Category Archives: Tazkiyatun Nafs
Semangat Menyambut Seruan
Tidakkah engkau tahu anakku,
segala ‘udzur telah dihapus dengan firmanNya,
“Berangkatlah dalam keadaan ringan ataupun berat!”?
-Abu Ayyub Al Anshari, Radhiyallaahu ‘Anhu-
Beberapa paragraf ini adalah penugasan (lebih tepatnya hukuman/iqob) karena kelalaian menunaikan kewajiban konfirmasi pada pertemuan rutinan. Temanya “Ruhul Istijabah” dalam bahasa keseharian kita bisa dimaknai “Semangat Menyambut Seruan”. Sebenarnya merupakan kemirisan bagi kami untuk menjalankan tugas ini. Karena memang benar-benar menyindir diri kami sendiri. Pilihan kami sebenarnya mudah, mencomot sana-sini semua tulisan berkaitan tema ini yang banyak tersebar di internet, menggabungkan, lalu selesai. Tentunya dengan terlebih dahulu membacanya hingga paham.
Tapi kami lebih memilih untuk mengungkapkannya dalam bahasa kami. Dengan tulisan dan struktur kata yang kami buat sendiri. Bukan karena kami telah paham dan menguasai tema ini. Bukan. Justru semoga usaha ini menjadi cambuk ruhiyah bagi kami untuk benar-benar tajarrud(totalitas) dalam menyempurnakan kafa’ah kami sebagai du’at, kader, dan penggerak di jalan ini. Karena jalan dakwah membutuhkan pribadi-pribadi yang senantiasa berkualitas dan mampu untuk menerima rintangan, dan tantangan yang merupakan keniscayaan di jalan ini. semoga Allah menyempurnakan apa-apa yang kurang dari diri kami. Read the rest of this entry
Mereka yang Amalannya Sia-sia
Oleh: Farid Nu’man Hasan
Beramal adalah perintah agama, yaitu amal yang baik-baik. Amal itulah yang membedakan manusia satu dengan lainnya, bahkan yang membedakan kedudukannya di akhirat kelak. Lalu, semua manusia akan ditagih tanggung jawabnya masing-masing sesuai amal mereka di dunia.
Allah Ta’ala berfirman tentang kewajiban beramal:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: “Ber-amalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah (9): 105)
Allah Ta’ala berfirman tentang kedudukan yang tinggi bagi orang yang beramal shalih:
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَا
Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia) . (QS. Thaha (20): 74)
Allah Ta’ala berfirman tentang tanggung jawab perbuatan manusia:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS. Al Muddatsir (74): 38)
Allah Ta’ala berfirman tentang baik dan buruk amal manusia akan diperlihatkan balasannya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az Zalzalah (99): 7-8)
Demikianlah, keadaan manusia di akhirat kelak tergantung amalnya di dunia. Read the rest of this entry
Surat Cinta dari Saudara di Jalan Dakwah
Maaf, karena aku tidak bisa memahami gundah hatimu…
Maaf, karena aku tidak bisa mendamaikan galau yang bergemuruh dalam benakmu…
Tapi aku berusaha untuk mengerti…
Tolong dengarkan aku,
Bukan karena aku tidak pernah sepertimu, justru karena aku pernah melalui yang sama denganmu…
Ingin kugandeng erat tanganmu, dan mengajakmu untuk berlari,
Berlari menyongsong harapan2 baru, ruh2 baru yang menanti,
Mereka menanti untuk bersinar dan bergandengan erat seperti kita selama ini, Read the rest of this entry
#Fi Zhilal | Berbakti Kepada Orang Tua
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24) رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا (25)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’ Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (QS Al-Isra’ [17]: 23-25)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia…” Read the rest of this entry
Ada Gamang. Bimbang.
Bahkan ditengah lelapmu,
isi mimpimu pun tentang dakwah
tentang ummat yang kau cintai
membaca lagi kutipan hebat dari orang hebat ini. kutipan yang mampu membuat saya gemetar. Kutipan yang-bahkan karena sukanya-aku tulis ditempat paling atas rumahku ini. Tentu saja. Kutipan dari tangan seorang pejuang yang penuh keikhlasan, tak kan pernah pudar. Maka orang-orang hebat itu menjadi hebat dimata kebanyakan manusia karena tulisannya. karena gerak jari yang menggoreskan ujung penanya pada sebuah kertas. Meski usang. Meski lusuh. Tapi kata yang mengucap keikhlasan nurani, menjadi sedemikian kuat menerangi.
mengingat lagi kutipan diatas. Benar-benar ia-sangkutipan mampu menembusi banyak dimensi. setidaknya pada dimensi-dimensi yang sempat kupikirkan. Read the rest of this entry
Rekonsiliasi. Jeda Cinta yang Menepi
“Dia,” kata Ammar bin Yasir kepada Utsman bin Affan, “Berwasiat agar engkau tidak menshalatkannya.” Kalimat menyesakkan tentang akhir kisah Abdullah bin Mas’ud itu ditulis dalam kitab Ansabul Asyraf jilid V halaman 36.
Ini tentang cinta manusia-manusia utama yang berjeda. Manusia-manusia yang belajar di sekolah rabbani bersama murabbi qur’ani. Manusia-manusia yang telah mendapat keridhaan Allah dan keadilannya diakui. Cinta di antara manusia-manusia ini begitu dalam dan senantiasa dinaungi keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan, begitu indah.
Meski di antara manusia-manusia pilihan ini cinta dan ukhuwah telah menjadi napas kehidupannya, bukan berarti mereka senantiasa seiya sekata dalam urusan kehidupannya. Mereka adalah manusia seutuhnya dengan perbedaan karakter, pemikiran, dan pandangan. Oleh karena itu, kadangkala, di antara mereka pun muncul perselisihan dan perbedaan pendapat. Saat itulah, sang murabbi, Rasulullah Muhammad, akan memutuskan perkara mereka dengan keputusan langit ataupun pendapat hukumnya sendiri.
Itu terjadi tatkala Rasulullah masih berada di tengah-tengah mereka. Saat Rasulullah meninggalkan mereka menuju Rabbnya dan wahyu berhenti, perselisihan di antara mereka pun diselesaikan dengan dua pegangan utama mereka, Al Qur’an dan As Sunnah. Jika permasalahannya tidak didapati di kedua pegangan itu, mereka pun menyelesaikannya secara bersama-sama.
Tatkala fitnah mulai merambah bumi Islam seperti deburan angin yang membawa debu dan membawa gelapnya malam, peristiwa-peristiwa memilukan pun terjadi. Ini tentang salah seorang sahabat Rasulullah yang dimuliakan dan membuat malaikat malu kepadanya, Utsman bin Affan. Dialah manusia yang menurut Rasulullah adalah umatnya yang paling pemalu.
Di masa jabatannya sebagai khalifah, ia mengangkat beberapa orang kerabatnya dan orang-orang yang dekat dengannya sebagai pejabat pemerintahan. Di antaranya adalah Al Walid bin Uqbah. Dia adalah salah seorang Bani Aslam yang dibebaskan pada peristiwa Fathu Makkah. Rasulullah pernah mengangkatnya sebagai petugas pengumpul zakat dari Bani Musthaliq. Ayahnya adalah Uqbah bin Abdi Mu’ith yang sangat berperan menyiksa kaum mustadh’afin dan menyakiti Rasulullah di Makkah. Uqbah adalah salah seorang tawanan Perang Badar yang dihukum mati.
“Tahukah kalian atas apa yang dilakukan orang ini kepadaku?” kata Rasulullah setelah memutuskan hukuman mengenai Uqbah ini sebagaimana dicatat dalam Al Bidayah wa An Nihayah. “Saat aku sujud di belakang Maqam Ibrahim, dia datang lalu menginjakkan kakinya ke leherku. Aku mencubitnya, tetapi kakinya tidak juga diangkat. Aku merasa seolah-olah kedua mataku akan keluar.” Read the rest of this entry
Memang Seperti Itulah Dakwah
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. tentang ummat yang kau cintai
Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan
meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu..
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang
umat yg kau cintai.. Read the rest of this entry




