Category Archives: Materi Tarbiyah
karena tarbiyah adalah inti dakwah
Risalah Aqidah (Bag. 2)
“Sesungguhnya aqidah ini merupakan jiwa bagi setiap individu. Dengan aqidah ini ia bisa hidup dengan baik. Bila kehilangan aqidah ini, maka ruhaninya mengalami kematian. Aqidah adalah cahaya yang apabila manusia tidak mendapatkannya, maka ia akan tersesat dalam berbagai kancah kehidupan, dan mengalami kebingungan di berbagai lembah kesesatan.” -Sayyid Sabiq-
1. Sifat-sifat Allah dalam Pandangan Akal
Jika anda melihat alam ini dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya dari keindahan hikmah, kehebatan makhluk, ketelitian penciptaan, kebesaran pengendalian beserta keagungan dan keluasan, ketertautan dan keelokan, pembaruan dan kreasi, jika anda melihat langit yang jernih dengan bintang gemintang dan planet-planetnya, matahari dan bulan dengan rotasinya, jika anda melihat bumi dengan tetumbuhan dan hasil-hasil tambang berupa logam-logam, dan sebagainya…
Jika anda melihat dunia hewan dengan naluri dan instingnya yang mengagumkan, bahkan jika. anda melihat konstruksi penciptaan manusia dengan berbagai organ yang ada padanya, di mana setiap organ menjalankan tugasnya dengan baik. Jika anda melihat samudera dengan berbagai keragaman makhluk dan keunikannya.
Jika anda mengetahui kekuatan alam dan apa saja yang ada di dalamnya dari hikmah-hikmah dan rahasia-rahasia, seperti listrik, magnet, eter, dan radium. Kemudian jika pandangan anda alihkan kepada zat-zat yang ada di alam ini dengan spesifikasinya, kepada keterkaitan dan keterikatan di antara mereka dan bagaimana setiap zat mempunyai keterkaitan yang kuat dan signifikan satu sama lain, di mana dari perpaduan keseluruhan zat itu terbangun kesatuan alam yang harmonis, yang setiap bagian akan melengkapi bagian-bagian lain, sebagaimana salah satu organ dalam tubuh yang melengkapi organ-organ lainnya.
Sungguh, jika anda melihat itu semuanya, meski tanpa ada dalil atau argumentasi, tanpa wahyu atau ayat Al-Quran, tentu anda akan keluar dengan satu pernyataan ideologis yang tidak bertele-tele bahwa di balik alam ini ada Pencipta yang menjadikannya ada. Dan bahwa Sang Pencipta itu harus agung melebihi keagungan yang sempat terlintas dalam akal manusia yang lemah, harus lebih berkuasa di atas makna-makna kekuasaan yang dipahami manusia, dan Dia harus Mahahidup dengan puncak kesempurnaan makna-makna kehidupan. Dia tidak butuh dengan makhluk-makhluk ini, karena Dia ada sebelum mereka ada. Read the rest of this entry
Mereka yang Amalannya Sia-sia
Oleh: Farid Nu’man Hasan
Beramal adalah perintah agama, yaitu amal yang baik-baik. Amal itulah yang membedakan manusia satu dengan lainnya, bahkan yang membedakan kedudukannya di akhirat kelak. Lalu, semua manusia akan ditagih tanggung jawabnya masing-masing sesuai amal mereka di dunia.
Allah Ta’ala berfirman tentang kewajiban beramal:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: “Ber-amalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah (9): 105)
Allah Ta’ala berfirman tentang kedudukan yang tinggi bagi orang yang beramal shalih:
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَا
Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia) . (QS. Thaha (20): 74)
Allah Ta’ala berfirman tentang tanggung jawab perbuatan manusia:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS. Al Muddatsir (74): 38)
Allah Ta’ala berfirman tentang baik dan buruk amal manusia akan diperlihatkan balasannya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az Zalzalah (99): 7-8)
Demikianlah, keadaan manusia di akhirat kelak tergantung amalnya di dunia. Read the rest of this entry
Risalah Aqidah (Bag. 1)
“Sesungguhnya aqidah ini merupakan jiwa bagi setiap individu. Dengan aqidah ini ia bisa hidup dengan baik. Bila kehilangan aqidah ini, maka ruhaninya mengalami kematian. Aqidah adalah cahaya yang apabila manusia tidak mendapatkannya, maka ia akan tersesat dalam berbagai kancah kehidupan, dan mengalami kebingungan di berbagai lembah kesesatan.” -Sayyid Sabiq-
1. Definisi Aqa’id
Aqa’id adalah perkara-perkara yang hati anda membenarkannya, jiwa anda menjadi tenteram karenanya, dan ia menjadikan rasa yakin pada diri anda tanpa tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
2. Tingkatan Keyakinan
Manusia dalam hal kekuatan dan kelemahan aqidahnya terbagi dalam beberapa tingkatan, sesuai dengan kadar kemantapan dan kemapanan argumentasi yang ada dalam jiwa mereka masing-masing. Kami akan menjelaskan kepada anda permasalahan ini lewat contoh berikut:
“Seseorang mendengar tentang adanya sebuah negara yang ia belum pernah melihatnya, sebut saja Yaman sebagai contoh. Ia mendengar itu dari orang yang tidak pernah berbohong. Sudah pasti, ia akan mempercayai dan meyakini tentang keberadaan negara tadi. Jika kemudian ia mendengarnya dari banyak orang, maka tentu ia akan semakin percaya, meski tidak menghalangi adanya kemungkinan ia akan ragu dengan keyakinannya tadi, khususnya jika terjadi syubhat atas kebenarannya. Jika ia melihat gambar-gambar foto mengenai negara tadi, maka ia akan semakin yakin tentang adanya, sehingga sikap ragu-ragu rasanya sulit untuk bisa menembus kekuatan argumentasi ini. Jika ia mendapat kesempatan bepergian ke sana, tampak tanda-tanda dan atribut negara tadi, maka akan bertambah lagi keyakinannya dan hilang sama sekali keraguannya. Tatkala ia turun dan melihat negara tadi dengan mata kepalanya sendiri, maka tidak mungkin keraguan akan datang. Keyakinan ini akan semakin menguat dalam jiwa, sehingga mustahil ia bergeser dari keyakinannya itu kendati semua orang sepakat menentang. Jika kemudian ia bisa berkeliling di jalan-jalan yang ada, serta mempelajari situasi dan kondisi negara itu, tentu akan bertambah lagi pengalaman dan pengetahuannya Dan hal itu bisa memperjelas dan menambah keyakinannya tadi.”
Jika kalian telah memahami contoh tersebut, maka ketahuilah bahwa demikian juga manusia di depan aqidah, mereka berkelas-kelas sesuai taraf kepahamannya. Ada dari mereka yang mentalaqqi aqidah itu begitu saja dan meyakininya karena adat dan tradisi. Model pemahaman semacam ini sangat rawan untuk diserang oleh kebimbangan, terutama Jika ia menemui aneka bentuk syubhat. Ada pula yang sampai menganalisa dan berpikir, sehingga dengan itu bertambahlah imannya dan semakin kuat keyakinannya. Sementara itu ada juga yang terus-menerus melakukan analisa dan proses perenungan, berusaha dengan sunguh-sungguh untuk taat kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya, dan berupaya membaikkan ibadahnya. Saat itulah lentera hidayah akan memancar dalam kalbunya, sehingga ia bisa memandang dengan cahaya bashirahnya. Maka sempurnalah imannya, paripurnalah keyakinannya, dan semakin teguhlah hatinya. Read the rest of this entry
Menahan Pandangan
Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata kepada yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina).
Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau menundukkan pandangan.[1] Namun bukan berarti menutup atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali. Juga bukan berarti menundukkan kepala ke tanah saja, karena bukan itu yang dimaksud. Lagipula hal seperti itu tidak akan mampu dilaksanakan. Tetapi yang dimaksud غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) adalah menjaga pandangan dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar.
Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang tidak memandang aurat orang lain, tidak mengamat-amati kecantikan/kegantengannya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya.[2] Dengan kata lain— غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) adalah—menahan pandangan dari apa yang diharamkan oleh Allah swt dan rasul-Nya[3].
Dalil Kewajiban Menahan Pandangan
Al-Quran:
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. (An-Nur [24]: 30-31).
Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kata min dalam min absharihim maknanya adalah sebagian. Hal ini menegaskan bahwa yang diharamkan oleh Allah swt hanyalah pandangan yang disengaja, sedangkan pandangan tiba-tiba tanpa sengaja adalah dimaafkan. Atau untuk menegaskan bahwa kebanyakan pandangan itu halal, yang diharamkan hanya sedikit saja. Berbeda dengan perintah memelihara kemaluan yang tidak menggunakan kata min karena semua pintu pemuasan seksual dengan kemaluan adalah haram kecuali yang diizinkan oleh syariat saja (nikah).[4] Read the rest of this entry
Berbaurlah, tapi Tetap Bercahaya
Oleh: Farid Nu’man
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ
“Jika seseorang berkata ‘Manusia telah rusak’ maka dialah yang lebih rusak dari mereka.” (HR. Muslim No. 2623)
Mukadimah
Seringkali jiwa kita marah, emosi meluap, bahkan pernah memaki, ketika melihat fenomena penyakit masyarakat yang kian hari semakin parah. Angka perzinahan, pergaulan bebas, korupsi di atas dan bawah, perjudian, acara televisi yang minim keteladanan, bid’ah dan kemusyrikan. Ingin rasanya melakukan perubahan cepat dan mengembalikan mereka kepada fitrah (Islam) yang benar. Tapi, sering pula hanya sebatas itu yang kita lakukan; marah, emosi, dan memaki. Tak ada aksi perbaikan, tetapi perdebatan, tak ada doa, tetapi celaan. Tidak. Masyarakat tidak membutuhkan perdebatan dan celaan, mereka membutuhkan uluran tangan dan doa para mushlihun.
Tahan Lisan Jangan Sok Suci
Hadits di atas mengajarkan kita untuk menahan lisan dari mencela masyarakat dan memandu agar tidak merasa lebih benar dan suci, baik dari sisi akhlak, pemikiran, ibadah, dan lainnya. Justru sikap itulah yang menunjukkan kekurangan kita; sombong.
Oleh karena itu, Imam An Nawawi menjelaskan:
وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّ هَذَا الذَّمّ إِنَّمَا هُوَ فِيمَنْ قَالَهُ عَلَى سَبِيل الْإِزْرَاء عَلَى النَّاس ، وَاحْتِقَارهمْ ، وَتَفْضِيل نَفْسه عَلَيْهِمْ ، وَتَقْبِيح أَحْوَالهمْ ، لِأَنَّهُ لَا يَعْلَم سِرّ اللَّه فِي خَلْقه . ق
“Para ulama sepakat bahwa celaan dalam hadits ini adalah bagi orang yang ucapannya itu dimaksudkan untuk mencela manusia, merendahkannya, dan mengutamakan dirinya di atas mereka, dan memburukkan keadaan masyarakat, lantaran dia tidak tahu rahasia Allah Ta’ala atas hambaNya.” Read the rest of this entry
#Fi Zhilal | Berbakti Kepada Orang Tua
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24) رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا (25)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’ Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (QS Al-Isra’ [17]: 23-25)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia…” Read the rest of this entry
Pemuda Islam, Bangkitlah!
Santai…santai sajalah…masih ada waktu tuk kita. Saantaai..santai sajalah…masih ada waktu tersisa.Lirik lagu yang dibawakan Sania boleh jadi merupakan gambaran konsep waktu bagi sebagian anak muda di negara kita. Bahwa masa muda adalah masa buat happy-happy, yang penting tetep gaya, oke, pinter, dan gaul. Ya nggak ? Padahal, dibalik semua itu sebagai pemuda atau siapa pun yang masih mempunyai semangat dan jiwa muda kita punya tugas dan misi besar.
Misi yang jauh lebih besar dari misi-misi agen FBI,CIA, bahkan agen Mossad yang tak pernah berhenti untuk menghancurkan umat Islam. Misi yang langsung Allah berikan untuk kita.Misi untuk memberlakukan hukum-hukumNya diseluruh penjuru dunia dan untuk mengalihkan manusia dari penghambaan terhadap sesamanya. Juga untuk membebaskan umat manusia dari alam yang sempit menuju alam bebas merdeka. Read the rest of this entry




