Jalan Menuntut Ilmu: Panduan Ringkas dari Awam untuk Awam (2)

(lanjutan yang cukup lama tertunda dari bagian pertamanya (klik disini) beberapa waktu lalu)

* * * * *

Bismillahirrahmanirrahim.

Jadi saya akan coba jabarkan sesuai runutan urgensi keilmuan yang perlu dipelajari oleh awam. Mana-mana disiplin keilmuan yang bersifat penting (dharuriyah) dan perlu dipelajari terlebih dulu. Serta bagaimana cara mendapatkannya dan buku-buku apa yang bisa digunakan sebagai penunjang.

Sebenarnya dewasa ini sudah banyak lembaga atau institusi yang menyediakan sarana bagi masyarakat awam untuk belajar agama. Setidaknya secara primordial bisa kita temukan di pengajian-pengajian masjid atau pesantren-pesantren. Selain itu ada dari lembaga-lembaga dakwah dan institusi-institusi pendidikan lainnya. Akhirnya kembali kepada diri kita sendiri apakah mau memanfaat semua kesempatan itu. Mungkin yang lebih banyak saya bagikan adalah preferensi buku-buku atau sumber bacaan yang cocok untuk dijadikan sarana penunjang pembelajaran.

1. Islamic Worldview

Jujur ini memang yang paling penting pertama kali. Istilah ini memang lebih populer di kalangan pengkaji pemikiran dan peradaban Islam. Tapi sebagaimana makna praktis yang telah saya sertakan di atas, peran ‘Islamic Worldview’ sangatlah vital. Mungkin ia semacam wadah yang nantinya akan digunakan untuk menampung ilmu-ilmu atau pengetahuan yang masuk kepada kita. Maka supaya ilmu-ilmu tersebut bisa dimanfaatkan secara benar, wadah yang menampung ilmu itu haruslah benar pula.

Sebenarnya pembentukan worldview islami ini sudah berlangsung sejak masa kecil. Misalnya melalui pengajaran-pengajaran di TPA. Tetapi itu masih bersifat umum untuk memberikan ‘taste’ keislaman pada kita. Pembentukan yang sebenarnya adalah ketika kita mulai dengan sadar dan inisiatif pribadi untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pembelajaran atau yang bernuansa keislaman. Disana pondasi bangunan Islamic Worldview kita sudah mulai nampak. Tahap selanjutnya adalah membangunnya dengan pemahaman dan ilmu yang benar.

Saya kira proses pembelajaran semacam mentoring di sekolah atau kampus adalah contoh yang cukup ideal sebagai sarana pembentukan Islamic Worldview. Sehingga bagi teman-teman yang masih di usia sekolah atau kuliah, manfaatkanlah fasilitas tersebut. Biasanya diorganisir oleh Rohis atau Lembaga Dakwah Kampus di berbagai institusi pendidikan.

Bagi yang di luar lingkungan sekolah atau kampus, memang agak susah. Meskipun ada berbagai majelis-majelis pengajian, tapi saya kira masih kurang pas untuk fase awal pembentukan Islamic Worldview. Karena kuncinya ada pada pemahaman urgensi keislaman. Dan sejauh pengalaman saya yang paling bisa menjangkau itu adalah kegiatan semacam mentoring atau halaqah. Meskipun ada juga kajian-kajian umum dengan tema serupa dan itu juga bagus untuk diikuti.

Biasanya lingkungan halaqah/mentoring pasca sekolah dan kuliah bisa ditemui di DKM-DKM masjid kantor ataupun lembaga-lembaga keislaman di perusahaan-perusahaan. Ada yang dilakukan secara inklusif untuk umum, ada yang di hanya diperuntukkan bagi pengurus dan anggota aktif saja. Saran saya, jika ingin mengikutinya, cobalah terlebih dulu bergabung dan aktif di DKM-DKM atau Rohis-Rohis di kantor anda.

Yang jelas tahap ini adalah proses untuk menyadari keberislaman kita. Apa saja urgensinya, tuntutan-tuntutannya, serta karakteristik-kareakteristiknya. Hal ini untuk menciptakan ‘celupan’ keislaman pada kepribadian kita, terutama adalah pemikiran kita. Dengannya kemudian membentuk keberpihakan kita terhadap Islam.

Buku yang saya rekomendasikan untuk tahap ini antara lain:

  • Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, penulis: Salim A. Fillah.
  • Kepribadian Muslim, penulis: Dr. Irwan Prayitno. (Buku ini merupakan syarah materi tarbiyah atau mentoring. Bisa dibaca secara mandiri, tapi sebenarnya lebih tepat dikaji melalui saran mentoring)

Tentunya ada banyak buku-buku lainnya yang bisa dijadikan penunjang. Tapi saya sertakan sesuai dengan preferensi dan pengalaman yang memang pernah saya lalui. Dan rekomendasi saya juga tidak akan terlalu banyak, agar tidak terlalu bingung mencerna wawasan dari beragam sumber. Teman-teman masih bisa membaca buku-buku lain tentunya.

2. Aqidah dan Tauhid

Ketika memasuki tahap ini suasana akan menjadi lebih seru. Sejak kecil mungkin kita memahami bahwa Aqidah Islam adalah satu dan perbedaan biasanya ada pada fiqih yaitu dengan adanya empat mazhab fiqih. Sebenarnya ini memang benar. Tetapi memang ada perincian pemahaman yang harus diperoleh disini. Karena pada kenyataannya ketika mempelajari topik Aqidah baik dari internet maupun kajian-kajian kita akan menemukan pertentangan setidaknya pada dua arus utama. Mudahnya saya akan identifikasi dengan nama Aswaja dan Salafi.

Pada kenyataan di lapangan, pembelajaran aqidah dari dua arus utama ini biasanya saling menafikan satu sama lain. Ini memang agak pelik dan butuh pemahaman yang lebih jauh untuk memandang masalah ini secara tepat. Mungkin untuk saat ini saya akan rekomendasikan teman-teman untuk memahami bahwa kedua arus utama itu sama-sama berada pada pondasi aqidah yang sama. Hanya saja perbedaannya berkisar pada penjabaran detil terhadap pokok-pokok aqidah yang sama tersebut. Ini nantinya dapat dipahami setelah mengenal perbedaan antara ushul dan furu’. Saya akan sertakan pula rekomendasi buku untuk memahami kasus ini.

Oleh karena itu, bagi kita yang awam ini, saya akan lebih merekomendasikan untuk mengikuti kajian-kajian yang membahas topik aqidah secara umum, yaitu seputar penjelasan rukun iman dan asmaul husna. Saya rasa ini lebih bermanfaat bagi orang awam seperti kita. Karena seharusnya pembicaraan terkait apa yang diperselisihkan dalam masalah aqidah ini adalah konsumsi mereka yang memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni. Sedangkan kapasitas awam seperti kita apabila ikut terjun dalam pembahasan itu merupakan bentuk kekurang-beradaban kita tersebab kapasitas keilmuan kita kurang mumpuni.

Buku yang saya rekomendasikan untuk topik ini antara lain:

  • Aqidah Islamiyah, penulis: Syaikh Sayyid Sabiq. (Cocok untuk penjabaran ringkas rukun iman)
  • Serial Aqidah dan Rukun Iman, penulis: Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar. (Kitab referensi bagus dan lengkap untuk penjelasan rukun iman. Penjelasannya berimbang dan pertengahan diantara dua arus utama)
  • Risalah Al Aqaid, penulis: Hasan Al Banna. (Merupakan bagian dari kitab Majmu’atur Rasail. Berisi penjelasan seputar perselisihan terhadap beberapa bahasan aqidah. Cocok untuk dipelajari untuk memahami perbedaan yang ada dan bagaimana penyikapan yang benar terhadapnya.)
  • Fiqih Perbedaan Pendapat, penulis: Dr. Yusuf Al Qaradhawi. (Penunjang untuk memahami konsep ushul dan furu’ dalam Islam untuk membantu memahami realitas perbedaan yang ada di tengah umat.)

Buku-buku dalam topik Aqidah sangat banyak beredar di pasaran. Saya sajikan rekomendasi di atas untuk selain membantu teman-teman mendapapatkan pemahaman aqidah yang baik, juga untuk memberikan pencerahan dan penyikapan yang tepat terhadap realita perbedaan dalam beberapa penjelasan aqidah yang apabila teman-teman temui di diskusi internet atau beberapa kajian akan saling menafikan satu sama lainnya. Sedangkan itu bukanlah yang dikehendaki dari ‘Islamic Worldview’ dan bangunan tradisi keilmuan kita.

3. Fiqih Praktis: Ibadah dan Muamalah

Mempelajari fiqih praktis merupakan salah satu urgensi yang tidak boleh dilewatkan terutama bagi orang awam. Karena ini yang menentukan sah tidaknya amalan-amalan kita. Bayangkan seandainya kita sholat selama ini ada syarat sah yang tidak terpenuhi, betapa meruginya kita.

Ilmu fiqih merupakan ilmu yang paling akrab di telinga kita. Selain itu juga kajiannya banyak diadakan di mana-mana. Karena memang kebutuhan terhadap pengetahuan fiqih praktis ini adalah salah satu kebutuhan dasar umat Islam.

Sebenarnya bagi kalangan awam yang paling mendasar adalah mengetahui fiqih secara praktis untuk kebutuhan ibadah dan muamalah. Akan tetapi, bagi kalangan awam yang pembelajar, kebutuhan untuk mengetahui lebih dalam tentang fiqih adalah juga penting. Diantaranya adalah pemahaman tentang perbedaan mazhab fiqih. Ada mazhab Syafiiyah, Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyah. Masing-masing mazhab memiliki wilayah keumuman penggunaan mazhab. Di Indonesia dan sekitar Asia Tenggara ini, mazhab yang umum digunakan adalah mazhab Syafiiyah.

Hal tersebut penting dipahami, karena di zaman saat ini kebutuhan masyarakat untuk terikat pada salah satu mazhab mulai menurun. Dengan adanya kajian perbandingan mazhab, membuat masyarakat terutama masyarakat urban bermudah-mudahan dalam urusan pengamalan fiqih ini. Padahal kajian perbandingan mazhab bukan untuk mengamalkan yang paling mudah.

Sebagian masyarakat kurang memahami bahwa mazhab bukanlah sekumpulan pilihan amalan, tetapi sepaket diskursus yang rapi dan runut untuk menjabarkan dalil dan menentukan hukum-hukum. Maka apabila terlalu sering berganti-ganti pengamalan sesuai yang paling mudah, hal itu malah banyak kemungkinan ketidak-sahan amalan seseorang. Karena setiap mazhab memiliki proses penjabaran yang berbeda-beda. Syarat sah suatu amalan di mazhab A bisa berbeda dengan di mazhab B, maka apabila seseorang telah memenuhi syarat sah amalan di mazhab B, tetapi amalan dilakukan dengan cara mazhab A misalnya, hal ini dikhawatirkan berpengaruh pada keabsahan amalan tersebut.

Karenanya saya rekomendasikan untuk berkomitmen terhadap salah satu mazhab tertentu. Dalam hal ini karena di wilayah kita keumumannya adalah mazhab Syafiiyah, maka lebih baik juga kita menggunakan mazhab Syafiiyah. Apabila kemudian dibutuhkan untuk memilih amalan dari mazhab lainnya tidaklah mengapa, asalkan tidak bertujuan untuk mencari yang paling mudah. Ada banyak buku-buku fiqih praktis yang merangkum dari keempat mazhab dan memberikan tarjih (rekomendasi) yang paling kuat/baik untuk diamalkan.

Buku yang saya rekomendasikan untuk topik ini antara lain:

  • Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i, penulis: Dr. Musthafa Dib Bugha. (Fiqih praktis mazhab Syafiiyah yang menurut saya paling baik penjelasannya)
  • Fiqih Sunnah, penulis: Syaikh Sayyid Sabiq. (Kitab referensi fiqih empat mazhab yang cukup ringkas. Selain itu tarjih penulis lebih cenderung kepada mazhab Syafiiyah, sehingga cocok untuk masyarakat Indonesia)
  • Fiqih Islam wa Adilatuhu, penulis: Dr. Wahbah Az Zuhaili. (Kitab referensi fiqih empat mazhab yang lebih lengkap lagi. Cocok untuk referensi dan koleksi di perpustakaan pribadi. Tentu saja perlu menyiapkan dana lebih banyak)

Tentu saja banyak sekali kitab panduan fiqih praktis yang beredar di pasaran. Berikut diatas adalah beberapa rekomendasi yang sesuai pengalaman saya pribadi.

4. Adab dan Akhlak

Adab dan akhlak adalah bagian penting dari kehidupan seseorang. Beradab dan berakhlak sesuai dengan tuntunan Islam adalah sesuatu yang harus menjadi kepribadian seorang muslim.

Pada pengkategorian ini, sebenarnya yang diharapkan adalah lebih luas dari pada subjudul ‘Adab dan Akhlak’ semata. Sebenarnya adab dan akhlak bisa disebut bagian dari ilmu Ihsan atau Tasawuf atau Tazkiyatun Nufus. Karenanya kita akan sering menemukan beberapa istilah itu (Ihsan, Tasawuf, Tazkiyatun Nufus) dalam pembahasan para ustadz atau ulama. Karena kesemua istilah itu saling beririsan satu sama lainnya.

Selain adab dan akhlak, termasuk disini juga adalah terkait bagaimana menyucikan jiwa, menyempurnakan keberhambaan kita kepada Allah, meraih kenikmatan ibadah, dan memurnikan kecintaan kepada Allah. Semua pembahasan yang terkait dengan hati, karakter, jiwa, kepribadian, gaya hidup dan perilaku sehari-hari, termasuk dalam bahasan disini.

Buku yang saya rekomendasikan untuk topik ini antara lain:

  • Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin, penulis: Imam Al Ghazali. (Ini adalah versi ringkasan dari kitab Ihya’ Ulumuddin yang cukup tebal. RIngkasan ditulis langsung oleh Imam Al Ghazali sendiri.)
  • Tazkiyatun Nafs (Mensucikan Jiwa), penulis Said Hawwa. (Buku ini merupakan pemaparan intisari dari kitab Ihya’ Ulumuddin, dengan penjelasan yang khas dari penulisnya yang lebih sesuai dengan konteks zaman ini karena penulisnya sezaman dengan kita.)
  • Minhajul Abidin, penulis: Imam Al Ghazali. (Buku yang tidak terlalu tebal, berisi pemaparan Imam Al Ghazali terkait tanjakan-tanjakan untuk penyempurnaan ibadah)
  • Madarijus Salikin, penulis: Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah. (Buku ini juga bagus berkaitan dengan penyucian jiwa dan penyempurnaan penghambaan. Akan tetapi beberapa bahasannya akan cukup sulit bagi sebagian teman-teman awam.)
  • Syarah Riyadhus Shalihin, penulis: Dr. Musthafa Dib Bugha dkk. (Riyadhus Shalihin sebenarnya adalah kitab kumpulan hadits adab, akhlak dan amalan-amalan yang ditulis oleh Imam An Nawawi. Sedangkan yang saya cantumkan adalah kitab Syarah (penjelasan) yang ditulis oleh Dr. Mushtafa Dib Bugha dkk. Kitab ini bagus sebagai referensi bagi kita terkait adab dan akhlak.)

Sebenarnya banyak sekali buku-buku yang mengupas tentang implementasi penyucian jiwa dan melatih akhlak dan adab yang baik. Tapi saya kira buku-buku tersebut di atas sudah cukup mewakili sebagai jalan pertama bagi kita yang awam untuk memahami perihal ilmu ini.

* * * * *

Itulah di antara beberapa rekomendasi yang bisa saya berikan dalam permulaan perjalanan menuntut ilmu bagi awam. Sedangkan untuk rekomendasi kajian-kajian ataupun ustadz-ustadz dalam mempelajari keempat poin ilmu diatas sengaja tidak jadi saya tampilkan. Sebenarnya saya berniat menyampaikannya, tapi urung. Di antara alasannya adalah supaya saya tidak menutupi jalan ilmu dari manapun datangnya. Saudara bisa menemukan sendiri berbagai kajian yang bisa diikuti baik di Jakarta (Jabodetabek) maupun di Surabaya. Alhamdulillah banyak kajian yang bisa diikuti setiap pekannya di berbagai tempat. Buah dari semaraknya dakwah oleh berbagai lapisan dan golongan umat Islam.

Tetapi mungkin ada dua hal yang ingin saya tekankan:

  • Jangan bercukup dengan kajian-kajian klasikal dan tematik. Mulailah niatkan untuk rajin dan secara komitmen mengikuti kajian rutin terhadap tema tertentu. Tak perlu banyak-banyak. Satu saja kajian rutin yang diikuti, asalkan rajin dan komitmen itu sudah cukup baik. Ini adalah tradisi keilmuan yang biasa dilakukan umat-umat terdahulu. Dengan mengikuti secara rutin pengajaran dari seorang guru, yang kita dapatkan tak hanya ilmu dari apa yang diajarkan di pengajian tersebut, tapi kita juga bisa mendapatkan hikmah adab, akhlak, dan keberkahan dari menyertai para guru tersebut.
  • Berusahalah selalu untuk tidak menjadi orang yang fanatik dan berpikiran sempit (jumud). Karena beda antara beriltizam mengikuti pendapat tertentu dengan menjadi fanatik terhadap pendapat tertentu. Bagi awam, adalah menjadi anjuran penting untuk beriltizam terhadap pendapat tertentu dalam urusan agama. Karena kita memang tak punya kapasitas untuk menentukan mana pendapat paling benar atau bahkan membuat pendapat sendiri. Tetapi yang harus diingat ketika kita mengikuti pendapat tertentu adalah bahwa pendapat kita bukan satu-satunya pendapat yang ada. Disitu kita harus menghargai pendapat yang diikuti orang lain meskipun berbeda dengan pendapat yang kita ikuti. Tidak menyalahkannya, mencelanya, maupun tidak mengakuinya. Karena haram hukumnya menafikan pendapat lain selama perkara tersebut memang terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama.

Dari empat poin yang saya sebutkan diatas kalau jeli melihatnya, niscaya anda akan menemukan kesesuaiannya terhadap tiga pokok Islam yang disebutkan dalam Hadits Jibril, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Iman, kita pelajari melalui Islamic Worldview dan Aqidah-Tauhid, disana ada pembahasan Rukun Iman yang enam dan pembahasan pokok-pokok keyakinan Islam yang lainnya. Islam, kita pelajari melalui pembahasan Fiqih terhadap segala aktivitas keseharian kita baik yang berupa ibadah mahdhah (khusus), ghairu mahdhah (umum), dan aktivitas muamalah lainnya. Kemudian Ihsan, kita pelajari melalui jalan-jalan hening tasawuf dan lorong-lorong sunyi tazkiyatun nufus, dimana kita mencari hakikat keberhambaan kita kepada Rabb Pencipta Alam Semesta, yang puncaknya jelas disebutkan, “Seakan-akan engkau melihatKu. Jika tak mampu, yakinlah bahwa sesungguhnya Aku melihatmu.”

* * * * *

Ya Allah bimbing kami…

Advertisements

Tips Berburu Buku di Islamic Book Fair

Menjelang IBF 2017 yang akan dibuka besok Rabu (3 Mei 2017), saya publish ulang tulisan tahun lalu di tumblr saya terkait tips berburu buku di Islamic Book Fair. Tulisan asli bisa disimak dari laman tumblr berikut: http://muamarsalim.tumblr.com/post/140221426175/tips-berburu-buku-di-islamic-book-fair. Semoga manfaat.

* * * * *

Saat ini sedang berlangsung perhelatan Islamic Book Fair ke-15 Jakarta di Istora Senayan. Sebagaimana sebelum-sebelumnya, tentunya banyak sekali buku yang dipamerkan (dan dijual tentunya) disana. Saya sendiri, ini adalah kedua kalinya merasakan IBF di Jakarta, sebelum-sebelumnya saya merasakannya di Surabaya.

Tabiat saya jika datang musim buku (musim IBF maksudnya), saya selalu berbelanja buku dalam jumlah banyak. Karena menurut saya IBF memang tujuannya agar kita berbelanja buku banyak hehe. Sehingga kurang afdhol kalau ke IBF hanya beli satu-dua buku saja. Karenanya berdasarkan pengalaman saya mengarungi bidang perbelanjaan buku selama ini, kemudian dimantapkan di IBF tahun lalu dan setelah mengunjung IBF tahun ini di hari kedua kemarin, saya punya beberapa tips untuk memborong buku secara benar (sesuai Qur’an dan Sunnah).

Tips membeli buku (dalam jumlah banyak) di IBF:

1. Tentukan Topik/Tema yang ingin Dibaca
Topik/Tema yang diinginkan boleh lebih dari satu. IBF tahun lalu saya memilih topik Tazkiyatun Nafs/Tasawuf dan topik Keluarga dan Rumah Tangga (ciee). Walhasil sebagian besar buku-buku yang saya beli kemarin memuat bahasan tentang dua topik itu.

2. Tentukan Budget Belanja
Ini penting sekali, wallahi. Kalau tidak dibatasi, anda bisa kalap dan akhirnya menangisi kekalapan anda. Pembatasan budget jangan dijadikan patokan yang terlalu kaku. Setidaknya ada fleksibilitas yang bisa kita kompromikan. Tahun lalu saya mematok budget 500 ribu, dan akhirnya saya pulang dengan menghabiskan sekitar 600 ribu. Ini memang sudah sesuai perkiraan dan tidak terjadi penyesalan kok.

3. Siapkan Buku Catatan dan Pena
Atau jika tidak mau repot, bisa menggunakan smartphone, si sahabat karib anda sehari-hari. Buku Catatan dan Pena ini digunakan untuk tips selanjutnya.

4. Mulailah dengan Mengunjungi Semua Stand Tanpa Membeli
Gunakan pena dan buku catatan untuk mencatat buku-buku yang anda minati dan sesuai dengan tema yang telah anda tentukan. Catat nama dan harganya.

Tolong diperhatikan bahwa anda bisa saja mendapatkan dua buku yang sama dengan harga yang berbeda. Ini sangat mungkin sekali. Biasanya stand official penerbit besar menawarkan harga yang lebih murah untuk buku-buku eksklusif dan populer. Sedangkan stand reseller biasanya lebih murah untuk buku-buku reguler dan populer cetakan lama. Tapi ini biasanya, tidak selalu seperti itu.

Catat semua varian harga dari buku-buku yang sama. Kalau perlu catat juga nama penerbitnya. Biasanya buku yang sama diterbitkan oleh penerbit yang berbeda. Seperti buku-buku karya ulama klasik dan kontemporer dari luar Indonesia. Semua proses listing ini memakan waktu 1,5 sampai 2 jam.

5. Ambil Tempat Duduk di Ruangan Utama
Jangan lupa bawa makanan dan minuman untuk disantap, karena langkah ke-4 cukup membuat lapar. Makanlah sambil mendengarkan acara di panggung utama (kalau sedang ada acara).

6. Screening Buku yang akan Dibeli
Setelah makan, masih di tempat duduk yang sama, lakukan screening dari list buku yang telah anda catat. Utamakan pada buku-buku yang memiliki harga yang bervariasi. Gunakan internet untuk melakukan pengecekan dan perbandingan buku-buku tersebut. Karena meskipun buku dan penulisnya sama, bisa jadi memiliki kualitas yang berbeda.

Misalnya buku-buku klasik terjemahan, bisa diterbitkan oleh lebih dari satu penerbit, dengan masing-masing penerjemahnya. Kemungkinan perbedaan gaya penulisan penerjemahnya sangat tinggi, sehingga perlu diperhatikan. Ada goodreads yang biasanya memuat testimoni orang-orang yang pernah membaca, dan jika beruntung bisa anda lihat preview beberapa halaman contoh di books.google.

Setelah menentukan mana dari buku-buku yang sama itu, tandai pada harga/penerbit yang anda pilih. Setelah itu hitung kesemua jumlah harga list buku yang sudah anda catat. Jangan kaget, kemungkinan besar harga total dari list yang anda catat sangat jauh membumbung tinggi dari budget yang telah ditentukan. Iya kan?. Nah disinilah letak keseruan selanjutnya; melakukan pengelompokan.

Coret-coretan saya kemarin.

Karena budget anda seperti pungguk merindukan bulan, kita perlu merancang beberapa skenario pengelompokan. Lakukan pengelompokan buku yang masih sesuai dengan budget anda. Sebelumnya tentukanlah buku-buku prioritas yang ingin anda beli. Buku-buku prioritas harus ada di setiap skenario pengelompokan, sedangkan buku-buku sekunder boleh ada boleh tidak. Proses ini akan cukup sulit dan membingungkan. Tapi take your time disini, santai saja dan pelan-pelan. Tapi tidak perlu shalat istikharah juga di depan panggung utama. Setelah semua skenario pengelompokan selesai, saatnya tentukan mana skenario yang paling cocok untuk anda. Ingat, anda harus benar-benar patuh dengan pilihan anda, jangan sampai tergoda dengan bisikan syaithan untuk memilih buku lain di luar skenario yang anda pilih.

7. Lakukan Transaksi Pembelian
Lakukanlah transaksi pembelian dengan cepat dan tepat. Karena kalau berlama-lama sambil mengamati buku-buku lain akan bisa menggoyahkan keteguhan anda.

8. Cooling Down
Setelah semua buku sudah dibeli, saatnya melepaskan semua urat ketegangan anda. Jalan-jalan menikmati pajangan buku-buku sambil menenteng kantong plastik berisi buku-buku yang sudah anda beli.

Masih punya kelebihan uang? Anda bisa mencoba peruntungan di stand-stand yang menyediakan buku-buku obral murah. Ada stand MIZAN, DIVA PRESS, dan beberapa reseller yang mengobral buku murah. Jika anda beruntung anda bisa mendapatkan buku bagus dengan harga miring sekali.

Setelah itu tangan anda pasti linu-linu kemerahan karena beban buku-buku yang anda tenteng. Itu tandanya anda sudah disuruh pulang. Maka pulanglah wahai kisanak.
Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah, fadkhuli fi ibadi, wadkhuli jannati.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al Fajr, empat ayat terakhir)

Selamat Berburu Buku!

* * * * *

Akhirnya setelah menerjang hujan saat berangkat dan pulangnya, saya berhasil membawa pulang beberapa buku (yang berat gilak, tangan saya linu-linu) dari IBF Jakarta. Jadi ceritanya topik yang saya ingini adalah: Fikih Pokok, Adab dan Tasawuf, Aqidah, dan Sejarah dan Pemikiran.

 

Fikih Pokok:
1. Fikih Lengkap Mazhab Syafi’i (Penjelasan Matan Abu Syuja’)
Jadi saya adalah penganut mazhab syafi’i yang bandel. Mengaku penganut mazhab syafi’i tapi lebih dekat dengan amaliyah mazhab hambali dan hanafi. Makanya saya merasa perlu kembali bermuara, setidaknya memahami penjabaran mazhab syafi’i meski nantinya di ranah amaliyah bisa saja saya memakai cara mazhab lain. Nah buku ini paling cocok, hampir di semua pesantren tradisional, pelajaran fikihnya diambil dari Matan Abu Syuja’.

Adab dan Tasawuf:
2. Paket Mutiara Falsafah Buya Hamka
Sebenarnya buku ini tidak saya rencanakan sama sekali. Saya mengira buku ini sudah lama tidak di cetak ulang. Tapi hari pertama ke IBF saya melihat buku ini terpampang di stand Republika. Tanpa pikir panjang masuklah ia dalam daftar utama saya. Paket ini terdiri dari empat judul; Falsafah Hidup, Lembaga Budi, Lembaga Hidup, dan Filsafat Modern.

3. Mukhtashar Ihya’ Ulumuddin
Buku ini adalah tujuan utama saya ke IBF selain buku Fikih Mazhab Syafi’i. Sebagaimana kitab lengkapnya, Ihya’ Ulumuddin ini serasa lautan yang tak habis-habis airnya. Berhubung saya belum mahir berenang, maka yang saya beli adalah mukhtasar(ringkasan)-nya

4. Syarah Ta’limul Muta’allim (شرح تعليم المتعلم)
Ini juga buku yang familiar bagi para santri nusantara. Berisi pelajaran adab bagi penuntut ilmu. Saya ‘sok-sok-an’ beli yang berbahasa arab (biar keren) untuk memicu saya tidak malas belajar bahasa arab. Jadi saya beli bukan karena bisa berbahasa arab, masih jauh hiks.

Aqidah:
5. Al-Asma’ Al-Husna
Saya masih merasa jauh dari mengenal Allah. Semoga buku ini menjadi salah satu jembatannya.

6. Surga yang Allah Janjikan
Sebagai vitamin ketika iman menemui kejenuhan. Nalar saya perlu sering-sering diingatkan akan kampung halaman yang sering sekali dilupakannya.

Sejarah dan Pemikiran:
7. Dari Puncak Baghdad
Sejarah dari awal hingga abad pertengahan Baghdad. Bangkit dan runtuhnya salah satu kota penting dalam sejarah keilmuan dunia.

8. Dari Puncak Andalusia
Sebagaimana nomer sebelumnya. Analisa ilmiah atas sejarah dan sosiologi Andalusia, mercusuar peradaban Islam di ujung paling barat dunia Islam.

Kasih tak Sampai:
Ada beberapa buku yang terpaksa tidak terbeli karena keterbatasan dana. Tapi masih dipertimbangkan lagi sebelum akhir pekan depan, apakah jadi dibeli atau direlakan hingga tahun depan.

1. Capita Selecta
Ah ini tidak perlu saya jelaskan lagi. Buku ini adalah masterpiece idola saya M. Natsir. Saya cukup kaget buku cetakan baru setelah sekian puluh tahun ini masih ada yang menjual. Sayangnya hanya jilid kedua dari 3 jilid yang tersisa. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk membeli, karena sudah punya versi PDF-nya.

2. Wonderful wife
Jangan berpikir macam-macam. Ini hanya untuk melengkapi koleksi seri Wonderful Family-nya ustadz Cahyadi Takariawan yang mana pada IBF tahun lalu seri keempat ini belum terbit. Tapi tidak jua terbeli karena (mungkin calon wife saya sudah punya #plak) memprioritaskan yang lain.

3. 101 Sahabat Nabi jilid 2
Ini juga untuk melengkapi koleksi sebelumnya. Padahal harganya sudah sangat miring, tapi urung untuk dibeli juga karena sudah tidak ada uang untuk ongkos pulang.

Semua buku yang saya beli (sejumlah 11 buku) plus satu mushaf saku murah meriah total harga yang dikeluarkan adalah 620 ribu rupiah. Alhamdulillah, masih di sekitar budget. Semoga buku-buku ini tak sekedar jadi simpanan di rak buku, tapi juga tersimpan di kepala. Insya Allah.

Mengenalmu: Menyantap Makanan Bersamamu (1)

Aku sejenak tertegun saat mendapati sekotak paket yang diantar di depan rumahku. Isinya, sebotol besar minyak zaitun.
.
“Usapkan ke perut istrimu, atau minum sesendok tiap hari. Semoga keberkahannya memudahkan hajatmu.” Tulismu pada secarik kertas di dalam wadah paket itu.
.
Alih-alih segera mematuhi isyarat pada secarik kertas darimu itu, aku malah diam tertegun. Senyumku mengembang mengingat dirimu, dan sepotong perjalanan hidup yang pernah kulalui bersamamu.
.
Aku masih ingat dengan jelas saat pertama mengenalmu di bangku SMA dulu. Kau datang ke kelas kami, mengingatkan untuk datang ke masjid sekolah selepas jam pelajaran terakhir. Kau menjadi kakak asisten mentor kelas kami untuk kajian pekanan yang kita sebut mentoring. Ya, kau setahun lebih senior dariku.
.
Sebagai lulusan SMP Islam, awalnya aku tak begitu bersemangat mengikuti mentoring. Mungkin aku merasa sudah cukup paham dengan agamaku. Apalagi kulihat dirimu, sebagai kakak asisten mentor kami, ternyata belum lancar juga membaca Al Qur’an.
.
Begitulah, bisa dibilang kesan pertamaku terhadapmu amatlah biasa saja. Tak ada yang istimewa. Bahkan aku cenderung meremehkanmu. Sebagai asisten mentor, seharusnya kau lebih pandai dalam urusan agama daripada kami para mentee, begitu hematku saat itu. Tapi ternyata, inilah nantinya yang membuat kita bersambung ukhuwah umpama saudara.
.
Suatu hari selepas jamaah dhuhur di jam istirahat sekolah, kau mendekatiku dari belakang. Aku sedikit terkejut pula, ada gerangan apa tiba-tiba.
.
“Dik, maukah bantu mas belajar baca Quran?” Tanyamu setelah kita saling berbasa-basi.
.
“Wah, Mas, kenapa harus saya? Saya kan juniornya Mas.” Jawabku mencoba mengelak.
.
“Mas perhatikan saat mentoring, dirimu paling bagus bacaan Qurannya. Apalagi lulusan sekolah Islam. Makanya Mas ingin belajar darimu.” Ujarmu menjelaskan.
.
Aku lama tak membalas karena bingung harus berkata apa. Sebenarnya aku tak berminat membantumu, tapi aku juga tak punya alasan untuk menolak permintaanmu.
.
“Sejenak saja selepas mentoring, ketika teman-temanmu sudah pulang. Mas lihat kau juga selalu pulang cukup larut. Bagaimana, mau ya?” Lanjutmu menawarkan, seakan mengetahui kegamangan di kepalaku.
.
“Baiklah mas, saya usahakan. Tapi jangan terlalu bergantung ya. Saya juga tak mahir benar baca Quran.” Jawabku sedikit berbasa-basi. Mendengarnya, kulihat wajahmu mengembang. Lalu kau berpamitan selepas menjabat tanganku erat.
.
Aku sempat heran dan mengernyitkan dahi setelah kau agak jauh. Ada juga orang sepertimu, pikirku. Seakan tak punya ‘self-esteem’, meminta bantuan dari adik juniornya. Kalau saja aku di posisimu, aku pasti sudah dikepung gengsi untuk meminta bantuan dari orang yang lebih muda dariku, apalagi posisinya antara asisten mentor dengan mentee. Tapi nantinya aku akan menyadari, sifat inilah yang membuatku mengagumi dan menghormatimu.
.
Hampir setahun berlalu, kau sudah lebih lancar membaca Quran. Diantara teman sekelasku, mungkin aku yang paling akrab denganmu. Bagaimana tidak, hampir tiap pekan kau mencuri waktuku selepas mentoring untuk membantumu membaca Quran. Diantara waktu-waktu itu kita pun banyak berbincang, bercerita tentang diri kita masing-masing.
.
Tibalah saat pengelompokan mentoring lanjutan untuk siswa-siswa yang aktif dalam kegiatan Rohis. Aku sempat terkejut, di dalam kelompokku, ada namamu tertulis. Kau lalu datang menghampiri, duduk di sebelahku, melingkar bersama teman-teman lainnya. Di lingkaran itu, kulihat hanya kau yang berbeda tingkat dari lainnya. Entah kenapa aku mencemaskan keadaan itu. Aku khawatir kau merasa canggung atau malu berada dalam kelompok yang semuanya adik kelasmu. Kulihat ke arah wajahmu, tapi tak kutemukan apa-apa yang kucemaskan itu. Kau begitu tenang, luwes, bahkan lebih ceria dari kami semua. Sejak itu aku mulai menaruh kagum padamu.
.
Kau pernah bercerita, bahwa dulunya kau adalah anak yang cukup badung. Terlambat mengenal nikmat berislam secara semangat. Terlambat aktif dalam kegiatan Rohis daripada teman-teman setingkatmu. Terlambat mendapatkan pelajaran-pelajaran keislaman baik dari mentoring maupun kajian-kajian umum. Tapi suatu saat kau menemukan titik balik, lalu tak segan mengejar apa-apa yang telah tertinggal darimu.
.
“Aku membaca sebuah tulisan yang didalamnya terkutip sebuah hadits percakapan antara Rasulullah dan para shahabatnya.” Ujarmu mengenang masa-masa titik balikmu itu.
.
“Saat itu Rasulullah berujar bahwa beliau merindukan saudara-saudaranya. Lalu para shahabat mengatakan bahwa mereka adalah saudara-saudara Rasulullah. Tetapi Rasulullah menjawab, ‘Kalian adalah shahabat-shahabatku. Sedangkan saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku tetapi belum pernah melihatku.'” Lanjutmu menceritakan.
.
“Membaca itu tiba-tiba ada yang berdesir di dadaku. Apakah bisa aku menjadi saudara Rasulullah, sedangkan keadaanku seperti ini? Lalu melanjutkan tulisan itu, sampailah aku pada sebuah hadits yang membuatku meneteskan air mata. Rasulullah berujar sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajab. Maka para Nabi bersegera memanfaatkan doa itu. Tapi aku menyimpan doa itu sebagai penolong untuk umatku di hari Kiamat.” Ceritamu berhenti. Kulihat bibirmu tercekat menahan bermacam perasaan yang membuncah di dadamu. Aku menyaksikan saat itu betapa cintanya kau pada Rasulmu. Sesuatu yang selalu membuatku cemburu padamu.
.
Hari-hari kebersamaan dalam mentoring dan aktifitas Rohis telah kita lalui. Aku selalu ingat disaat mentor kita membahas tentang sisi hidup dan kepribadian Rasulullah, kau yang paling bersemangat menyimaknya. Kau tegakkan posisi dudukmu. Kau catat semua hal berkaitan Rasulullah yang disampaikan oleh mentor kita.
.
Suatu hari saat mentoring membahas cara makan dan makanan kesukaan Rasulullah, adalah salah satu momen mentoring yang paling berkesan bagiku. Kulihat kau begitu serius menyimak dan mencatat semua karakteristik makan Rasulullah. Mulai ketika Rasulullah memulai makan dengan basmalah. Lalu mengakhirinya dengan doa -alhamdulillahilladzi ath’amana wasaqana waj’alana minal muslimin. Lalu kau bertanya, apakah boleh membaca doa tambahan sebelum basmalah saat memulai makan? Mentor kita menjawab boleh. Setiap doa yang baik boleh diucapkan. Bahkan semoga saja menjadi tambahan pahala.
.
Mentor kita juga menjelaskan bahwa Rasulullah makan menggunakan tiga jari, yaitu jari tengah, jari tasyahud, dan ibu jari. Lalu pernah di pertemuan selanjutnya di rumah mentor kita, kau mencoba memakan nasi soto yang berkuah panas dengan tiga jari. Tentu saja kau kepayahan dan menggerak-gerakkan jarimu yang hampir melepuh itu. Kami semua terpingkal melihat tingkahmu itu. Mentor kita lalu menjelaskan bahwa diantara maksud dari makan menggunakan tiga jari yaitu makan sesuai dengan kadarnya. Sehingga baik dilihat orang, dan baik pula untuk pencernaan kita. Jadi meskipun amat baik meniru secara literal, tapi tidak melulu diterapkan dalam berbagai kesempatan. Apalagi yang malah menyusahkan diri sendiri.
.
Dijelaskannya juga bahwa Rasulullah tak pernah makan diatas meja dan menjilat ketiga jarinya setelah makan. Maka kusaksikan dirimu setelah pertemuan mentoring itu sangat jarang makan di warung atau restoran kecuali jika sedang diundang. Kau lebih memilih membungkus makanan yang kau beli, dan memakannya di rumahmu sambil duduk di atas lantai.
.
Saat mentor kita menjelaskan makanan-makanan kesukaan Rasulullah, disana kejadian lucu tapi berkesan terjadi. Rasulullah menyukai kurma, labu, makanan-makanan manis, madu, dan cuka sebagai kuah lauk. Bagian daging yang beliau suka adalah dzir’an, yaitu bagian dengkul sampai kaki. Beliau suka meminum air manis dan dingin, juga air rendaman kurma.
.
Mendengar penjelasan mentor itu, kau sedikit terhenyak. Karena kau tidak suka dengan labu. Lalu pernah suatu kali kita berjalan, kau mengajakku mampir ke sebuah warung yang menjual kolak. Aku agak terheran karena biasanya pada kolak terdapat labu, dan kau tidak suka itu.
.
“Aku tak mau membenci apa-apa yang disukai Rasulullah. Jadi aku harus menghilangkan ketidaksukaanku pada labu.” Ujarmu bersemangat.
.
Kau ambil sepotong labu pada kolak dengan sendokmu. Kau pandangi sebentar. Lalu kau makan dengan sedikit memejamkan mata. Kau kunyah dan menelannya dengan agak berat.
.
“Ternyata tak begitu buruk. Bahkan cukup enak sebagai pasangan pisang.” Ujarmu sedikit menyeringai sambil menghabiskan kolakmu dengan bersemangat. Aku hanya tersenyum melihat tingkahmu.
.
Sering juga ketika kita sedang makan bersama dengan teman-teman sekelompok mentoring, di tengah makan kau mengingatkan kami. “Sudah baca doa dan basmalah semua kan? Kalau belum, baca bismillahi awwalahu wa akhirahu.” Serumu yang terkadang mengagetkan kami yang sedang makan.
.
Beberapa teman terkadang mencibirmu, menyebutmu sok karena sikapmu yang seperti ini. Tapi aku yang mengenalmu lebih baik dari mereka tak pernah mengindahkannya. Aku tahu benar betapa kau melakukannya semata karena kecintaanmu pada Rasulullah. Sehingga kau bersemangat melakukan apa-apa yang dilakukan Rasulullah semampumu. Jika bisa aku umpamakan, mungkin kau seperti Ibnu Umar yang selalu mengikuti semua tingkah laku Rasulullah. Atau setidaknya kau lebih baik dariku dalam urusan ini.
.
Aku bahkan sering sengaja mengundangmu ke rumahku, atau mengunjungi rumahmu hanya untuk memandangi caramu makan. Entahlah, aku semacam bisa merasakan sunnah yang hidup hanya dari melihatmu makan. Sesuatu yang membuatku nyaman. Sesuatu yang membuatku tenang.
.
Seperti tiga hari lalu saat aku mengunjungimu. Kau berbisnis herbal dan membuka klinik bekam disamping mengajar ngaji di TPA masjid samping rumahmu. Selain ingin melihat ‘sunnah yang hidup’ darimu, aku sebenarnya ingin menumpahkan perasaan tentang biduk keluargaku yang belum dikaruniai anak dalam sepuluh tahun ini. Aku tak menemukan siapapun yang lebih tepat bagiku untuk bercerita selain dirimu. Tapi sesampainya disana, aku tak mampu mengangkat pembicaraan atas apa niatku sebenarnya menemuimu. Aku tiba-tiba diingatkan oleh pesanmu di hari pernikahanku dulu.
.
“Jangan melancangi Penguasa Kehidupan ini atas semua masalah yang kita hadapi dengan mengadu kepada selainNya. Mengadulah selalu kepada Allah, karena hanya Dia yang kuasa mengobati semua lukamu, memudahkan semua urusanmu dan melancarkan semua keinginanmu. Keluargamu, keluarga istrimu, bahkan istrimu pun tak akan mampu melakukannya jika tanpa kehendak dari Allah.” Ucapmu dengan mata tajam saat itu.
.
Aku akhirnya pulang setelah puas berbincang hal-hal lain denganmu, dan tentu saja, makan bersamamu. Lalu hari ini, tiga hari berselang, paket ini sampai ke rumahku. Kubaca lagi kalimat yang tertulis di secarik kertas di dalamnya. “Usapkan ke perut istrimu, atau minum sesendok tiap hari. Semoga keberkahannya memudahkan hajatmu.”
.
Ah, kau bahkan bisa membaca maksud asliku tanpa harus kuutarakan. Aku teringat suatu malam saat kita berjalan di antara deretan toko di kampung Arab setelah menunaikan shalat Tarawih dulu. Kau berhenti di sebuah toko yang menjual berbagai bahan penganan Arab. Kau ambil sebotol minyak zaitun yang terpajang di sana.
.
“Aku pernah mendengar hadits, bahwa Rasulullah pernah menitahkan untuk memakan buah zaitun dan berminyak dengannya, karena ia berasal dari pohon yang diberkahi.” Ujarmu sambil mengamati botol minyak zaitun yang kau pegang itu.
.
“Berapa harganya?” Tanyaku sambil mencondongkan kepala untuk melihat harga di botol tersebut. “Wah, ini mahal sekali.” Ucapku menyeringai saat mengetahui harganya.
.
“Tapi bagaimanapun juga, suatu saat kita akan butuh terhadap titah-titah Rasulullah. Kita akan butuh kembali kepada Dzat yang kepadaNya segala sesuatu bergantung, melalui sunnah-sunnah Rasulullah. Saat semua usaha kita tak lagi berhasil, saat semua bantuan manusia tak lagi berguna. Saat itu kita akan butuh kembali kepada Allah dan RasulNya. Berpasrah pada apa yang diajarkan Rasulullah, apapun hasilnya.” Ucapmu sambil tersenyum ke arahku.
.
Saat itu aku tak terlalu paham maksud ucapanmu. Tapi saat mendapati paket kiriman darimu ini, aku jadi menyadari maksud dari ucapanmu dulu itu. Kau benar, Mas, kita akan selalu butuh kembali kepada Allah dan RasulNya.
.

[Rangkaian #serisyamail mengenalmu]

#serisyamail #maulid #rasulullah

Pelajaran dari Isra’ dan Mi’raj

//*Berikut adalah teks yang saya terjemahkan dari teks asli yang berbahasa inggris, berupa rangkuman dari beberapa pelajaran tentang Isra’ Mi’raj yang disampaikan oleh Habib Umar bin Hafidz. Teks asli dapat di temukan di situs muwasala.org atau seekershub.org pada arsip tahun 2014*//

***

Kita mendekati malam dimana dunia Islam dari masa ke masa memperingatinya sebagai malam Isra’ (perjalanan malam) dan Mi’raj (pengangkatan) Nabi kita, Al Musthafa Rasulillah shallallahu alaihi wasallam. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah pertanda besar, dan mukjizat agung yang diberikan Allah kepada Sayyid, Tuan dari penduduk langit dan bumi, untuk menunjukkan keutamaannya diantara semua manusia, jin, malaikat, dan seluruh makhluk. Ada begitu banyak pelajaran penting pada peristiwa agung ini dan sarana untuk meningkatkan keimanan dan keteguhan hati.

Para ulama mengatakan malam terbaik di keseluruhan sejarah umat ini adalah malam dimana Rasulullah dilahirkan ke dunia, sebagaimana juga, malam terbaik di keseluruhan kehidupan Rasulullah adalah malam dimana ia ber-Isra’ dan Mi’raj.

[Ujian dan Kesengsaraan]

Sebelum datangnya malam itu, Rasulullah menunjukkan kesabaran yang besar terhadap kesulitan yang teramat sangat. Dan ini adalah diantara kemahabijaksanaan Allah yang memberikan hadiah bersama dengan hadirnya kesulitan.

Allah berfirman: Mereka mengalami penderitaan, kesulitan dan diguncang dengan teramat sangat, hingga Rasul dan mereka yang beriman bersamanya berkata, “Bilakah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sungguh pertolongan Allah itu amat dekat. (QS 1:214)

Di ujung usianya, Rasulullah menyebutkan bahwa perlakuan paling buruk yang pernah ia terima dari orang-orang kafir adalah penolakan penuh kekerasan dari tangan-tangan penduduk Taif. Kebanyakan ulama Sirah mengatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi tak lama setelah peristiwa tersebut, setahun sebelum hijrah, pada malam ke 27 bulan Rajab.

[Persiapan dan Perjalanan]

Rasulullah menyaksikan beberapa peristiwa pada Isra’ dan Mi’raj di dalam mimpi-mimpinya sebagai persiapan baginya sebelum peristiwa yang sesungguhnya benar-benar terjadi. Sebagian orang mengklaim bahwa seluruh rangkaian peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi dalam keadaan mimpi, tetapi bukanlah seperti itu. Rasulullah mengalaminya dengan jiwa dan jasadnya. Jika saja peristiwa Isra’ hanyalah peristiwa yang dialami Rasulullah dalam mimpinya, maka orang-orang kafir Quraisy tidak akan menemukan kesulitan untuk menerimanya. Mereka tidak akan bertanya, “Bagaimana bisa engkau melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis tadi malam lalu berada bersama kami di Makkah pagi ini?”

Allah berfirman: Mahasuci Ia Yang memperjalankan hambaNya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (QS 17:1). Allah mengungkapkan kemahasucianNya sebelum menyebutkan satu peristiwa besar yang jauh diluar jangkauan orang-orang.

Ketika Allah ingin berbicara kepada Sayyidina Musa (alaihissalam), Ia memerintahkannya untuk menunggu 30 hari, dan kemudian ditambah 10 hari: “Kami menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi.” (QS 7:142)

Tetapi Allah, bagaimanapun tidak memerintahkan kecintaanNya untuk menunggu. Akan tetapi Ia perintahkan seketika, tanpa pemberitahuan. Dada Rasulullah dibuka dan hatinya dibersihkan lalu diisi dengan pengetahuan dan kesabaran. Lalu dibawakan Buraq untuknya. Allah maha kuasa untuk memperjalankan Rasulullah tanpa Buraq, akan tetapi ini adalah untuk menghormati dan memuliakannya. Jibril berkata kepada Buraq setelah ‘kebandelan’nya sesaat: “Tidakkah kau merasa malu, Wahai Buraq? Demi Allah tidak ada yang lebih mulia dalam pandangan Allah pernah menaikimu selain ia!”

Rasulullah berhenti di beberapa tempat dalam perjalanan Isra’nya untuk menekankan pentingnya mengunjungi tempat-tempat dimana Allah memberikan karuniaNya kepada hamba-hambaNya yang saleh. Ia diperintahkan untuk mencari kedekatan kepada Allah dengan beribadah di dekat pohon dimana Allah berbicara kepada Nabi Musa di gunung Tursina, dimana Allah memberikan wahyu kepada Musa. Dan di Baitul Lahmi, dimana Nabi Isa (alaihissalam) dilahirkan.

Seluruh hamparan bumi telah dijadikan Allah sebagai tempat beribadah dan sujud bagi Rasulullah. Lalu apakah kepentingan bagi beliau beribadah di tempat-tempat tersebut jika bukan untuk mencari keberkahan (tabarruk) dan bimbingan ruhiyah dari mereka (hamba-hamba Allah yang Saleh)? Diriwayatkan juga di dalam Sahih Muslim bahwa ia mengunjungi makam Nabi Musa dan menyaksikan dirinya beribadah di makamnya. Beliau berkata kepada para sahabatnya: “Jika aku berada disana, niscaya akan kutunjukkan kepada kalian makamnya.” Begitulah beliau mengajarkan kepada umatnya pentingnya mengetahui lokasi makam para Rasul dan pentingnya menziarahinya.

Ketika dalam perjalanannya, seseorang memanggilnya dari sisi kanan tetapi Rasulullah tidak menanggapinya. Jibril lalu memberitahu bahwa yang memanggil adalah Yahudi, dan seandainya Rasulullah menanggapinya, maka umatnya akan mengikuti jalan orang-orang Yahudi. Kemudian seseorang memanggilnya dari sisi kiri dan sekali lagi Rasulullah tidak menanggapinya. Lalu Jibril memberitahu bahwa yang memanggil adalah Nasrani, dan seandainya Rasulullah menanggapinya, maka umatnya akan mengikuti jalan orang-orang Nasrani. Karenanya, meskipun dengan beragam cara orang Nasrani untuk menyesatkan umat Islam ke dalam agamanya, umat Islam tetap dalam penjagaan dan perlindungan Allah berkat keteguhan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Lalu Rasulullah dipanggil untuk ketiga kalinya., dan sekali lagi beliau tidak menanggapinya. Jibril lalu memberitahukan bahwa itu adalah ‘ad-dunya’ (kehidupan duniawi) yang memanggilnya. Dan sekiranya Rasulullah menanggapinya, maka umatnya akan memilih kehidupan dunia daripada kehidupan setelahnya. Kemudian ad-dunya tampil dihadapan beliau layaknya seorang perempuan tua renta. Jibril memberitahukan bahwa apa yang tersisa dari kehidupan dunia sebelum hari pembalasan adalah sebagaimana apa yang tersisa dari kehidupan perempuan tua renta itu. Kita menyaksikan semua peperangan dan pertarungan yang terjadi di kehidupan ini adalah seperti perempuan tua di ujung kematiannya, padahal dihadapannya telah menanti kehidupan selanjutnya.Semoga Allah mengkaruniakankita akhir kehidupan yang terbaik. Berkat penolakan Rasulullah untuk menanggapi panggilan ad-dunya ini, akan selalu ada orang-orang sampai zaman ini yang memahami ketidakberhargaan-nya kehidupan duniawi ini.

Rasulullah kemudian memimpin para Nabi dan Rasul shalat di Masjidil Aqsa. Jibril memberitahukan kepadanya bahwa ruh setiap Rasul yang diutus Allah dari waktu ke waktu dari masa Nabi Adam hingga masa Nabi Isa dihadirkan untuk beribadah di belakang beliau sehingga mereka dapat mengetahui kedudukan dari Tuan mereka, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ia adalah imam yang memimpin para Rasul dan Malaikat beribadah kepada Allah. Lalu mengapa kita enggan menjadikannya sebagai imam kita?

[Pengangkatan ke Langit ke Tujuh]

Rasulullah lalu diangkat dari langit ke langit. Paramalaikat di langit telah diberitahu akan kedatangannya dan itu adalah kesempatan bagi mereka untuk mendapat kehormatan bertemu dengannya sebagaimana para sahabatnya mendapatkan kehormatan itu di bumi. Penduduk bumi melemparinya dengan batu dan mencelainya tetapi penduduk langit memberinya sambutan paling hangat. Dalam pertemuannya dengan bapaknya, Nabi Adam (alaihissalam) dan para Rasul lainnya di berbagai tingkatan langit, ada pelajaran yang didapatkan. Meskipun keutamaannya yang mengungguli para Rasul sebelumnya, beliau tetap menemui dan menyapa mereka. Tidak ada orang yang lebih tidak butuh terhadap orang lain selain dirinya, akan tetapi beliau menemui mereka dan menunjukkan etika yang mulia dan mengejewantahkan kehambaannya kepada Rabbnya.

Diantara hal-hal yang beliau saksikan adalah orang-orang yang mengesampingkan daging segar yang baru saja matang dimasak dan lebih memilih memakan daging busuk yang tergeletak. Beliau diberitahu bahwa hal itu adalah sebagaimana orang-orang yang meninggalkan yang halal dan memilih yang haram. Beliau menyaksikan kepala orang-orang dipukul dengan bebatuan. Dan seketika kepala itu remuk, dikembalikan seperti sedia kala untuk kemudian dipukul lagi dengan bebatuan, begitu seterusnya. Beliau diberitahu bahwa mereka adalah orang yang malas melaksanakan ibadah-ibadah wajib.

Beliau diangkat menuju Baitul Makmur, yang menyerupai Kakbah diatas langit ke tujuh. Bangunan ini berada tepat sejajar diatas Kakbah di Bumi, dan setiap hari tujuh puluh ribu malaikat memasukinya. Rasulullah masuk dan shalat di dalamnya, bersama dengan beberapa ruh pilihan Allah. Rasulullah kemudian sampai ke Sidratul Muntaha, sebuah pohon yang ukuran dan keindahannya tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Apabila sehelai daun jatuh dari dahannya, itu akan menutupi seluruh langit dan bumi. Di sinilah titik terakhir pengetahuan tentang penciptaan.

Di sinilah Jibril kemudian berhenti. Dia berkata, jika ia melangkah lebih jauh, ia akan terbakar. Tetapi ia mengatakan kepada Rasulullah untuk terus melanjutkan perjalanannya sendirian.

[Pertemuan yang Agung]

Dia benar-benar naik menuju singgasana Allah dan tersungkur dalam sujudnya. Nabi Musa dahulunya diperintahkan untuk melepas sandalnya ketika Allah berbicara kepadanya, tetapi Rasulullah yang tercinta tidak diperintahkan hal serupa. Allah lalu memintanya mengangkat kepalanya. Lantas Rasulullah pun berucap kepada Allah, “Attahiyyatul mubaarakatush shalawaatuth thayyibatu lillah. Semua penghormatan, pengagungan, dan pujian-pujian yang baik hanyalah milik Allah.”

Allah membalasnya, “Assalamu alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah untukmu, wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segala karuniaNya.”

Pada titik ini, ketika Allah menampakkan wujudNya kepada Rasulullah, beliau ingin mengingati orang-orang saleh dari umat ini dan umat-umat sebelumnya. Lalu beliau berkata, “Assalamu alaina, wa ala ibadillahish shalihin. Segala pemeliharaan dan pertolongan untuk kita semua, dan untuk para hamba Allah yang saleh.”

Para malaikat di langit kemudian berseru, “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu warasuluhu. Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”

Ketika Allah berbicara kepadanya, Allah berkata, “Aku telah menjadikanmu kekasihKu dan Aku telah melapangkan dadamu dan mengangkat kedudukanmu sehingga kapanpun namaKu disebut, namamu pun disebut bersamaKu. Aku ciptakan umatmu sebagai umat terbaik, dan aku jadikan mereka yang terakhir datang di dunia dan yang pertama di hari kebangkitan. Aku menjadikanmu sebagai Rasul yang pertama diciptakan dan yang terakhir diutus.” Allah kemudia berbicara dengan lembut kepada kekasihnya tersebut, dan mengingatkannya akan karuniaNya kepadanya. Rasulullah berbicara kepada Rabbnya hal-hal yang hanya Allah yang tahu.

[Hadiah yang Penuh Berkah]

Allah menjadikan 50 kali shalat sebagai kewajiban bagi umat ini. Lalu kemudian dikurangi menjadi 5 kali dengan ganjaran yang sama dengan 50 kali. Apakah mereka yang tak mampu melaksanakan yang lima itu tidak malu kepada Rabb mereka? Apa yang akan mereka perbuat jika adalah 50 shalat yang harus mereka kerjakan? Allah menjadikan shalat lima waktu sebagai kewajiban bagi hambaNya, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk berbicara kepada Allah dan berdekatan denganNya. “Saat yang paling dekat bagi seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud.”

Rasulullah dikarunia dengan karunia memandang wujud Allah, karunia yang tak bisa dimiliki seorangpun sampai mereka masuk ke dalam surga. Penglihatan ini tak bisa dipahami dengan sederhana dan secara literal, karena Allah maha suci dan dan tak dibatasi oleh ruang dan arah. Sebagian orang muslim menyangkal bahwa melihat Allah ini dapat terjadi, dan kita bersepakat dengan mereka bahwa melihat Allah dengan cara biasa sebagaimana manusia melakukannya tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, kita memahami bahwa penglihatan terhadap wujud Allah adalah sesuatu yang lebih besar dari penglihatan manusia biasanya, penampakan paling murni dari cahaya Allah, yang tak bisa dideskripsikan dengan apapun.

Nabi Musa sampai begitu bersemangat untuk mencecapi sebagian cahaya yang ada di wajah Rasulullah yang baru saja melihat Tuhannya. Nabi Musa pernah meminta untuk dapat melihat wujud Allah saat di bumi tapi permintaannya tak pernah dikabulkan Allah. Ia kemudian berusaha mencecapi sebanyak mungkin cahaya yang dapat dia ambil dari wajah Rasulullah. Rasulullah pernah menyampaikan kepada kita bahwa akan datang suatu masa dimana umat Islam akan mencari kejayaan dari orang-orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah, dan kemudian melalui orang-orang yang pernah bertemu dengan orang-orang yang pernah bertemu Rasulullah. (Diriwayatkan oleh Bukhari). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa rahasia itu terwariskan melalui penglihatan terhadap wajah mereka.

Rasulullah tetap teguh selama menyaksikan segala yang ia saksikan: Penglihatannya tidak menyimpang dari yang dilihatnya dan tidak pula melampauinya (QS 53:17-18); Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya, karena sungguh ia telah melihat tanda dari Tuhannya yang maha besar (QS 53:11).

Semua ini terjadi secara singkat. Sedikit sekali waktu yang bergulir sampai dipan tempatnya tidur pun masih hangat. Semua ini adalah bukti dari kekuasaan Ilahi. Kita begitu terbiasa dengan pola sebab-akibat dan hukum-hukum fisika yang membuat kita sering lupa dengan adanya kekuatan maha dahsyat di balik semua itu. Padahal sesungguhnya segala sesuatu yang kita anggap normal dan biasa saja ini sesungguhnya adalah keajaiban – duduk dan berdiri kita, makan dan minum kita, semuanya.

Allah berfirman, Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? (QS 56:68)

Ya Allah berikanlah shalawat kepada jiwa yang telah melakukan perjalanan yang menakjubkan ini, dan bangkitkanlah kami dengannya di hari kebangkitan. Jadikanlah kami sebagai bagian dari orang-orang yang benar-benar mengikuti jalannya. Jangan jauhkan kami dari penglihatan atasnya di dunia ini, di alam barzakh dan di kehidupan kemudian. Izinkanlah kami untuk dapat melihat wajah yang kau izinkan melihat wajahMu, sehingga kami siap dan mampu untuk melihat wajahMu di jannahMu yang diberkahi.

Balada Tentang Pengorbanan: Pemuda yang Bercahaya

Pada balada tentang pengorbanan, kulihat Mush’ab begitu bercahaya. Ia laksana pemain utama, diperhatikan ratusan mata pemirsa. Bahkan lelaki paling mulia pun memuji perannya. Hai, tak sampaikah padamu kisah seorang pemuda jelita? Yang rupawan, harum dan parlente dari seisi kota?

* * *

Ada yang tak sempat tergambarkan dari bibir Mush’ab malam itu. Ketika ia tergesa-gesa memudari buhul-buhul yang mengikat tubuhnya. Luka-luka cambukan itu belum kering juga, tapi ia tak punya waktu lagi lebih dari malam itu.

Namun beberapa langkah kaki berlari ia sudah tak sanggup menahan diri untuk menoleh ke belakang. Yang ia tinggalkan di belakang sana bukan sesuatu yang main-main; ibunya. Tapi ia sadar ini harga yang harus dibayar atas apa yang telah ia genggam erat-erat di dadanya.

Malam itu Mush’ab berjalan menuju Habasyah. Antah-berantah yang tak ia kenal sebelumnya.

* * *

Pemuda parlente ini tak pernah mengira hidupnya akan berubah drastis setelah hari itu. Hari ketika ia bertemu dengan lelaki yang terpercaya seisi kota. Ia mendengarkan kalimat-kalimat yang indah keluar dari bibir lelaki itu. Kalimat-kalimat yang jauh dan dalam merasuk ke relung-relung dadanya. Ia belum pernah menemui kalimat-kalimat yang begitu jelas namun tegas, kuat namun lembut, tajam namun indah sebelum hari itu. Tak lama baginya untuk sampai kepada puncak kesadaran dan berikrar diatas pondasinya yang kokoh. Mush’ab mengimani Rabb dan Rasul-Nya.

Sekejap kemudian Mush’ab berlari-lari ringan memutari gang-gang perkampungan. Matanya cerah berbinar. Bibirnya lebar sumringah. Orang-orang mengira Mush’ab seperti sedang kehilangan kesadarannya. Tapi orang-orang itu tak pernah tahu sesungguhnya ia sedang berada pada puncak kesadarannya. Kali ini kesadarannya benar-benar jelas dan terang, seakan disinari cahaya yang paling putih dan tak pernah padam.

Mush’ab terus berlari-lari hingga ia sampai di depan pintu rumah ibunya. Ibunya harus tahu peristiwa membahagiakan yang baru saja dialaminya. Tapi niat itu diurungkannya tatkala mendapati ibu dan kerabatnya sedang memperbincangkan kebencian mereka kepada Muhammad yang baru saja ia imani kerasulannya itu. Disimpannya kabar itu sampai waktu yang tepat untuk mengabarkannya kepada ibunya dan mengajaknya menuju kebahagiaan yang sama.

Tapi hidup tidak selalunya seindah yang orang kira. Terutama bagi orang-orang yang telah dipilih Rabb-nya. Maka bagi Mush’ab, Allah memilihnya melalui jalan berliku sebagai harga atas keimanannya. Tersampailah kabar keislaman Mush’ab kepada ibunya melalui cerita kerabatnya yang menyaksikannya memasuki rumah Arqam. Merah padam tentulah muka ibunya mendengar kabar itu.

Maka kita tentu tahu bagaimana nasib Mush’ab pada akhirnya. Dikurung ibunya dari menjangkau dunia luar. Sekiranya keterbatasan tersebut dapat meluluhkan keimanan anaknya yang tak pernah terbatasi kebutuhan hidupnya sejak kecil, pikir ibunya. Tapi Mush’ab tetap teguh dengan keimanannya. Bahkan ketika harus remuk hatinya saat tahu ibunya mogok makan dan minum demi anaknya mau melepas keimanannya. Mush’ab amat mencintai ibunya, begitu pula ibu Mush’ab terhadapnya. Tapi iman telah menjadi harga yang tak pernah lagi bisa dibeli bagi Mush’ab.

* * *

menjadi pemuda yang terpenuhi semua kebutuhannya, tercukupi makan dan minumnya, teramat jelita pakaiannya, dan yang paling harum wangi tubuhnya, adalah masa yang telah berlalu bagi Mush’ab. Kini hanya iman yang dimiliki Mush’ab, dan ia telah merasa cukup dengannya.

Inilah Mush’ab pemuda yang dulunya parlente itu, kembali dari Habasyah. Berpakaian jubah usang yang bertambal-tambal. Ia datang menemui Rasulullah dan para shahabatnya. Demi melihatnya, diantara mereka menundukkan kepala, memejamkan mata, beberapa pun tak tahan melinangkan air mata tersebab haru. Inilah pemuda yang terang bercahaya, yang meninggalkan semua kenikmatan demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, begitu ujar Rasulullah dengan bangga dihadapan para shahabatnya.

Inilah Mush’ab yang gagah berani memanggul panji Islam pada laga Uhud. Hingga musuh menebas tangan kanannya hingga putus. Tapi seraya meraih kembali panji dengan tangan kirinya, mulutnya halus saja berucap, “wamaa muhammadun illa rasul, qadkhalat min qablihir rusul.” Lalu ditebas pulalah tangan kirinya hingga putus. Seraya mendekap panji ke dadanya, bibirnya masih lagi berucap, “Muhammad itu tak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul.” Lalu tombak pun menembus dadanya hingga jatuh Mush’ab bersama panji yang dibawanya. Mush’ab gugur sebagai syahid menuju Rabbnya.

Inilah Mush’ab yang meninggalkan semua kenikmatan demi cintanya kepada Allah dan RasulNya. Jasadnya dipandangi pilu oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Betapa tidak, yang tertinggal darinya hanyalah kain burdah yang kasar. Jika ditutup ke kepalanya, maka terbukalah bagian bawahnya. Jika ditutupkan ke kakinya, maka terbukalah kepala dan badan atasnya. Rasulullah sampai harus meminta shahabat agar menutupi bagian bawahnya dengan rumput idkhir.

Kepadanya, Rasulullah menitah sebuah ayat, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati janjinya kepada Allah; lalu diantara mereka ada yang gugur memenuhi janjinya, dan ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka tetap teguh dengan janjinya.

Inilah Mush’ab yang di masa Islam telah berjaya kelak, sampai membuat Abdurrahman bin Auf menangis tersedu-sedu saat di hadapannya terhidang makanan lezat sepenuh meja. “Mush’ab bin Umair telah wafat terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah.” Ucapnya terisak.

* * *

Pada balada tentang pengorbanan, kulihat Mush’ab begitu bercahaya. Ia laksana pemain utama, diperhatikan ratusan mata pemirsa. Bahkan lelaki paling mulia pun memuji perannya. Hai, tak sampaikah padamu kisah seorang pemuda jelita? Yang rupawan, harum dan parlente dari seisi kota?

Jalan Menuntut Ilmu: Panduan Ringkas dari Awam untuk Awam (1)

Bismillahirrahmanirrahim.

Berikut saya mencoba berbagi cerita tentang pengalaman saya dalam membangun kepahaman terhadap agama dalam level awam. Mohon dipahami bahwa apa yang saya bagi ini bukan cara yang pasti benarnya. Selain itu saya juga masih dalam proses belajar. Pengalaman dan panduan yang saya bagi ini masih belum benar-benar final juga. Tetapi semoga cukup bermanfaat untuk teman-teman yang membutuhkan.

Saya berinisiatif menulis panduan ini berangkat dari pengalaman yang saya alami dalam mempelajari agama Islam. Islam ini sungguh luas. Ibarat bangunan maka ia umpama istana yang begitu luas dengan jumlah ruangan dan lorong-lorong yang tak habis dihitung. Dengan begitu luasnya ajaran Islam ini, dalam rentang waktu yang amat panjang, para ulama merumuskan disiplin-disiplin keilmuan dalam Islam. Dari disiplin-disiplin keilmuan itu sebagaimana umumnya, ada wilayah-wilayah yang diperuntukkan untuk ditempuh para ilmuwan dan ada wilayah lainnya untuk praktek umum bagi awam. Ini yang kemudian diistilahkan dengan hirarki ilmu. Secara ringkas mungkin seperti ini:

  • Awam. Biasa juga diistilahkan muqallid. Kebutuhan mereka terhadap ilmu adalah pada level praktis, dimana mereka memahami cara bagaimana melakukan sesuatu, apa syarat-syaratnya dan semacamnya. Arahnya adalah pemahaman praktis dimana mereka dapat melaksanakan perintah-perintah agama secara sah, atau memahami pokok-pokok pemahaman agama secara benar.
  • Penuntut Ilmu. Biasa juga diistilahkan muttabi’. Perbedaan dengan awam adalah mereka mempelajari ilmu-ilmu selain secara praktis juga secara teoritis. Pada level ini juga berjenjang mulai dari yang masih dekat dengan level awam, sampai ke level tertinggi. Biasanya yang dekat dengan level awam adalah mereka yang memahami teori secara umum atau berupa wawasan (tsaqafi) semata (Biasanya kita akan sampai di level ini). Kemudian jenjang semakin naik ketika mereka menguasai ilmu-ilmu alat (bahasa arab, tajwid, dan banyak lagi) yaitu misalnya para sarjana lulusan madrasah, pesantren dan perguruan tinggi keislaman. Hingga selanjutnya sampai pada tahap penguasaan berupa hafalan dan pemahaman terhadap kitab-kitab induk sesuai disiplin ilmu.
  • Ilmuwan. Biasa juga diistilahkan mujtahid. Tapi dalam pengelompokan saya pribadi mungkin akan saya masukkan dari jenjang aalimmujtahid. Aalim yaitu mereka yang menjadi rujukan terhadap disiplin-disiplin ilmu yang mereka kuasai. Level tertinggi dari aalim adalah allamah, dimana seorang aalim menguasai dan menjadi rujukan terhadap semua disiplin ilmu utama dalam Islam (biasanya dikenal dengan 12 fan ilmu). Sedangkan mujtahid adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk merumuskan kaidah-kaidah dalam disiplin ilmu tertentu atau semuanya. Tergantung penguasaan dan kealimannya terhadap disiplin ilmu apa saja. Level tertinggi biasanya disebut mujtahid mutlak. Contoh mudah mujtahid mutlak adalah para Imam mazhab fiqih, diantaranya adalah Imam Asy Syafi’i rahimahullah.

Dari sanalah bangunan tradisi keilmuan Islam dibangun dengan begitu rapi dan kokoh. Hingga kemudian waktu berlalu menggerus bangunan tersebut sedikit demi sedikit hingga sampai di zaman kita saat ini. Hal ini menyebabkan sebuah fenomena yang disebut Syed Naquib Alattas sebagai ‘The Loss of Adab’. Dimana secara mudahnya bisa kita pahami seperti ini: seseorang tidak memahami kedudukannya sendiri, terutama kedudukan keilmuannya, sehingga berbicara atau berlaku sekehendaknya terhadap sesuatu yang tidak dikuasainya.

Fenomena yang dikemukakan Syed Naquib Alattas tersebut benar-benar terjadi di zaman ini. Tidak perlu saya berikan contoh robohnya tradisi ilmu ini menyebabkan pula hilangnya adab. Dan yang paling banyak terkena imbas fenomena ini adalah orang-orang di level awam, karena jumlahnya yang begitu banyak dibandingkan level-level diatasnya.

Jalan keluarnya adalah menuntut ilmu. Tapi tidak sembarangan menuntut ilmu. Menuntut ilmu secara benar, baik caranya, alatnya, dan sumbernya. Di tengah kemajuan teknologi seperti saat ini memang mudah menemukan jawaban atas suatu masalah tertentu atau mempelajari suatu hal tertentu melalui internet. Semua dapat kita dapatkan di internet. Meskipun itu tidak sepenuhnya salah, tetapi jalan yang lebih tepat untuk menuntut ilmu bukanlah seperti itu. Seorang ustadz tempat kami belajar adab pernah menjelaskan seperti ini:

Ilmu adalah cahaya. Sumber Ilmu adalah Allah, lalu ilmu itu diberikan kepada Nabi Muhammad secara langsung (pengertian langsung ini dijelaskan panjang lebar dalam topik konsep wahyu dan kenabian). Ilmu tersebut disimpan di dalam dada (hati) beliau, satu-satunya wadah yang dapat menampung cahaya. Lalu ilmu tersebut ditransmisikan kepada para shahabat melalui pengajaran (mulut). Diterima oleh shahabat dan tersimpan pula di dada (hati) mereka. Lalu ditransmisikan kepada generasi-generasi selanjutnya dengan cara yang sama.

Begitulah ilmu diwariskan. Underline-nya adalah menuntut ilmu itu membutuhkan bimbingan. Karenanya tradisi keilmuan Islam sejak dulu kala adalah melalui talaqqi. Bahkan sekecil apapun ilmu itu jika didapat melalui bimbingan guru maka itu adalah yang terbaik. Atau setidak-tidaknya yang bisa dilakukan adalah mengkonfirmasikan kebenaran pemahaman kita kepada para guru atau pembimbing tersebut.

Nah diantara para ulama kemudian ada yang men’dokumentasi’kan ilmunya dengan menulis kitab. Kitab-kitab tersebut menjadi panduan bagi muridnya untuk memahami pengajaran sang guru. Kemudian kitab-kitab tersebut disyarah, diringkas, disyarah lagi, dan bahkan diringkas lagi, ada juga yang dikomentari, dikoreksi, diperiksa dan segala bentuk aktifitas ilmiah lainnya oleh generasi-generasi selanjutnya. Sehingga terbentuklah kodifikasi ilmu yang pakem dan standar.

Ilmu-ilmu agama yang utama ada di kitab-kitab induk tersebut. Untuk meneguknya kita tentunya memerlukan bimbingan dari para guru yang sebelumnya telah mempelajarinya dari gurunya terdahulu. Hal ini berbeda dari kita membaca buku-buku yang sifatnya riayah tsaqafi (peningkatan wawasan) atau kitab-kitab yang memang ditujukan untuk amal praktis. Meskipun membaca sendiri kitab-kitab tersebut tidaklah mengapa untuk pengembangan pribadi kita. Hanya saja terkadang misalnya ada intisari-intisari yang lebih bisa dijelaskan oleh yang memiliki kapasitas ilmu. Karenanya kita mengenal ada kitab syarah, yaitu penjelasan terhadap kita tertentu oleh ulama lainnya.

Inilah permasalahan yang terjadi di masyarakat awam muslim saat ini. Terutama yang tidak berlatar belakang pendidikan keagamaan seperti pesantren atau madrasah. Sebagian besar kita pasti memperoleh wawasan atau pengetahuan tentang suatu hal dalam urusan agama melalui internet. Meskipun itu tidak sepenuhnya salah, tetapi itu tidak cukup untuk mengembalikan kita dari penyakit ‘The Loss of Adab’ ini.

Kunci dari keluarnya kita dari fenomena ‘The Loss of Adab’ ini -kemudian dapat kembali membangun tradisi keilmuan Islam yang menjadi pondasi gemilangnya peradaban umat Islam- adalah dengan terbangunnya ‘Islamic Worldview’ pada diri seorang muslim. Ini adalah kunci yang bisa membuka jalan menuju usaha-usaha tadi. Secara epistemologis mungkin akan sedikit rumit untuk dijelaskan, tapi secara praktis sesuai pemahaman saya mungkin bisa dijelaskan seperti ini:

‘Worldview’ adalah cara pandang terhadap segala sesuatu. Inilah yang membentuk paradigma atau mindset, atau pemahaman dan penyikapan seseorang terhadap sesuatu. Dimana hal-hal tersebut menentukan arah ucapan, tindakan, dan segala bentuk perilaku seseorang dalam hidupnya.

Maka ‘Islamic Worldview’ adalah ‘Worldview’ yang didasarkan terhadap ajaran Islam (islami). Maknanya adalah ‘Worldview’ itu disandarkan pada panduan yang diturunkan oleh Allah dan diajarkan oleh Rasulullah (agama Islam). Sehingga seseorang yang memiliki ‘Worldview’ yang Islami akan berucap, bertindak, dan segala bentuk perilaku, bahkan rumusan-rumusan keilmuannya akan dilakukan sesuai dengan yang digariskan oleh ajaran Islam. Mungkin karakteristik paling mudahnya adalah keberpihakan seseorang terhadap Islam dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.

Mungkin ini bisa dikatakan sepadan dengan pengertian ‘sibghatullah’ (Celupan warna Allah) yang ada dalam Al Quran. Yang maknanya adalah kita hidup dengan bimbingan dan panduan Allah, yaitu melalui agama Islam ini. Nah ‘Islamic Worldview’ inilah yang menjadi salah satu akar kegemilangan peradaban Islam. Misalnya bagaimana ilmu-ilmu sains dikembangkan untuk kebermanfaatan manusia baik dalam urusan agama maupun dunia dan tanpa merusak alam (rahmatan lil alamin).

Maka untuk latar belakang yang telah saya jelaskan diatas itulah saya ingin berbagi tips bagaimana belajar agama Islam supaya terbangun ‘Islamic Worldview’ yang benar bagi para awam. Saya juga sampai saat ini masih awam, tetapi saya mungkin pernah melewati masa-masa ‘kebingungan’ dalam belajar agama secara tepat karena belum tahu bagaimana hirarki dan tradisi keilmuan Islam itu dibangun. Masa-masa kebingungan itulah yang membuat kita susah menemukan benang merah meskipun pengetahuan kita terhadap persoalan-persoalan agama cukup banyak. Karena pengetahuan-pengetahuan itu kita ambil secara acak tanpa proses yang tepat, sehingga tidak terbangun ‘Worldview’ yang dikehendaki Islam itu sendiri.

* * * * *

Bersambung ke Bagian 2, Insya Allah berisi tips-tips dan rekomendasi buku atau institusi untuk belajar agama secara intensif untuk awam (kebanyakan sekitar Jakarta dan Surabaya)

Mengenalmu: Duduk di Sisimu

Aku terbangun dari tidurku saat mendengar suara gemerincing air kran di sudut tempat wudhu. Sambil tetap berbaring kulihat jam tanganku. Masih pukul satu dini hari. Aku pun menata kembali sarung dan kantong tidur yang menyelimutiku. Udara dingin sekali di dataran tinggi seperti ini. Apalagi dengan bentuk mushola yang tak berdinding penuh ini. Aku pejamkan mata kembali, mencoba untuk melanjutkan tidurku tadi.
.
Aku terbangun lagi. Kali ini karena beberapa kali mendengar suara terisak. Kulihat jam tanganku lagi. Kali ini sudah pukul dua dini hari. Kuangkat sedikit kepalaku untuk mencari tahu sumber suara yang membangunkanku. Maka kutemukan dirimu sedang duduk di depan mihrab imam. Kepalamu sedikit tertunduk. Dan yang paling mencolok adalah caramu duduk yang sangat khas itu. Bertumpu pada pangkal pinggang, Kaki terangkat menekuk keatas, dan kedua lenganmu melingkari lutut yang berada di sekitar dadamu.
.
Duduk Qurfasha. Begitu yang kuingat dari penjelasanmu dulu saat menjelaskan tentang cara duduk Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sejenak memandangimu di depan mihrab, lalu kuangkat tubuhku bersandar ke dinding. Aku berusaha menaklukkan hawa yang begitu dingin terlebih dahulu. Kau masih tenang duduk di depan mihrab. Sepertinya belum menyadari kalau aku terbangun dan duduk di dinding shaf belakang.
.
Aku masih duduk menahan dingin yang sesekali membuat tubuhku merinding sambil sesekali memandangimu yang masih asyik duduk di depan mihrab. Empat tahun ini, kau salah satu orang yang paling berperan banyak dalam membentuk diriku sampai saat ini. Dimulai dengan perkenalan kita di tempat wudhu masjid sekolah saat jam istirahat. Kau yang saat itu hendak melaksanakan shalat dhuha, dengan senyum yang ramah memperkenalkan diri kepadaku. Sejak saat itu kita sering bertemu di masjid saat jam istirahat sekolah. Lucunya, pada awalnya aku sering menuju masjid saat jam istirahat hanya untuk bersantai dan menyantap bekal makanan di balkon masjid. Maklum uang sakuku tak seberapa banyak dan menu bekal makananku yang biasa saja membuatku sedikit kurang nyaman untuk makan di kelas bersama teman-teman yang rata-rata dari keluarga berpunya. Tapi karena seringnya kita bertemu di masjid dan kulihat kau selalu melaksanakan shalat dhuha, akupun mulai sesekali mengawali dengan shalat dhuha sebelum duduk di balkon dan menyantap bekal makananku. Sedangkan kau kulihat selalu duduk di tempat shalat sampai jam istirahat habis.
.
Hingga pada suatu hari saat jam istirahat selesai, kita berpapasan saat hendak turun dari lantai atas masjid. Kau mengajakku mengikuti kajian kelompok pekanan yang diadakan Rohis sekolah untuk siswa tahun pertama. Sejak saat itu kita semakin sering berjumpa, apalagi dengan berada dalam kelompok kajian pekanan yang sama. Seiring waktu kutemukan dirimu berbeda dengan dengan teman-teman lain seusia kita. Seperti ada magnet yang membuatku kagum dan tertarik pada perangaimu. Kaupun menjadi kawanku yang paling akrab. Darimu kupelajari hal-hal baru, wawasan-wawasan baru, terutama yang berkaitan dengan keislaman. Kita pun beraktivitas bersama dalam berbagai kegiatan dan kepengurusan Rohis sekolah. Hingga selulus SMA dan melanjutkan kuliah di jurusan masing-masing, kita masih berada dalam satu kelompok kajian pekanan yang sama. Sebagaimana hari ini kita sedang rihlah berlibur bersama satu kelompok pekanan yang rutin kita lakukan setidaknya setiap separuh tahun sejak masa sekolah dulu.
.
Hawa dingin yang mulai bisa kukompromikan dengan tubuhku akhirnya mengakhiri lamunanku. Aku putuskan untuk beranjak mengambil wudhu dan menunaikan beberapa rakaat tahajjud. Selepas kutunaikan witir, kulihat kau masih tenang duduk ‘Qurfasha’ di tempatmu sejak tadi. Sejenak berwirid lalu aku beranjak mendekatimu. Aku duduk di samping kananmu dengan duduk ‘Qurfasha’ pula sebagaimana dirimu. Melihatnya, kau pun tersenyum. Kau tahu aku lebih suka duduk bersila daripada duduk seperti yang kau lakukan.
.
“Kau tahu, Rasulullah sering terlihat duduk seperti ini di dalam masjid Nabawi.” Ujarmu.
.
Aku menyungging senyum mengafirmasi kalimatmu itu.
.
“Suatu hari seorang shahabiyah dari belakang melihat Rasulullah duduk seperti ini di masjid. Lalu shahabiyah tersebut mulai merinding dan tak tenang hatinya. Kau tahu kenapa?” Ujarmu menanyaiku.
.
“Kenapa?” Ujarku balik bertanya menyampaikan ketidaktahuanku.
.
“Beliau merasakan bahwa Rasulullah sedang dalam perenungan yang mendalam dan tampak khawatir saat duduk seperti ini. Rasulullah tak pernah khawatir terhadap hal-hal yang sepele. Maka ketika beliau tampak khawatir, pasti beliau sedang memikirkan umatnya. Mungkin Rasulullah sedang mengkhawatirkan ujian atau bencana yang akan menimpa umatnya. Karenanya Qaylah, nama shahabiyah ini, merinding dan tak tenang pula melihat kekhawatiran yang ia lihat pada Rasulullah. Mengetahui Qaylah sedang merinding tak tenang dibelakangnya saat diberitahu salah satu sahabat di dekatnya, Rasulullah pun berujar kepada Qaylah, ‘duhai wanita yang malang, tenanglah’. Mendengarnya, Qaylah pun perlahan mulai tenang.” Ujarmu menjelaskan.
.
“Aku tak menyangka, pada sikap duduk Rasulullah seperti ini, ada kisah yang begitu mendalam.” Sahutku terkesima.
.
“Ya, benar. Duduk dengan melingkarkan lengan memeluk lutut seperti ini membuat kita seperti sedang bersandar meskipun tanpa sandaran dinding. Sehingga seseorang bisa bertahan lebih lama dengan duduk seperti ini. Mungkin itu alasan Rasulullah duduk seperti ini, terlebih saat pikiran-pikiran berat sedang membebaninya. Duduk seperti ini juga menggambarkan ketawadhuan Rasulullah di sekitar umatnya. Sikap duduk yang mudah diakrabi, ramah, dan tidak menurunkan wibawa.” Ujarmu kemudian.
.
Aku mengangguk mendengarkan penjelasanmu itu. Dingin udara dini hari itu seperti mulai tak terasa ketika mendengarkanmu bercerita tentang Rasulullah.
.
Lalu suasana sejenak hening. Sepertinya kau sebagaimana aku, sedang asyik memikirkan Rasulullah di kepala kita masing-masing.
.
“Ceritakanlah lagi.” Ujarku memecah sejenak keheningan itu. Kau masih diam sesaat, tidak langsung melanjutkan ceritamu.
.
“Pernahkah kau membayangkan bagaimana rasanya duduk di sekitar Rasulullah? Atau duduk mendengarkan khutbah dan nasehat-nasehatnya?” Ujarmu malah bertanya.
.
“Aku sering berusaha membayangkannya, tapi aku sadar aku tak akan pernah bisa tahu bagaimana rasanya yang sebenarnya. Kau sendiri, bagaimana rasanya menurutmu?” Sahutku.
.
“Aku pun tak tahu pasti. Yang jelas itu adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidup kita seandainya kita merasakannya. Kebahagiaan yang kita belum pernah rasakan, tapi kita mengenali kenikmatannya.” Jawabmu.
.
Suasana pun sejenak hening kembali. Mungkin kau sedang membayangkan duduk bersama Rasulullah. Mendengarkan khutbah dan nasehat-nasehat di majelisnya yang penuh berkah. Aku bisa membacanya dari air mukamu yang tenang dengan sorot mata yang berbinar itu.
.
“Saat itu Rasulullah mulai menurun kesehatannya. Di hari-hari menjelang akhir hayatnya.” Ujarmu tiba-tiba mulai bercerita. Akupun dengan seksama mendengarkanmu.
.
“Rasulullah meminta sahabat Fadhl bin Abbas mengencangkan ikatan di kepalanya. Kemudian beliau memapah Rasulullah yang bersandar di pundaknya untuk berjalan menuju masjid. Sesampainya, Rasulullah duduk di mimbar dan meminta sahabat Fadhl memanggil orang-orang untuk berkumpul. Kemudian Rasulullah berbicara dihadapan jamaah yang telah berkumpul di hadapannya. Rasulullah mengatakan bahwa waktu sudah semakin dekat baginya untuk meninggalkan umatnya. Siapa saja yang pernah Rasulullah pukul, boleh membalasnya. Siapa saja yang pernah Rasulullah hina atau permalukan, boleh membalas dengan hal serupa. Beliau mengatakan untuk tidak takut apabila mereka membalas Rasulullah akan membencinya, karena Rasulullah tidak memiliki sifat seperti itu dan tidak pantas baginya bersikap seperti itu. Rasulullah menginginkan mereka untuk membalasnya atau memaafkannya, agar ketika berjumpa dengan Penciptanya, adalah perjumpaan dengan kebahagiaan dan tanpa rasa takut. Setelah itu Shalat zuhur dilaksanakan, dan Rasulullah mengulangi lagi ucapannya setelah shalat zuhur selesai. Juga apabila ada yang Rasulullah berhutang kepadanya, Rasulullah meminta untuk diberitahu sehingga beliau bisa melunasinya. Karena kehinaan di dunia tidaklah ada artinya daripada kehinaan di akhirat kelak.” Ujarmu bercerita.
.
“Kemudian bangkit seseorang dan berkata bahwa Rasulullah berhutang kepadanya sebanyak 3 dirham. Lalu Rasulullah memintanya untuk mengingatkannya waktu dan kejadiannya. Lelaki itu pun menceritakan bahwa suatu hari ada seorang pengemis datang kehadapan Rasulullah dan beliau sedang tidak memiliki uang. Lalu Rasulullah memintanya memberikan 3 dirham kepada pengemis tersebut. Rasulullah kemudian meminta Fadhl untuk melunasi hutangnya kepada lelaki tersebut. Kemudian bangkit seorang lainnya. Dia mengaku kepada Rasulullah telah mengambil 3 dirham dari baitul mal secara curang. Ketika Rasulullah bertanya mengapa ia melakukannya, ia menjelaskan bahwa saat itu ia sedang benar-benar membutuhkan dan sangat putus asa. Rasulullah lalu memerintahkan Fadhl mengambil 3 dirham dari lelaki tersebut.” Ujarmu masih bercerita.
.

“Kemudian Rasulullah mengatakan, apabila ada diantara mereka yang takut dengan kebiasaan buruk yang mereka miliki, agar menyampaikannya kepada Rasulullah sehingga beliau dapat medoakan kebaikan baginya. Seseorang kemudian bangkit dan berkata bahwa dirinya mudah berbohong, munafik dan banyak tidur. Lalu Rasulullah mendoakan dirinya semoga Allah memberikannya sifat jujur, keimanan yang kuat dan kesembuhan dari penyakit banyak tidur. Kemudian seorang lainnya bangkit, dan berkata, ‘Ya Rasulullah, saya adalah seorang pembohong, munafiq, dan tak ada dosa yang belum pernah kukerjakan.’ Mendengarnya, Umar bin Khattab pun menghardik lelaki tersebut, memperingatkannya bahwa ia sedang membuka aibnya sendiri. Rasulullah lalu menenangkan sahabat Umar, ‘Tenanglah wahai Umar, aib di dunia masih lebih ringan dan lebih baik daripada aib di akhirat kelak.’ Kemudian Rasulullah mendoakan lelaki tersebut agar diberikan Allah sifat jujur, kekuatan iman dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kemudian sahabat Umar bangkit dan menyampaikan pesan kepada para hadirin. Kemudian Rasulullah berkata, ‘Umar bersamaku, dan aku bersama Umar. Sepeninggalku, Umar akan tetap berada diatas kebenaran kemanapun ia pergi.'” Ujarmu
.
“Ada lagi seseorang bangkit dan berkata kepada Rasulullah bahwa dirinya adalah seorang penakut dan banyak tidur. Rasulullah kemudian berdoa untuk lelaki tersebut. Kelak kemudian, sahabat Fadhl mengatakan, bahwa tak ada yang lebih pemberani dari lelaki ini, yang meminta Rasulullah mendoakannya dari sifat penakut. Kemudian Rasulullah beranjak mendekati bilik Siti Aisyah dan menyampaikan hal yang sama kepada para wanita yang berkumpul disana. seorang sahabiyah bangkit dan mengatakan pada Rasulullah bahwa dirinya tidak bisa menahan mulutnya dari perbuatan yang menyebabkan dosa. Maka Rasulullah pun mendoakan sahabiyah tersebut.” Ujarmu mengakhiri ceritamu dengan suara yang gemetar dan mulai terisak.
.
“Ada apakah?” Tanyaku kepadamu dengan penuh keheranan karena isakanmu.
.
“Mereka ini para sahabat Rasulullah. Generasi terbaik umat ini. Tapi mereka masih saja begitu takut dan khawatir dengan kemunafikan dan perangai buruk dalam diri mereka. Suatu masa diantara mereka merasa dirinya telah menjadi munafik lalu begitu takut dan sedih dengan hal itu. Sedangkan diriku, mungkin sering berdoa untuk ditetapkan dalam keimanan dan dijauhkan dari kemunafikan. Bahkan mungkin diriku rutin berdoa seperti itu selepas shalat. Tapi aku belum pernah benar-benar merasa khawatir bahwa diriku telah melakukan kemunafikan. Aku takut menjadi seperti apa yang pernah Imam Hasan al Basri katakan. Siapa yang tidak pernah merasa takut dengan kemunafikan, sebenarnya dia telah menjadi orang munafik. Aku takut. Aku takut. Aku takut telah menjadi munafik selama ini tanpa aku sadari. Sedangkan aku tak bisa seperti para sahabat yang langsung meminta didoakan Rasulullah yang pasti dikabulkan Allah doanya. Aku takut sekiranya kemunafikan dalam hatiku yang tak kusadari telah menghijab doa-doaku dari pengijabahan Allah. Ya Allah. Ya Rabb.” Ujarmu semakin terisak sambil terus memanggil nama Allah.
.
Aku tertegun. Tubuhku mematung disampingmu. Dingin tiba-tiba merasuki badanku. Aku bahkan tak mampu menggerakkan bibirku. Kau yang selama ini kujadikan cermin untuk mengakrabi kebaikan dan kebenaran, masih juga dipenuhi rasa takut seperti ini. Lalu bagaimana dengan diriku? Mungkin diantara kita, aku yang akan lebih mudah terjerumus dalam kemunafikan dan aku tak sadar akan hal itu.
.
Tubuhku gemetar. Tulangku seakan lepas. Jika Abu Bakar dan Hanzhalah saja berkata, ‘ya Rasulullah, kami telah munafik!’, lantas bagaimana dengan diriku?
.

[Rangkaian #serisyamail mengenalmu]

#serisyamail #maulid #rasulullah

Mengenalmu: Berjalan Bersamamu

Aku tak mampu. Tiga hari kupaksa dan tetap saja aku tak mampu. Kalimat-kalimat yang biasanya mudah saja kurangkai tiba-tiba jadi beku. Jemariku kaku saat kucoba menari diatas tombol-tombol keyboard.
.
Mungkin Malu. Malu saat tahu ada sekelompok manusia begitu baja tekadnya. Menempuh perjalanan berratus kilometer, berjalan kaki. Apa yang mereka cari? Apa yang membuat mereka begitu ‘nekat’? Kekuatan apa yang merasuki kaki-kaki mereka? Beragam pertanyaan silih berganti memenuhi kepalaku tanpa ada yang terjawab. Mungkin karena aku tak tahu rasanya.
.
Kuputar lagi rekaman-rekaman itu sesempat waktu. Beberapa malamku bahkan sempat tak menyenangkan. Bagaimana tidak, sambil berbaring dan lampu kamar telah padam, mataku masih tak habis-habis meneteskan air mata melihat rekaman-rekaman perjalanan mereka. Kenekatan mereka ternyata tak banyak dicemooh tapi malah mengundang simpati dan dukungan. Tanpa ada instruksi orang-orang berbondong-bondong datang ke sisi-sisi jalan yang mereka lewati. Mereka disambut layaknya pejuang yang terhormat. Bermacam hidangan dan bantuan perlengkapan rapi berjejer di jalan-jalan disuguhkan untuk mereka. Kulihat kaum ibu berkaca-kaca matanya sambil menyerukan doa dan keselamatan untuk mereka. Para bapak menyambut dengan pelukan dan ciuman di kening-kening mereka. Anak-anak meneriakkan yel-yel penyemangat yang disambut takbir berkali-kali. Pemandangan macam apakah ini? Aneh, susah dimengerti dan sulit dijelaskan akal, tetapi tetap saja mampu membuat hatiku luluh.
.
Lalu hari pamungkas itu tiba. 2 Desember 2016. Dan aku mungkin termasuk yang datang terakhir di antara mereka.
.
“Apa yang membuat manusia berbondong-bondong datang kemari?” Tanyaku padamu di sisi salah satu jalan, menumpahkan pertanyaan-pertanyaan yang menyesaki benakku sejak kemarin.
.
“Banyak hal, tapi sebenarnya muaranya satu.” Jawabmu ringan meninggalkan keheranan lain bagiku.
.
“Maksudmu?” Tanyaku mengejar.
.
“Ada yang datang kemari karena kecintaannya pada Al Qur’an. Ada yang karena kepatuhannya pada kyai. Ada yang karena keberpihakannya kepada umat. Mungkin juga ada yang sekedar menemani orang tua, saudara, atau kawan-kawannya. Tapi kau tahu apa yang sama diantara semua alasan-alasan itu?” Ujarmu menjelaskan diikuti pertanyaan kepadaku.
.
“Mmm, apakah itu?” Tanyaku menyerah, tak bisa lagi berpikir setelah semua pertanyaan-pertanyaan menyesaki benakku itu.
.
“Iman.” Jawabmu singkat.
.
“Iman?” Tanyaku dengan mengulang ucapanmu karena heran.
.
“Ya, Iman. Apapun alasan orang datang kemari, aku yakin itu semua adalah akibat dari Iman. Iman memiliki akibat, kawan. Bahkan pada porsi paling kecil sekalipun. Akibat Iman hanya antara dua, meridhai kebaikan atau menyelisihi keburukan. Sedangkan bagaimana bentuknya, itu tergantung pada besar porsinya masing-masing.” Jawabmu menjelaskan keherananku.
.
“Iman itu mungkin semacam cermin. Memantulkan cahaya sebanyak cahaya yang sampai padanya. Kau tentu tahu tentang hadits saat melihat kemungkaran. Diantara menghalau dengan tangan, mencegah dengan lisan, dan mengingkari dengan hati, yang terakhir itu adalah selemah-lemah Iman. Begitulah Iman menggerakkan orang-orang ini datang kemari dengan berbagai niat dan alasan yang mereka bawa. Bahkan pada alasan paling sepele yang membuat mereka datang kemari sekalipun, itu adalah akibat dari Iman yang ada di dada mereka.” Ujarmu melanjutkan.
.
Aku hanya bisa diam mendengar penjelasanmu. Mencoba memahaminya dengan baik.
.
“Kau tahu sekelompok orang yang berjalan dari Ciamis itu?” Tanyamu kemudian, sesaat setelah melintas serombongan remaja sambil melantunkan syair-syair salawat.
.
“Ya aku tahu.” Jawabku menganggukkan kepala.
.
“Tak herankah kau dengan apa yang menguatkan kaki dan tekad mereka berjalan sejauh itu? Di masa yang sudah dimudahkan dengan berbagai moda transportasi seperti ini, hal itu sangat sulit dilakukan orang dengan tekad biasa.” Ujarmu mengingatkanku lagi pada sumber ketidaktenanganku setiap malam itu.
.
“Tentu saja aku heran. Malah merekalah yang menjadi penyesak utama dalam benakku hari-hari ini.” Sahutku seketika.
.
“Aku jadi iri dan malu kepada mereka. Menyaksikan rekaman-rekaman itu seakan aku melihat mereka sedang berjalan bersama Rasulullah.” Ujarmu yang membuatku mengernyit heran.
.
“Berjalan bersama Rasulullah?” Tanyaku mengungkapkan keheranan.
.
“Kita mungkin sekedar tahu dari bacaan-bacaan kita tentang bagaimana Rasulullah berjalan. Beliau Berjalan dengan tegak yang tak membuatnya terlihat sombong, juga dengan tawadhu yang tak membuatnya terlihat lemah. Sebatas itu yang kita tahu. Tapi mereka mungkin lebih paham bagaimana rasanya Rasulullah berjalan. Jarak yang jauh mereka tempuh dengan tekad yang tegak. Disambut di sepanjang jalan tak membuat mereka berbangga diri tapi malah menjadi pemantik semangat mereka untuk terus berjalan. Kau tak akan berani menyebut mereka lemah meskipun ada diantara mereka yang akhirnya harus ditandu dan berhenti berjalan karena keterbatasan kondisi.” Ujarmu menjelaskan.
.
“Melihat mereka dari rekaman-rekaman itu seakan mereka sedang berkata padaku, beginilah Rasulullah mengajarkan kami berjalan. Tegak tanpa kesombongan, merendah tanpa kehinaan. Mereka seakan berjalan bersama Rasulullah. Bagi mereka berjalan dengan Rasulullah tak perlu menunggu kehadiran fisik beliau secara nyata. Mungkin juga seperti yang dirasakan kafilah hijrah pertama ke Habasyah. Apa menurutmu yang membuat mereka rela jauh dari Rasulullah, menuju negeri antah-berantah, terpisah dari keluarga dan saudara, pun keselamatan yang belum pula terjamin? Aku rasa mungkin karena mereka juga paham bahwa meski fisik Rasulullah tak membersamai mereka, tapi mereka tetap berjalan bersama Rasulullah. Berjalan bersama kecintaan kepada Rasul mereka. Berjalan bersama kepatuhan atas titah Rabb mereka.” Ujarmu panjang lebar membuatku hanya bisa terdiam memperhatikan setiap kata yang kau ucapkan.
.
“Kita mungkin sekedar tahu dari bacaan-bacaan kita tentang Rasulullah yang terkadang berjalan bertelanjang kaki. Tapi kita mungkin tak akan lebih paham dari Ali bin Abi Thalib sepupu Rasulullah saat itu yang tertinggal terakhir berhijrah ke Madinah. Setelah sebelumnya berkorban diri telah siap mati menggantikan Rasulullah tidur di ranjangnya, menunggu tebasan pedang para pemuda Quraisy yang telah mengepung rumah Rasulullah itu. Ali berjalan terakhir saat berhijrah menuju Madinah, tertinggal tiga hari dari Rasulullah dan Abu Bakar. Sesampainya, Rasulullah meminta Ali untuk menemuinya, tapi ia tak mampu lagi berjalan. Saat Rasulullah datang, beliau menemukan sepupunya itu membengkak dan berdarah kedua kakinya. Rasulullah sampai menangis dan memeluk Ali. Beliau meludah ke kedua tangannya dan mengusap ke kedua kaki Ali seraya mendoakan kesehatan untuknya. Sejak saat itu tidak pernah lagi Ali merasakan sakit hingga kematiannya.” Ujarmu lagi
.
“Aku takut. Aku takut jika saja selama ini belum benar-benar mengenal Rasulullah. Aku mungkin hafal betul berbagai seluk beluk fisik dan perilakunya. Tapi aku sering tertinggal dari yang lainnya dalam beramal. Seakan Rasulullah hidup di setiap amal mereka, sedangkan padaku, Rasulullah mungkin hanya hidup dalam hafalan dan ingatan. Aku belum benar-benar bisa seperti mereka yang mampu berjalan bersama Rasulullah bahkan tanpa kehadirannya sekalipun. Lalu selama ini bersama siapa aku berjalan?” Ujarmu semakin menyesakkan dadaku.
.
Bibirku tak bergeming. Lidahku kaku. Pertanyaan di akhir ceritamu itu pun berkelebat terus di pikiranku. Selama ini bersama siapa aku berjalan? Diatas jalan siapa aku berjalan? Lama kita terdiam setelah ceritamu itu. Hingga tak terasa rintik-rintik hujan mulai berjatuhan diiringi Adzan yang menggema memenuhi ruang-ruang jalanan. Semakin deras hujan turun saat itu, meski tak membuat orang-orang beranjak dari tempatnya. Kulihat beberapa orang berwudhu dengannya. Sebagian lain mulai menata shaf mereka. Kau pun bangkit mengajakku bergabung dalam barisan shaf shalat jumat paling besar sepanjang hidup kita itu. Jutaan manusia pun khusyuk bersama melaksanakan shalat jumat diantara rintik hujan yang membasahi tubuh mereka.
.
Selesai shalat jumat dan ditutupnya rangkaian acara itu, aku berjalan pelan menyusuri pinggir jalan sepanjang Thamrin. Dari belakang kudengar suara gemuruh manusia yang hendak bergerak berkonvoi menyusuri Thamrin hingga Sudirman. Lamat-lamat kupandangi mereka, hingga terngiang di telingaku sebuah ayat yang pernah disyarah Murabbi kami dulu di suatu sesi pertemuan pekanan.
.
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS At-Taubah: 41)
.
Rombongan konvoi itu semakin mendekat ke tempatku berdiri. Jantungku serasa dipompa semangat yang entah datang dari mana. “Ya Rasulullah, ijinkan aku berjalan bersamamu.” Ujarku lirih seraya melangkahkan kakiku mengikuti rombongan manusia menyusuri jalan Thamrin – Sudirman siang itu.
.

[Rangkaian #serisyamail mengenalmu]

#serisyamail #maulid #rasulullah #aksibelaislam3 #212

Mengenalmu: Menemanimu ke Medan Laga

“Ayah, sebenarnya saat kecil dulu aku punya satu cita-cita sebelum aku berubah haluan dengan berkuliah di bidang kedokteran.” Ucapmu tiba-tiba kepadaku yang duduk di samping kasur tempatmu berbaring.
.
“Benarkah? apakah cita-cita masa kecilmu itu?” Tanyaku menimpalimu.
.
“Dulu aku bercita-cita menjadi tentara. Tapi dengan kehendak Allah seperti saat ini, aku merasa beruntung mengubah haluan cita-citaku. Kalau tidak, mungkin aku akan menyimpan kecewa atas takdir Allah.” Jawabmu menjelaskan.
.
“Memangnya apa yang salah dengan cita-cita masa kecilmu itu?” Tanya penasaran.
.
“Karena salah satu syarat menjadi tentara tentunya adalah mempunyai fisik yang sehat dan prima. Satu syarat yang susah kupenuhi dengan kondisi seperti saat ini. Lalu kemudian aku beralih dengan berkuliah di bidang kedokteran. Kalaupun tak sampai juga karena kondisi saat ini, aku tak meninggalkan sesuatu apapun untuk disesali. Makanya aku merasa beruntung Allah menggerakkan hatiku beralih cita-cita, sehingga aku tak terlalu susah menerima takdirNya ini.” Ucapmu menerangkan alasan.
.
Aku sejenak tertegun mendengar ucapanmu itu. Allah mengaruniakanmu menjadi anak tunggal dari pernikahanku dengan ibumu. Kemudian di usiamu yang baru setahun berkuliah, Allah menghendakimu mengidap penyakit. Kau menderita Leukemia Limfosit Kronis. Penyakit yang sebenarnya lebih sering menyerang usia diatas 50 tahun. Dan yang menjadi lebih ironis bagiku dan ibumu, adalah karena kau sedang berkuliah di bidang kedokteran. Kau ingin jadi dokter yang membantu mengobati orang lain, tapi Allah menakdirkanmu sering berbaring di ranjang rumah sakit. Hampir genap tiga tahun sejak kau mengidap penyakit ini. Tapi aku beruntung mempunyai anak sepertimu. Kau begitu sabar sejak pertama kali mengetahui kau mengidap penyakit ini. Aku hampir tak pernah mendengarmu mengeluh dengan kondisimu ini.
.
“Mengapa tidak. Kau tentu bisa menjadi tentara bahkan dengan kondisi saat ini.” Jawabku kemudian diiringi keheranan yang tampak di wajahmu yang pucat pasi.
.
“Maksud Ayah?” Tanyamu heran.
.
“Kau bisa menjadi tentara. Tapi tentaranya Allah. Allah tak pernah meminta syarat pada bentuk dan kondisi fisik seseorang untuk menjadi tentaraNya.” Jawabku menebus keherananmu.
.
“Tapi amalku juga tak bisa sebanyak mereka yang memiliki kondisi fisik lebih baik dariku.” Jawabmu seakan lesu.
.
“Kata siapa? Di luar sana banyak sekali orang yang berfisik prima tapi lalai dari Allah. Sedangkan kulihat kau tak pernah putus dengan dzikir, tilawah dan ibadah-ibadah lainnya di tiap waktu.” Jawabku mencegah rasa pesimismu.
.
Kau tertegun mendengarkanku. Sesaat kemudian bibirmu bergumam pelan mengucap istighfar. Aduhai beruntungnya aku mempunyai anak shalih sepertimu.
.
“Jadilah tentara Allah dalam kondisi apapun. Jadilah bagian kafilah yang bergerak di bawah panji Rasulullah. Semua tentara Allah itu tangguh dan pakaiannya gagah. Mereka berjalan dalam barisan yang dipimpin Rasulullah yang paling tangguh dan gagah diantara semuanya. Tak ada yang kecewa jika menjadi tentara Allah. Tentara Rasulullah.” ujarku dengan menatap lekat ke kedua matamu.
.
Mendengarnya, kulihat matamu nanar. “Ayah, ceritakan padaku kegagahan Rasulullah dengan perlengkapan perangnya seperti sering kau ceritakan saat aku kecil dulu. Aku ingin menghadirkan gambaran kegagahan Rasulullah di kepalaku sebelum tidur malam ini.” Ujarmu meminta.
.
Lantas kugenggam jemarimu dan membenarkan posisi dudukku.
.
“Rasulullah memiliki beberapa pedang. Setiap pedangnya memiliki nama. diantaranya adalah Al Mathur, ialah pedang yang diwarisi dari ayahnya Abdullah. Selain itu ada Al Adb, Al Battar, Qal’i dan Al Qadib. Dan yang paling terkenal dan legendaris adalah Dzulfikar, seperti namamu. Pedang dengan dua mata ini dibawa Rasulullah ketika memasuki Makkah saat peristiwa Fathul Makkah.” Ujarku bercerita.
.
“Gagang hulu pedang Rasulullah terbuat dari perak. Pedangnya adalah jenis hanafiyyah. Dibuat oleh Bani Hanifah, pembuat pedang yang paling bagus dan halus. Begitu bagusnya pedang Rasulullah, banyak sahabat meniru bentuk pedang Rasulullah. Diantaranya adalah sahabat Samurah bin Jundub. Ibnu Sirin seorang tabi’in bahkan membuat pedangnya mirip dengan kepunyaan sahabat Samurah bin Jundub karena Ibnu Sirin tahu pedang Samurah mirip dengan pedang Rasulullah.”
.
“Selain itu, baju-baju besi Rasulullah juga memiliki nama. Beliau memiliki tujuh baju besi. Diantaranya adalah Dzatul Fudul, baju besi yang digadaikan beliau kepada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha’ bahan makanan untuk makanan keluarganya. Selain itu ada Dzatul Wishah, Dzatul Hawashi, As Sa’diyyah, Fiddah, Al Batra’, dan Al Khirniq. Beliau juga memiliki helm yang terbuat dari besi yang bernama Al Muwashah.” Lanjutku bercerita.
.
Kulihat matamu terpejam. Sepertinya kau sedang membayangkan Rasulullah di kepalamu melalui cerita yang kusampaikan. “Gagah sekali Rasulullah.” Ujarmu bergumam dengan tetap memejam mata.
.
“Anakku, tahukah kau ada baju besi yang lebih tangguh dari semua baju besi yang dimiliki Rasulullah itu?” Ujarku kemudian.
.
“Apakah itu?” Tanyamu ingin tahu.
.
“Bukan apa, tapi siapa. Dialah Thalhah bin Ubaidillah. Kepahlawanannya semerbak harum sepenjuru Gunung Uhud. Dia adalah baju besi yang melindungi Rasulullah di perang Uhud. Saat itu barisan pasukan Islam goyah tersebab ketidakdisiplinan regu pemanah. Pasukan musuh berhasil merangsek hingga hampir mendekati Rasulullah. Saat itu ada 11 prajurit Anshar dan Thalhah yang seorang Muhajirin. Mereka melingkar melindungi Rasulullah.” Ujarku bercerita.
.
“Lalu satu persatu prajurit Anshar gugur saat melindungi Rasulullah dari serangan musuh hingga tersisalah Thalhah satu-satunya yang berada dengan Rasulullah. Maka Thalhah pun memeluk Rasulullah dengan tangan kiri dan dadanya. Sedangkan tangan kanannya menebas-nebas serangan musuh dengan pedangnya. Sengit dan perih sekali serangan yang diterima Thalhah. Saat itu Rasulullah hendak naik keatas bukit untuk menyeru barisan pasukan muslim yang tergoyah karena kabar bahwa Rasulullah telah dibunuh. Tapi sulitnya keadaan saat itu, ditambah dua baju besi yang ia kenakan berlapis membuatnya terasa berat. Begitu susahnya hingga beliau terjatuh dan melukai wajahnya. Thalhah yang masih sibuk menghalau para musuh yang menyerang Rasulullah itu kemudian menggendong Rasulullah. Dia bawa Rasulullah ke puncak bukit. Kemudian ia kembali lagi bertarung dengan pasukan musuh.”
.
“Ketika Rasulullah berada di puncak bukit dengan selamat, Abu Bakar dan Abu Ubaidah yang berjarak agak jauh dari Rasulullah kemudian mendekati Rasulullah. “Tinggalkan aku, bantulah Thalhah!” Seru Rasulullah. Maka keduanya pun mencari Thalhah. Mereka menemukan thalhah terkulai diatas tanah, Badannya babak belur dengan lebih dari 80 luka di tubuhnya, dan jemarinya tangannya putus. Mereka berdua mengira Thalhah telah gugur. Tak lama kemudian Thalhah terbangun. Ternyata ia pingsan. Maka segeralah keduanya menolong Thalhah. Kepahlawanannya membuatnya mendapat julukan Asy Syahidul Hayy, Seorang syahid yang hidup. Rasulullah berkata, “Siapa ingin melihat orang berjalan di muka bumi setelah kematiannya, maka lihatlah Thalhah. Dan Wajib baginya surga.” Kepahlawanannya melegenda. Setiap kali para sahabat mengenang peristiwa Uhud, mereka berujar bahwa peperangan Uhud adalah milik Thalhah seluruhnya.”
.
“Itulah Thalhah. Perisai dan baju besi yang melindungi Rasulullah. Yang masih hidup namun telah bergelar syahid. Baginya, dijanjikan surga diantara 10 sahabat yang utama.” Ujarku mengakhiri cerita.
.
“Ayah, Aku ingin menjadi tentara Allah. Tentara Rasulullah. Seperti Thalhah yang menyerahkan seluruh tubuhnya terkoyak untuk melindungi Rasulullah.” Ucapmu sambil berlinangan air mata.
.
“Kau telah menjadi tentara Allah, Nak. Kau adalah tentara Allah.” Jawabku sendu sambil mencium keningmu. “Sekarang tidurlah. Bawa Rasulullah ke dalam mimpimu. Jadilah engkau perisai dan baju besi baginya.” Ujarku disambut senyum di sudut bibirmu.
.
Ditingkah gemericik hujan yang terdengar diantara jendela malam itu, kuajak ibumu mengambil wudhu. Di sudut kamar tempatmu tertidur diatas ranjang rumah sakit itu, kami mendirikan shalat. Kugenggam erat tangan ibumu yang duduk bersandar di sampingku seusai shalat. “Ya Allah, kuatkan kami.” Gumam ibumu lirih. Kurasakan air matanya membasahi pundakku. Aku dekap erat pundak ibumu. “Allah Maha Kuat, Nai. Allah Maha Kuat.” Ujarku masih mendekapnya.
.
“Diantara orang-orang Mukmin itu terdapat sejumlah laki-laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang memberikan nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka merubah pendiriannya sedikit pun juga!” (QS Al-Ahzab: 23)
.
(Tulisan ini dimaksudkan juga sebagai tribut untuk seorang kawan yang telah menemui takdirnya. Seorang murabbiyah yang shalihah, baik terhadap kawan-kawannya, serta tulus dan lembut hatinya. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan mencurahkan nikmat untuknya.)
.

[Rangkaian #serisyamail mengenalmu]

#serisyamail #maulid #rasulullah

Mengenalmu: Cincin di Jemarimu

Aku sedang duduk di pelataran rumah kita membaca sebuah kitab berjudul Al Wafa, saat kau menghampiri dari dalam dengan membawa segelas susu hangat diatas nampan. Kau letakkan segelas susu itu diatas meja di hadapanku. Lantas kau duduk di sampingku. Kau silangkan tangan kirimu ke tangan kananku. Sambil menyandarkan kepalamu di pundakku, sesekali kau mengelus cincin perak di jari manisku.
.
Tak terasa sudah tiga bulan berlalu saat aku mengucap akad dengan ayahmu untuk menikahimu. Maharku tak banyak, tapi engkau ridha. Lalu cincin perak yang sama-sama kita pakai ini adalah hadiah untukmu atas pernikahan kita.
.
“Sejak kau membisikiku saat memasangkan cincin ini di jemariku, bahwa cincin Rasulullah juga terbuat dari perak, aku jadi sering mengingat Rasulullah saat memakai atau melihat cincin kita.” Ujarmu sambil mengelus cincin di jemariku.
.
Mendengar ucapanmu itu, aku hanya tersenyum dan menempelkan kepalaku ke kepalamu yang sedang bersandar di pundakku.
.
“Ceritakanlah lagi padaku tentang cincin Rasulullah. Aku suka mendengarmu bercerita tentang beliau.” Pintamu sambil sedikit mendongak kearah wajahku.
.
“Baiklah.” Jawabku mengiyakan sambil menutup kitab yang sedang kubaca. “Seperti cincin kita, cincin Rasulullah juga terbuat dari perak. Sedangkan permata pada mata cincinnya disebutkan berasal dari Abessinia.” Ujarku mulai bercerita.
.
“Beliau disebutkan memiliki dua cincin. Salah satu cincinnya berfungsi sebagai stempel resmi untuk mengirim surat ke raja-raja dan penguasa di luar Madinah. Saat itu Rasulullah hendak mengirim surat dakwah kepada penguasa-penguasa bangsa Ajam. Tetapi formalitas menghendaki surat yang diterima raja atau penguasa harus memiliki stempel, maka dibuatlah cincin yang difungsikan sebagai stempel untuk Rasulullah.” Ujarku panjang lebar menceritakan.
.
“Pada cincin itu terukir tulisan ‘Muhammad Rasulullah’ dalam tiga urutan baris. Beliau melarang sahabat untuk membuat cincin yang meniru miliknya agar dapat diketahui keaslian cincin tersebut. Kau tahu? cincin perak Rasulullah berwarna putih sekali. Seorang sahabat yang menceritakan tentangnya sampai begitu ingat betapa putihnya cincin itu di tangan Rasulullah.” Ujarku masih bercerita.
.
“Bagaiman cara Rasulullah memakai cincin?” Tanyamu kemudian.
.
“Ada riwayat yang menyebutkan beliau memakai di tangan kanan, dan ada pula yang menyebutkan di tangan kiri. Jika mengikuti kesesuaian adab sebagaimana dikaji Imam Ibnu Hajar, beliau menyimpulkan bahwa digunakan di tangan kanan untuk menampakkan keindahan, dan digunakan di tangan kiri jika berfungsi sebagai stempel. Begitu juga apakah mata cincin menghadap ke luar atau ke dalam. Apabila untuk menampakkan keindahan maka dihadapkan ke luar, sedangkan untuk melindungi dari kesombongan maka dihadapkan ke dalam. Beliau lebih suka memakai cincinnya di jemari paling kecil, kelingking atau jari manis.” Jawabku menjelaskan.
.
“Beliau juga melepaskan cincinnya ketika hendak memasuki kamar kecil. Ini sebagian adab yang diajarkan Rasulullah untuk tidak menyertakan lafadz ayat-ayat Al Qur’an dan lafadz nama Allah saat memasuki kamar kecil.” Ujarku melanjutkan.
.
“Saat ini, apakah cincin Rasulullah masih tersimpan?” Tanyamu.
.
“Sahabat Muaiqib adalah yang menjadi penyimpan cincin stempel Rasulullah sejak beliau masih hidup. Sepeninggal beliau, cincin itu masih digunakan oleh Amirul Mukminin Abu Bakar, Umar, hingga Utsman, radhiyallahu anhum. Di masa Utsman, saat beliau bertemu di dekat sumur Aris untuk mengembalikan cincin itu kepada sahabat Muaiqib, cincin itu jatuh ke dalam sumur Aris dan tidak bisa ditemukan. Sebagian ulama menyebutkan sejak saat itu mulai muncul kegaduhan dan fitnah di masyarakat.” Jawabku panjang lebar.
.
“Jadi cincin itu semacam menjadi isyarat tentang masa-masa yang terjadi sepeninggal Rasulullah.” Ujarmu menduga.
.
“Bisa jadi.” Sahutku. “Ah, terkait itu, aku jadi ingin menambahkan cerita kepadamu tentang cincin Rasulullah. Maukah kau mendengarkannya?” Tanyaku kemudian.
.
“Tentu saja. Ceritakanlah.” Sahutmu seketika.
.
“Bagiku, cincin Rasulullah seakan menyimpan rentang masa yang jauh melampaui usia beliau. Rentang masa yang telah ditakdirkan oleh Allah bermula dari cincin ini. Kau tahu cincin Rasulullah dibuat sebagai stempel untuk mengirim surat dakwah ke penguasa-penguasa di luar Madinah. Kisra penguasa Persia, Kaisar penguasa Romawi, dan Najasyi penguasa Abessinia adalah diantara penguasa yang Rasulullah kirimi surat dakwah.” Ujarku mulai bercerita.
.
“Kisra penguasa Persia itu menerima surat Rasulullah. Lalu keangkuhannya membuatnya menolak ajakan Rasulullah dan merobek surat tersebut. Mendengarnya Rasulullah pun berdoa semoga Allah merobek-robek kerajaannya. Maka terjadilah hal itu. Tak lama Kisra penguasa Persia dibunuh dengan keji oleh anaknya, dan selama bertahun-tahun kemudian kerajaan Persia dalam keadaan tidak stabil, penuh pemberontakan dan berganti-ganti penguasa.” Lanjutku menceritakan.
.
“Lalu Kaisar Heraklius penguasa Romawi. Ia menerima surat dakwah Rasulullah dan membacanya. Ia mentakzimi surat tersebut. Bahkan ia menghardik pamannya yang mencela surat tersebut karena tidak mendahulukan nama Heraklius sebelum nama Rasulullah. Heraklius pun menjawab pamannya, “Kau ingin aku membuang surat yang ditulis oleh orang yang didatangi Malaikat Jibril? Jika dia seorang utusan Allah, maka begitulah memang utusan Allah menulis surat!” Kemudian Ia mengumpulkan para menterinya dan dikabarkannya tentang seorang utusan Allah yang berasal dari Arab. Maka gusar dan marahlah para menterinya, yang menyebabkan kaisar mengurungkan niatnya untuk mengajak mereka memeluk Islam, karena takut akan dibunuh dan kekuasaannya dirampas. Ia lalu mencium surat dari Rasulullah itu dan menempelkannya di keningnya. Ia simpan surat itu dalam kotak emas dan balutan sutera. Ia dan generasi-generasi selanjutnya tetap menyimpan kotak emas berisi surat Rasulullah itu. Ia pernah berujar di hadapan kafilah Arab yang sedang berdagang di Syam, bahwa andaikan Rasulullah dihadapannya, ia akan membasuh kaki Rasulullah. Ia bahkan yakin suatu saat Islam yang dibawa Rasulullah akan mencapai wilayah kerajaannya. Kepadanya, Rasulullah berujar bahwa Kisra memilih merobek-robek kerajaannya, sedangkan Kaisar memilih untuk melindungi kerajaannya.” Ujarku panjang lebar masih bercerita.
.
“Kemudian kepada Najasyi penguasa Abessinia. Surat itu diberikan kepadanya melalui sahabat Amr bin Umayyah Ad-Damri. Menerima surat itu dan membacanya, Najasyi menemukan kebenaran dalam surat Rasulullah. Dan persaksian Rasulullah bahwa Isa adalah utusan Allah semakin memantapkan keyakinannya. Maka ia pun masuk Islam dan mengumumkannya kepada khalayak. Kemudian Najasyi mengutus anaknya untuk membalas surat Rasulullah. Berangkatlah anaknya disertai rombongan 70 orang untuk bertemu Rasulullah. Namun kapal yang dinaiki mereka tenggelam di tengah lautan dan tak ada satupun dari mereka yang selamat. Raja Najasyi ini meninggal ketika Rasulullah masih hidup. Kepadanya, Rasulullah melakukan shalat jenazah setelah mendapat kabar kematiannya. Itulah diantara kisah di balik cincin Rasulullah.” Ujarku menyelesaikan cerita.
.
“Benar sekali apa yang kau katakan, Mas. Cincin Beliau menyimpan rentang masa yang begitu jauh dan panjang akan perjalanan dakwah Islam yang dibawanya.” Ujarmu setelah dengan seksama mendengarkan ceritaku.
.
“Begitulah. Cincin beliau menyimpan cerita kehancuran orang-orang yang angkuh seperti Kisra, tidak berdayanya isyarat hati yang diselimuti rasa malu dan ketakutan seperti Kaisar, serta bersemangatnya jiwa menyambut kebenaran dan kerelaan berkorban seperti Najasyi beserta anaknya.” Ujarku lagi.
.
“Benar sekali, Mas.” Sahutmu mengiyakan.
.
“Begitu juga cincin yang kita pakai ini.” Lanjutku lagi, diiringi kernyit heran di pelipismu mendengarnya.
.
“Memangnya, ada apa dengan cincin yang kita pakai?” Tanyamu heran.
.
“Aku berharap selain ia menjadi pengikat biduk rumah tangga kita, ia juga merentangkan masa melebihi umur kita kelak. Rentangan-rentangan berupa generasi yang melanjutkan perjalanan dakwah Nabi kita yang bermula dari cincinnya. Generasi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintai mereka. Begitulah aku memulai niatku saat meminangmu.” Ujarku sambil kembali menempelkan kepalaku ke kepalamu.
.
Mendengarnya kau tersenyum simpul dan merajuk lembut di pundakku. “Begitu pula niatku saat menerima pinanganmu.” Ujarmu sambil menggenggam jemariku.
.

[Rangkaian #serisyamail mengenalmu]

#serisyamail #maulid #rasulullah