernikahan, ia tak didoakan dengan doa keberkahan sekali saja, melainkan dua kali. Semoga ada keberkahan yang tercecap dari saat-saat indah dan bahagia dalam pernikahan. Dan ketika masa-masa sulit dan kelabu menyapa bahtera pernikahan, kita tak lupa untuk senantiasa mencari sejumput keberkahan darinya.

Maknanya bahwa, berkah itu tak hanya berasal dari kecukupan rizqi, kebahagiaan, kelapangan, dan hal-hal baik lainnya. Tapi sesungguhnya berkah juga kawan dari kesusahan. Ia adalah sahabat karib dari kesulitan dan penderitaan. Berapa banyak orang yang tersebab lilitan hutang yang mencekik, menjadi rajin shalat dhuha dan sering berdoa kepada Allah. Berapa banyak orang tua yang karena anak-anaknya nakal dan buruk akhlaknya, menjadi rajin bangun bertahajjud dan mendoakan kebaikan dan keinsyafan bagi anak-anaknya. Berapa banyak lulusan sarjana yang karena lama tak diterima di perusahaan, menjadi bulat tekadnya untuk mengetuk rizqi dari pintu-pintu wirausaha. Dan mungkin juga ada diantara para suami yang menjadi sering I’tikaf di masjid, karena tak diijinkan masuk rumah oleh istrinya yang sedang naik pitam (hehe).

Kita sering terlalu sibuk untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang lazim atau yang terlihat bentuk fisiknya. Hingga kita lupa bahwa hal-hal sepele pun bisa menjadi sumber-sumber keberkahan yang berlimpah. Saat kita diperlakukan dengan tidak baik oleh orang lain, kita sibuk untuk melakukan pembelaan dan pembenaran. Memang hal tersebut tidaklah salah. Tapi yang sering adalah kita lupa untuk melihat ke dalam diri kita tentang perlakuan-perlakuan tidak baik yang mungkin pernah kita lakukan pada orang lain.

Ada seorang suami yang di suatu pagi di kantornya tiba-tiba dimarahi oleh atasannya dan dicerca habis-habisan. Padahal dia merasa tidak melakukan kesalahan yang dituduhkan. Tapi di tengah hujan cercaan dan kemarahan atasannya itu, dia menyadari sesuatu. Cara dan gaya atasannya saat memarahinya mirip sekali dengan apa yang tadi malam dilakukannya pada istrinya. Ah, dia sadar. Ternyata Allah sedang menegurnya. Maka dia hanya membalas kemarahan atasannya dengan anggukan dan senyuman. Tak lama akhirnya diketahui kalau kemarahan atasannya itu salah alamat. Tapi karena sebelumnya si suami ini telah ridha, maka ia tak ambil pusing. Padahal bisa saja dan bahkan dibenarkan baginya jika dia ingin menuntut balas atas perlakuan tersebut.

Karena terkadang, masalah dan kesulitan yang kita hadapi bisa saja buah dari perbuatan buruk yang pernah kita lakukan sebelumnya (An Nisa’ : 79). Ketika kita diperlakukan buruk oleh orang lain, mungkin saja itu buah atas perlakuan buruk kita dahulu, entah pada orang yang sedang berlaku buruk pada kita, atau pada orang lainnya. Maka tak ada ruginya mengakui kekurangan diri terlebih dahulu ketika mendapat masalah, sebelum mencari solusi permasalahannya. Karena sumber pemecahan masalah itu ada pada ketenangan, dan sumber ketenangan itu ada pada perasaan merasa rendah dihadapan Yang Maha Tinggi.

Bahagia itu sederhana. Begitu kalimat yang sering diucapkan orang-orang di berbagai jejaring sosial. Jika yang dimaksud bahagia itu keberkahan yang membuat hati tenang dan tentram dalam kondisi apapun, ya memang benarlah kalimat ‘bahagia itu sederhana’. Bahkan pada perkara-perkara yang tidak membahagiakan, kita masih bisa berbahagia. Kuncinya, kata Aa Gym, adalah Ridha. Ridha dengan semua ketentuan dan perlakuan Allah yang Maha Mengatur Segala Urusan kepada kita. Jika ridha telah menjadi kebiasaan kita, maka tak ada kesusahan yang benar-benar susah. Tak ada lagi kesulitan yang benar-benar sulit. Karena dengan ridha ini, kita tak menyisakan siapapun atau apapun antara diri kita dengan Allah.

Karena akan lelah. Benar-benar melelahkan. Kalau setiap menemui kesulitan, kita sibuk kesana-kemari mencari solusi pada keluarga, teman, kolega, atau atasan yang belum tentu punya solusi atas kesulitan kita. tapi jika Allah sudah ada di tempat pertama yang tak ada lagi pemisah antar kita denganNya, tak ada kesulitan yang benar-benar sulit bagi Allah. Dan yang tersisa adalah ikhtiar kita yang dilimpahi keberkahan oleh Allah.

Maka keberkahan dari Allah semoga terlimpah bagimu dan atasmu, kakakku tercinta Rizki Wicaksana, di saat-saat bahagia maupun saat-saat tersulit nantinya ketika kau mengarungi samudera kehidupan dengan bahtera pernikahanmu.