Menjadi Teman Anak Kader

Ini tentang berusaha berprasangka baik pada Allah. Pada takdir yang telah ditetapkannya bagi kami. Berprasangka baik terhadap wajah-wajah teduh yang mewarnai perjalanan hidup kami. Mungkin ini juga termasuk ikhtiar permohonan ampun atas angkuh dan tingginya hati saat dulu pernah merasa lebih baik dari wajah-wajah teduh ini. Ini tentang merajut benang-benang ukhuwah diantara kami dan kalian.

Akhir-akhir ini saya menyaksikan drama-drama tentang keteguhan, pengorbanan, dan keikhlasan yang diputar berulang-ulang tiada henti setiap hari di pelupuk mata saya. Ruh-ruh yang dulunya hanya saya resapi dari mengkaji buku-buku perjuangan yang menjelaskan poin-poin risalah ta’lim. Tadhiyah, Tajarrud, Tsabbat, dan Ikhlas. Kini ruh-ruh itu menjelma menjadi sosok-sosok yang melihat mereka membuat gemuruh di dada saya. Selain karena ini tahun perjuangan kata banyak orang, tetap saja saya mempertanyakan, bagaimana bisa hal ini terjadi?

Saya kembali teringat masa-masa dulu saya mengenal dakwah ini. Paling mula yang saya ingat saya sudah menyanyi-nyanyikan lagu-lagu Izzatul Islam dan Shoutul Harokah ketika kelas 6 SD. Saya menyanyikan itu setiap perjalanan berangkat dan pulang sekolah. Lagu Gelombang Keadilan, Bingkai Kehidupan, Surat Meutia Kepada Purnama, dan lagu-lagu lainnya saya dengarkan dari kaset-kaset paman saya yang saat itu baru-baru saja dekat dengan Partai berlambang bulan sabit mengapit padi. Bukan karena paman saya selalu memutar lagu-lagu itu di rumah, tapi karena anak kecil seperti saya suka mencari tahu dan melakukan hal-hal baru, maka saya sendiri yang memperdengarkan lagu-lagu itu. Continue reading

Suara dari Balik Tirai Hijau Musholla

Pagi ini aku sedang mengagumi seseorang. Aku tak tau namanya. Tapi apa yang aku dengar darinya, dari balik tirai hijau pembatas di musholla Teknik Informatika ITS, benar-benar membuatku kagum.

Pagi itu sekitar pukul 09.00 lewat beberapa menit aku sampai di kampus. Karena aku berangkat dengan memakai sandal, aku masuk kampus lewat pintu belakang, karena dekat musholla aku menuju musholla terlebih dulu untuk shalat dhuha. Saat aku berjalan mengarah ke musholla itu aku melihatnya berjalan dari arah yang berbeda. Dia juga menuju musholla sepertinya. Saat itu biasa saja, aku belum mengaguminya, hehe.

Setelah melakukan shalat dhuha aku merebahkan punggungku tepat ditempat aku shalat. Saat itu aku hampir mulai terlelap ketika aku mendengar sayup-sayup suara bacaan Al Qur’an dari balik tirai yang membatasi tempat pria dan wanita. Sejenak aku dengarkan lebih seksama suara bacaan Al Qur’an itu, aku merasa nyaman. Suaranya indah, nadanya cukup merdu. Jujur baru kali ini aku mendengarkan bacaan Al Qur’an secara langsung dari seorang wanita selain ibu saya. Merasa tertarik untuk mendengarkan lantunan itu lebih jelas, aku bergerak mendekati arah suara. Tepat disamping tirai aku dengarkan suara itu lebih jelas, lebih indah. Saat itu di musholla hanya ada aku dan perempuan itu. Jadi suasana cukup hening yang membuatku bisa mendengarkan suara indah itu dengan jelas. Aku sengaja tidak banyak melakukan gerakan yang bisa menimbulkan suara. Takutnya dia mendengar dan kemudian memelankan suaranya. Continue reading

Tenanglah, Hanya Masalah Kecocokan

jangan kau kira cinta datang

dari keakraban dan pendekatan yang tekun

cinta adalah putera dari kecocokan jiwa

dan jikalau itu tiada

cinta takkan pernah tercipta,

dalam hitungan tahun, bahkan millenia

-Kahlil Gibran-

_____________________________________________

dan kecocokan jiwa itu adalah ditangan Allah.

bercocoklah dengan kebaikan, insyaAllah ada jiwa baik yang dicocokkan denganmu.

#saya sedang tidak galau.

Berbagi Galau (Lagi)

Jumat pagi tadi ada sedikit galau yang merasuk ke dada (#halah). Apa pasal? Yap, seperti biasa, pemuda bujang kalau galau pasti tentang pasangan hidup (jodoh). nah, tapi galau saya tentang hal ini insyaAllah galau yang baik loh.hehe

Ceritanya, Jumat tadi pagi ada kajian SOF, singkatan dari Spirit of Friday. Ini acara dari Departemen Syiar KMI, LDJ Jurusan saya. Temanya sebenarnya tentang ‘Muslim Prestatif’, tapi kok ada hubungannya sama jodoh ya? bentar, ini juga lagi diceritain. Sebelumnya lihat dulu gambar poster publikasi acaranya, saya sendiri yang desain loh. :3

Spirit of Friday

Dalam materi yang disampaikannya, mas Dewa -yang jadi pemateri- menyampaikan mengenai apa yang membedakan pemuda berprestasi secara umum dengan pemuda muslim berprestasi. Apa yang membedakan diantara keduanya adalah mengenai pemahaman dan keyakinan akan takdir Allah. Continue reading

Rekonsiliasi. Jeda Cinta yang Menepi

“Dia,” kata Ammar bin Yasir kepada Utsman bin Affan, “Berwasiat agar engkau tidak menshalatkannya.” Kalimat menyesakkan tentang akhir kisah Abdullah bin Mas’ud itu ditulis dalam kitab Ansabul Asyraf jilid V halaman 36.

Ini tentang cinta manusia-manusia utama yang berjeda. Manusia-manusia yang belajar di sekolah rabbani bersama murabbi qur’ani. Manusia-manusia yang telah mendapat keridhaan Allah dan keadilannya diakui. Cinta di antara manusia-manusia ini begitu dalam dan senantiasa dinaungi keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan, begitu indah.

Meski di antara manusia-manusia pilihan ini cinta dan ukhuwah telah menjadi napas kehidupannya, bukan berarti mereka senantiasa seiya sekata dalam urusan kehidupannya. Mereka adalah manusia seutuhnya dengan perbedaan karakter, pemikiran, dan pandangan. Oleh karena itu, kadangkala, di antara mereka pun muncul perselisihan dan perbedaan pendapat. Saat itulah, sang murabbi, Rasulullah Muhammad, akan memutuskan perkara mereka dengan keputusan langit ataupun pendapat hukumnya sendiri.

Itu terjadi tatkala Rasulullah masih berada di tengah-tengah mereka. Saat Rasulullah meninggalkan mereka menuju Rabbnya dan wahyu berhenti, perselisihan di antara mereka pun diselesaikan dengan dua pegangan utama mereka, Al Qur’an dan As Sunnah. Jika permasalahannya tidak didapati di kedua pegangan itu, mereka pun menyelesaikannya secara bersama-sama.

Tatkala fitnah mulai merambah bumi Islam seperti deburan angin yang membawa debu dan membawa gelapnya malam, peristiwa-peristiwa memilukan pun terjadi. Ini tentang salah seorang sahabat Rasulullah yang dimuliakan dan membuat malaikat malu kepadanya, Utsman bin Affan. Dialah manusia yang menurut Rasulullah adalah umatnya yang paling pemalu.

Di masa jabatannya sebagai khalifah, ia mengangkat beberapa orang kerabatnya dan orang-orang yang dekat dengannya sebagai pejabat pemerintahan. Di antaranya adalah Al Walid bin Uqbah. Dia adalah salah seorang Bani Aslam yang dibebaskan pada peristiwa Fathu Makkah. Rasulullah pernah mengangkatnya sebagai petugas pengumpul zakat dari Bani Musthaliq. Ayahnya adalah Uqbah bin Abdi Mu’ith yang sangat berperan menyiksa kaum mustadh’afin dan menyakiti Rasulullah di Makkah. Uqbah adalah salah seorang tawanan Perang Badar yang dihukum mati.

“Tahukah kalian atas apa yang dilakukan orang ini kepadaku?” kata Rasulullah setelah memutuskan hukuman mengenai Uqbah ini sebagaimana dicatat dalam Al Bidayah wa An Nihayah. “Saat aku sujud di belakang Maqam Ibrahim, dia datang lalu menginjakkan kakinya ke leherku. Aku mencubitnya, tetapi kakinya tidak juga diangkat. Aku merasa seolah-olah kedua mataku akan keluar.” Continue reading