Ini Dia yang Khas….

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Ketika kita berbicara tentang keunikan warga kota Surabaya, arek-arek Suroboyo, mungkin yang tersebutkan setidaknya ada dua keunikan dari warga kota Surabaya :

  1. bahasa jawa khas Surabaya yang hanya ditemukan di Surabaya dan sekitarnya.

  2. Umpatan khas arek suroboyo.

Yang pertama akan kita bahas adalah bahasa jawa Surabaya.

Bahasa jawa Surabaya, atau yang sering disebut bahasa suroboyoan, merupakan dialek khas yang hanya dipakai di surabaya dan sekitarnya. Behasa ini jika dirunut dalam pepak, merupakan bahasa yang paling kasar. Biasanya bahasa ini dipakai bebrbicara antara orang yang seusia. Bila berbicara dengan orang yang lebih tua, biasanya kebanyakan warga surabaya masih menggunakan bahasa yang tingkatannya lebih halus.

Mengapa warga surabaya menggunakan bahasa yang terlihat kasar ini? Mungkin kalau dari pendapat saya, ini berhubungan dengan letak geografis kota Surabaya.

Jika dilihat dipeta, kota Surabaya berada di dataran rendah dan terletak dipinggir pantai. Otomatis keadaan suhu di kota ini panas. Secara tidak langsung, itu menyebabkan pembentukan sifat temperamental tinggi yang hampir merata di setiap warga kota Surabaya. Karena sebuah komunitas yang temperamentalnya tinggi ini, menyebabkan warga kota surabaya berbahasa lebih kasar dari bahasa jawa yang biasa dipakai diwilayah lain di jawa timur.

Memang unik bahasa yang dipakai di surabaya ini, pasalnya, jika kita memakai bahasaiini didaerah lain jawa timur, orang orang disana bisa memahami bahasa ini. Tapi waga surabaya sendiriseringkali kurang paham dengan dialek jawa yang sebenarnya.

Yang kedua, umpatan khas kota Surabaya.

Anda mungkin sudah tahu tentang umpatan khas surabaya. Jadi untuk menjaga kesopanan, pada artikel ini tidak akan saya tuliskan umpatan tersebut.

Mungkin tiap daerah memiliki umpatan khas sendiri. Begitu pula kota surabaya. Kota ini mempunyai umpatan khas yang asal mula umpatan ini masih belum jelas dan simpang siur.

Ada yang berpendapat, umpatan ini berasal dari jaman perjuangan kemerdekaan. Ketika itu pejuang surabaya amat jengkel dengan penjajah, karena kesusahan mengungkapkan umpatan dalam bahasa asing, maka pejuang menggunakan bahasa yang dibuat sendiri. Setelah kemerdekaan, mereka malah ketagihan untuk mengucapkan kata itu.

Pendapat lain mengatakan, kata itu merupakan kata yang telah akrab di telinga warga Surabaya. Biasanya digunakan untuk menyambut teman, dan menanyakan kabar, juga untuk mengungkapkan rasa kagum, bahagia dan kejengkelan.

Ada pula, teman saya mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa jepang yaitu “jansa” yang artinya tidak ada Tuhan, jadi saya diberitahu agar berhati-hati denan kata itu.

Apapun arti kata itu, lebih baik jangan kita ucapkan, karena itu perkataan yang buruk.

This Is Loedroek….

Ludruk termasuk jenis teater tradisional Jawa yang lahir dan berkembang di tengah-tengah rakyat dan bersumber pada spontanitas kehidupan rakyat. Ludruk disampaikan dengan penampilan dan bahasa yang mudah dicerna masyarakat. Selain berfungsi sebagai hiburan, seni pertunjukan ini juga berfungsi sebagai pengungkapan suasana kehidupan masyarakat pendukungnya. Di samping itu, kesenian ini juga sering dimanfaatkan sebagai penyaluran kritik sosial.

irama-budaya-0

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Hingga sekarang belum didapat kepastian mengenai tempat asal kelahiran ludruk. Usaha untuk menentukannya biasanya selalu terbentur pada dua pendapat yang berbeda. Pendapat pertama mengatakan bahwa kesenian ini berasal dari Surabaya, sedang pendapat yang ke dua menganggap bahwa ludruk berasal dari Jombang. Kedua pendapat ini sama-sama kuat argumentasinya.

Menurut narasumber, awal lahirnya kesenian ludruk ini, berawal dari seorang petani asal jombang, yang bernama Gangsar (ada yang mengatakan namanya Alim). Awalnya, ia membuat sebuah kesenian dalam bentuk mengamen dan menjoget. Dia mengembara berkeliling di tiap rumah dari kampung ke kampung.

Suatu saat, ketika dia sedang mengamen, dia melihat seorang lelaki sedang menggendong bayi yang sedang menangis. Yang membuat lucu adalah, lelaki itu memakai pakaian permpuan. Penasaran dengan hal itu, Gangsar menanyakan pada lelaki tersebut, jawaban lelaki itu, dia memakai pakaian perempuan agar bayi itu menyangka yang menggendongnya adalah ibunya.

Dari situlah terinspirasi peran lelaki memakai pakaian wanita dalm pementasan ludruk nantinya.

Sedangkan ludruk sendiri darimana? Dalam perjalanannya mengamen dan menari Gangsar dan teman-temannya sering menghentak-hentakkan(gedruk-gedruk) kaki. Sehingga suatu saat kesenian ini diberi nama “ludruk”.

Tokoh pemain ludruk yang terkenal adalah Markeso dan Kartolo cs. Setidaknya kebanyakan warga kota Surabaya mengenal nama mereka.

Pada zaman penjajahan Jepang, ludruk sering digunakan untuk menyalurkan kritik sosial kepada penjajah. Yang terkenal hingga saat ini adalah ludruk Cak Durasim dengan parikannya “Pagupon omahe dara, melok Nippon tambah sengsara”. Dengan parikan serupa itu Cak Durasim ternyata berhasil membangkitkan rasa tidak senang rakyat terhadap Jepang. Cak Durasim akhirnya ditangkap dan meninggal dalam tahanan Jepang.

Untuk mengenang jasa Cak Durasim, di Gedung Seni dan Budaya Jawa Timur, salah satu gednung yang digunakanuntuk pementasan diberi nama gedung Cak Durasim. Selain sering digunakan untuk pementasan kesenian seperti ludruk dan teater, gedung itu juga digunakan untuk konser paduan suara maupun konser musik.

Gedung itu selalu ramai dengan pertunjukan kesenian, baik kesenian tradisional, maupun kesenian modern. Setidaknya, dengan adanya Gedung Seni dan Budaya Jawa Timur, kesenian khas Jawa Timur, dan Surabaya pada khususnya tetap terjaga dalam era globalisasi saat ini. Selain itu semoga dengan adanya Pusat Budaya ini, dapat semakin menyadarkan warga Surabaya pada khususnya, dan Jawa Timur pada umumnya akan pentingnya menjaga kesenian dan kebudayaan khas daerah kita. Karena tidak dapat dipungkiri lagi, Kesenian dan kebudayaan itulah yang menjadi simbol identitas dari daerah kita, kota kita….

Kenjeran….Yuuk !!!!

kenjeran1

Pada suatu hari saya dan seorang teman saya pergi bermain kerumah teman saya yang lain, Furqon namanya. Rumahnya berada di sekitar kenjeran, tepatnya di jalan tambak deres gang 1. rumahnya berada tepat disamping pantai kenjeran lama.

Di rumahnya, kami bercengkrama, dan bercanda. Tak beberapa lama, si Furqon mengajak saya dan teman saya yang satunya, redam, pergi keluar rumah. Dia bilang ingin mengajak saya ke pantai kenjeran lama. Tapi saya sedikit heran, karena dia membawa kita ke arah laut. Padahal seharusnya kita menuju ke pintu masuk kenjeran lama.

Ternyata dia mengajak saya melewati jalan pintas. Tentunya tanpa membayar. Ternyata jalan pintasnya adalah sebuah tembok pembatas yang diberi tangga. Warga tambak deres biasanya melewati jalan ini untuk pergi ke kenjeran lama.

Melihat pemandangan kenjeran lama, sejenak saya termenung. Pantai ini sebenarnya memiliki potensi besar yang dapat mengundang banyak wisatawan. Berbeda dengan saudaranya pantai ria kenjeran, yang notabene-nya dikelola pihak kenjeran park, disana-patai ria kenjeran-kondisinya amat berbeda dengan di pantai kenjeran lama ini. Di pantai ria, terdapat fasilitas mewah dan menghibur yang ditawarkan. Sedang dipantai lama ini, mungkin hanya beberapa alat permainan anak-anak dan tempat kuliner, serta wisata perahu.

Cukup miris memang. Mungkin, agaknya pemerintah-sebagai pengelola pantai kenjeran lama-kurang memperhatikan kondisi ini. Padahal jika ditilik lebih mendalam, kawasan kenjeran lama ini memiliki pemandangan yang tak kalah indah dengan pantai ria.

Jika saja pemerintah mengoptimalkan pengelolaan kawasan kenjeran lama ini, bukan hal yang mustahil jika pantai akan menjadi ikon wisata di kota Surabaya.

Tapi uniknya, meskipun keadaan kenjeran lama ini kurang terawat, tetapi pengunjung masih tetap ramai bahkan penuh di hari libur. Ada yang sekedar ingin menikmati wisata perahu ke pulau pasir, ada yang ingin bermain jungkat-jungkit dan alat mainan lainnya, ada pula yang menikmati hiburan dangdut, ataupun sekedar merasakan hembusan angin di pantai kenjeran.

Kenjeran lama memang masih ramai dikunjungi, karena disana suasananya lebih tenang bila dibanding dengan pantai ria. Melihat keadaan seperti ini, seharusnya pemerintah lebih memperhatikan pengelolaan tempat ini. Setidaknya memperbaiki dan merawat fasilitas-fasilitas yang ada.

Setelah itu, saya dan kedua teman saya menaiki perahu untuk berkeliling dan singgah sebentar di pulau pasir. Pulai pasir merupakan sebuah gundukan tanah yang berada ditengah laut. Disana, ketinggian air hanya sampai pinggang. Jadi kita bisa turun dan bermain-main disana.

Dari tengah laut, Anda bisa melihat panorama Pantai Kenjeran secara utuh dengan segala aktivitasnya. Selain itu, Anda bisa melihat dari dekat hiruk-pikuk kapal-kapal nasional maupun internasional yang hendak berlabuh atau bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Dari tengah laut pula, mata Anda bisa melihat pertautan sudut Pulau Jawa dan Madura yang menawan, juga patung Jalesveva Jaya Mahe milik Armatim TNI-AL yang berdiri megah sambil berkacak pinggang dengan pedangnya. Satu hal lagi yang bisa Anda saksikan adalah pembangunan jembatan Suramadu. Inilah jembatan yang akan menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura.

Untuk naik perahu ini, caranya mudah saja, anda tinggal meminta seorang nelayan yang menyediakan jasa perahu. Biasanya nelayan mematok tarif 50 ribu untuk sekali perjalanan ke pulau pasir. Tapi tarif itu masih bisa di tawar. Bila anda pandai menawar, anda bisa mendapatkan jasa perahu hanya dengan tarif 20 ribu.

di Tengah Pro Kontra Full Day

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Saat ini fenomena full day yang ditetapkan oleh pemerintah kota Surabaya pada sekolah-sekolah negeri di kota Surabaya menjadi perbincangan yang banyak dibicarakan oleh seluruh lapisan warga Surabaya. Mulai dari para siswa yang menuntut ilmu di sekolah-sekolah negeri hingga orang-orang yang ada di dinas pendidikan membicarakan mengenai baik dan buruknya penerapan full day di sekolah-sekolah negeri. Bahkan tak jarang, masalah ini sering diangkat dalam perdebatan mengenai pro dan kontra penerapan fullday.

Mereka yang pro dengan keputusan full day ini berpendapat bahwa sistem fullday ini merupakan keputusan yang tepat yang telah diambil oleh dinas pendidikan kota Surabaya melalui pemerintah kota Surabaya untuk diterapkan pada sekolah-sekolah negeri di kota Surabaya.

Pasalnya, menurut mereka yang pro dengan sistem full day ini, proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) akan semakin intensif dan efektif, karena murid-murid dalam setengah hari akan mendapat pelajaran-pelajaran di sekolah.

Selain itu, mereka berpendapat bahwa sistem full day ini akan menekan tingkat intensitas pelajar untuk berhubungan dengan pergaulan luar yang memiliki resiko besar untuk memberikan efek negatif pada siswa itu sendiri. Karena dengan sistem full day, seharian siswa akan berada dalam lingkungan sekolah dan mendapatkan pendidikan.

Alasan selanjutnya dari para pendukung sistem full day, dengan sistem ini akan menekan penggunaan listrik pada sekolah-sekolah. Hal tersebut seiring dengan anjuran Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk melakukan penghematan energi.

Sementara itu, mereka yang kontra dengan kebijakan ini juga memiliki beberapa argumen yang mendasari penolakan mereka terhadap kebijakan full day yang diterapkan oleh pemerintah kota Surabaya.

Mereka yang kontra dengan kebijakan sistem full day berpendapat bahwa sistem ini akan mematikan potensi siswa pada bidang non-akademis. Siswa akan dipaksa untuk hanya menelan pendidikan akademis dan mengesampingkan pendidikan non-akademis. Padahal siswa mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan selain pendidikan formal yang diberikan sekolah.

Menurut mereka, meskipun telah diberikan porsi pendidikan non-akademis berupa ekstra kurikuler pada hari Sabtu, belum cukup efektif untuk siswa. Pasalnya, siswa hanya akan mendapatkan satu pendidikan ekstra-kurikuler.

Selain itu, para siswa akan terkurangi waktunya untuk melakukan kegiatan-kegiatan organisasi di sekolahnya. Seperti yang telah diketahui, biasanya siswa melakukan kegiatan organisasi semisal rapa-rapat OSIS pada waktu setelah pulang sekolah. Hal itu dilakukan karena waktu sekolah hanya sampai tengah hari saja, sehingga siswa dapat melakukan rapat-rapat dan kegiatan lain sepulang sekolah. Namun kegiatan ini sudah tidak dapat dilakukan lagi setelah penerapan full day di sekolah-sekolah negeri. Karena siswa akan melakukan kegiatan belajar mengajar hingga menjelang petang.

Menurut mereka, kebijakan ini juga akan mengganggu siswa untuk mengerjakan tugas rumah ataupu kegiatan penunjang belajar lain seperti les. Karena selepas pulang sekolah, siswa akan lebih lelah dari biasanya disaat sistem ini belum diberlakukan.

Wajar memang, apabila dalam pengambilan kebijakan, akan melahirkan pro dan kontra atas kebijakan itu. Tapi satu yang perlu kita sadari, pemerintah pasti telah menimbang dengan matang untuk mengambil setiap keputusan. Jadi ada baiknya kita untuk memberi apresiasi positif terhadap kebijakan pemerintah.

Pemerintah pun, sebagai penanggung jawab atas masyarakatnya, perlu lebih objektif dalam pengambilan kebijakan. Agar kebijakan itu bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Yang pada akhirnya memberikan manfaat yang besar bagi pemerintah dan masyarakat di kota Surabaya ini.

Yang Khas Dari Surabaya…..

Wah, kalau bicara tentang makanan, pasti tidak akan ada habisnya. Tapi untungnya, yang bakal saya ceritakan di sini, mengenai makanan khas kota Pahlawan, Surabaya. Yang pastinya enak-enak. Let’s check this out !

Kota Surabaya, yang panas dan sangat terik, membuat warganya , arek-arek Suroboyo, sebagian besar bertemperamental tinggi, keras, bermental baja, dan apa saja yang identik dengan daerah panas. Bisa membayangkan tidak apa yang biasanya dimakan oleh orang-orang yang punya karakteristik seperti yang disebutkan diatas tadi ? mungkin yang terbersit di pikiran kita, orang-orang seperti itu makanannya juga yang keras-keras dan panas, seperti contohnya : baja yang lagi dipanasin (hehehe…nggak ding!!! Masa’ baja dimakan). Mungkin yang kita bayangkan dari orang-orang bertemperamental tinggi seperti itu, makanannya pasti yang mengandung pedas-pedas.

Dan ternyata, setelah saya lakukan penelitian, riset, serta eksplorasi bertahun-tahun (cyeille!!!), makanan khas kota Surabaya ini memang mengandung pedas dan mengandung cabe atau setidaknya ada tambahan sambal di tiap masakan khas kota Surabaya.

Pengen tau apa aja masakan khas kota Pahlawan ini ? kalau mau tau, baca terus sampe kelar ! ini dia makanan khas para pahlawan kota Surabaya (juga para warganya)…..

SEMANGGI

semanggi1-small

Makanan yang satu ini namanya emang mirip sama bahan utama yang dipake untuk makanan ini, yaitu daun semanggi. Bentuknya emang mirip pecel sih, tapi komposisi bahannya beda. Pada semanggi ini, sayur yang dipake yaitu semanggi dan kecambah. Terus, bumbunya terbuat dari campuran petis, telo (ubi), cabe, dan kacang.

Biasanya, menyantap makanan ini, dengan krupuk yang namanya krupuk puli. Bentuknya tipis dan lebar, terus warnanya kuning. Enak lho ! tapi sayangnya, makanan ini sudah jarang ditemui ditemui di sudut kota Surabaya. Setidaknya, lebih sepi dari tahun 90’ an. Dulu, dikampung saya saja, sering berseliweran pedagang semanggi keliling. Tapi sekarang sudah jarang ditemui. Semoga saja makanan satu ini tetap eksis ditengah arus globalisasi.

RUJAK CINGUR

rujak_cingur

Rujak cingur ini merupakan rujak khas surabaya. Mengapa disebut rujak cingur ? konon katanya, kata cingur diambil karena salah satu campuran bahan rujak ini adalah hidung sapi yang dalam bahasa jawa disebut cingur. Jadi diberi nama rujak cingur ya gara-gara ada hidung sapinya.

Bahan-bahan rujak cingur terdiri daripetis, kacang, cabe, irisan pisang hijau, dan air.

Di sepanjang sudut kota Surabaya, banyak kita jumpai penjual rujak cingur ini.

LONTONG BALAP

Lontong balap ini punya nama yang agak aneh, lontong balap. Kenapa disebut lontong balap ? sampai saat ini saya sendiri belum tahu kenapa namanya lontong balap. Yang saya tahu, makanan ini enak banget, hehehe.

Makanan yang banyak ditemui di kota Surabaya ini, terdiri dari lontong, sayur kecambah, tahu, dan lento. Terus diberi kecap dan sambel, lengkap deh ! biasanya diberi lauk tambahan, yaitu sate kerang. Klop sudah….coba deh…. pasti momogi (mou-mou-lagi)

RAWON

rawon

Ini nih yang paling sering dimakan warga kota Surabaya. Pasalnya, membuatnya mudah, semudah memasak sayur lodeh atau sayur asem. Setidaknya tiap keluarga pernah masak masakan yang satu ini.

Ada yang istimewa tentang rawon. Ada sebuah warung rawon, tepatnya di jalan embong malang, yang menamakan rawonnya dengan nama “rawon Setan”. Apa pasal ? katanya, diberi nama rawon setan karena warung rawon yang satu ini buka tengah malam. Itu alas an pertama. Alasan kedua, karena sambalnya super pedas, sehingga yang makan rawon ini akan seperti kesetanan. Aneh juga ya ? tapi rawon setan ini sangat terkenal hingga ke luar kota sekitar Surabaya. Dan saat ini telah membuka cabang di beberapa tempat lain.

Nah, itu dia beberapa makanan khas kota Surabaya. Jika penasaran dan ingin mencobanya, datang saja ke kota Surabaya, dan carilah makanan-makanan diatas. Dijamin puas…..

DIARY

Dipublikasi pada Ahad, 21 September 2003 oleh aharis Annida No.12 Th.XI

April 1984

Menjelang Ujian Akhir SMP

Gempa hebat melanda keluargaku, dan telah memporakporandakan bangunan hatiku.

Allahu Robbi, kenapa Bapak tega melakukan semua ini? Tak tega melihat ibu yang diam

mematung dengan air mata berlelehan. Sementara Pak Jono, Pak Dodi, teman sekantor

Bapak menjelaskan dengan bahasa yang dibuat sehalus mungkin.

Aku mengintip takut-takut dari lubang kunci, raut wajah Ibu yang tiba-tiba menegang,

lalu air mata yang tumpah bak banjir bandang.

Bapak dipecat, karena menyelewengkan dana kantor dan terbukti melakukan tindakan asusila dengan rekan wanitanya di kantor. Bahkan, wanita itu telah diberinya rumah di Kecamatan Pare, tiga puluh kilometer dari rumah kami.Bapak dipenjara atas tuduhan korupsi dan berselingkuh dengan istri orang.Aku tahu, bukan sekali ini saja Bapak Mengkhianati Ibu. Sebagai anak tertua aku sudah bisa membaca hubungan kedua orang tuaku. Namun baru kali iniku lihat Ibu begitu terpukul. Tentu, dengan dipecatnya Bapak, berarti asap tak akan mengepul lagi di tungku keluarga kami. Sementara lima orang anak

perempuan setiap hari membutuhkan jatah nasi yang tidak sedikit. Melihat Ibu bermuram durja, semangat belajarku hilang seketika.

Mei 1984

Ujian Akhir, 03.00 Pagi

Suara lantunan ayat-ayat suci membangunkanku dari lelap. Ibu! Begitu biasanya beliau membangunkan kami untuk shalat lail. Segera kutepuk Tini untuk menyusul Ibu. Mata adikku masih memerah menahan kantuk. Tapi kusemangati dia, “Ayo, katanya ingin berdoa, Tini ingin minta apa?” Malam begini dingin menyambut kami di kamar mandi. Air terasa seperti butiran es.

Kuusap mataku dan mata Tini sambil tersenyum, sekejap kemudian kesegaran mengaliri seluruh tubuh. Lenyap sudah kantuk yang memberati mata. Ibu menyambut kami dengan senyum, tapi…. Matanya begitu sembab, pasti Ibu habis menangis. “Mana adik-adikmu yang lain, Nduk?” kami saling berpandangan, lalu menggeleng dan tersenyum malu. Habis, sulit sekali membangunkan Lastri dan Tinah, bisa ditendang aku nanti, maklum, mereka masih kecil. Usai tahajud, aku terus mengambil buku dan belajar. Ibu menemani sambil meneruskan tadarus Qur’an-nya. Ibu…. Bagaimana orang sealim Ibu bisa mendapatkan orang seperti Bapak. Ah, ngelantur aku ini, kalau tidak ada Bapak, berarti aku juga tidak ada.

Akhir Mei 1984

Akhirnya, selesai sudah ujian akhirku. Alhamdulillah leganya. Setidaknya aku mulai bisa memikirkan yang lain untuk membantu mengurangi beban Ibu. Yah, mau bagaimana lagi, Ibu memutuskan menjual sebagian tanah warisannya untuk menebus Bapak dari penjara.

“Bagaimana pun dia bapakmu, Wuk, sejahat dan sebejat apa pun kelakuannya, darahnya

lah yang mengalir di tubuhmu.”

Aku juga tak tahu musti harus bagaimana. Rasanya kaget tiba-tiba ikut terlibat dalam permasalahan rumit ini. Tapi Ibu butuh teman bicara. Dan aku, anak sulungnyalah yang bisa melakukan itu. Ya, mesti cuman sebatas mendengarkan. Menanti Bapak pulang seperti menunggu datangnya makhluk asing dari planet lain. Ada rindu, ada benci, ada juga rasa asing yang tak bisa kumengerti.

Entahlah, dari dulu kami memang tak bisa dekat. Bapak menginginkan anak laki-laki, sementara kelima anaknya perempuan. Barangkali itulah yang membuat sulit sekali diajak bermanja. Suatu sore, saat matahari senja merah saga memenuhi langit,

Bapak benar-benar pulang. Sosoknya yang tinggi besar memenuhi pintu rumah.

Dan Ibu menyambutnya seperti biasa, dengan mencium tangan Bapak, dan menyuruh kami melakukan hal yang sama. Tanpa beban, seolah tak terjadi apa pun yang pernah mengguncang keluarga kami. Kucari dendam di mata Ibu, tapi ya Rabbi, mata itu begitu

ikhlas dan tabah. Sementara hatiku sudah mulai tertorehi luka.

Agustus 1984

Perekonomian keluarga kami benar-benar terpuruk. Aku tak bisa melanjutkan kuliah. Jangankan untuk mendaftar SMA, untuk makan sehari-hari pun mulai kesulitan.

Bapak berpamitan untuk mencari kerja di Bogor. Memang di kota kecil seperti Kediri, mencari pekerjaan baru bukanlah hal mudah, apalagi untuk orang yang namanya sudah cacat seperti Bapak. Ibu mengambil alih perekonomian dengan membuka warung pecel di depan rumah.

Pagi buta sampai siang, Ibu mengurus warung pecelnya. Sore hingga malam membuat krecek, makanan ringan dari irisan singkong kering yang digoreng dan dibumbuhi gula merah serta cabai. Aku membantu Ibu sekuatnya. Aku punya kewajiban moral untuk membantunya, kalau bukan aku, siapa lagi? Bangun pukul empat pagi

Kini tak terasa dingin lagi. Sepagi itu aku dan Ibu mulai ke pasar. Tiba di rumah, kami berbagi tugas. Aku mencuci baju, Tini membersihkan rumah. Setelah beres, kami membantu Ibu menyaingi sayuran. Ketika adik-adikku berangkat sekolah aku mulai menyiapkan potongan-potongan singkong untuk digoreng. Bila malam tiba, sambil mengajari mereka, aku dan Ibu membungkus krecek ke dalam plastik agar esok pagi bisa kuedarkan ke warung-warung dan pasar Kandat. Ya Allah, Pengatur nasib umat, aku sangat bangga pada Ibu. Di tengah himpitan ini beliau masih terus berkhusnudzan kepada-Mu, terus mengajari kami bersabar, dan terus membimbing kami dengan cintanya. Ya Allah, berikanlah segala kebaikan-Mu untuk Ibu dan kami sekeluarga. Dan berilah kesadaran untuk Bapak, ya Allah, bahwa kami adalah putri-putri yang juga mengharap cintanya. Amin.

Agustus 1986

Bapak datang. Datang! Setelah sekian lama tanpa kabar dan kiriman apa pun.

Datang dengan sederet tuntutan dan lecehan pada Ibu. Tuntutan atas kehadiran anak laki-laki yang tak mampu dilahirkan Ibu. Dan satu pelecehan lagi yang membuat darahku berpacu ke ubun-ubun, beliau mengaku sudah menikah di Bogor dan mempunyai seorang anak laki-laki.

Tuntutan untuk menjual sisa tanah,dengan alasan anak laki-laki lebih berhak memperoleh daripada kami. Semua dikatakan Bapak saat kami kesulitan untuk sekedar mengisi perut. Entah keberanian apa yang membuatku lancang kepada Bapak. Kupukul dan kucakar lelaki yang kusebut bapak itu sehingga sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

Ibu yang tersimpuh di atas tubuhku dengan isakpelan, dan umpatan kasar Bapak, “Perempuan sialan, perempuan pincang!Seperti ini kau didik anakmu? Huh, dari dulu aku memang malu punya istri seperti kamu, dasar pincang!” Kali ini giliran Ibu yang mendapat tamparan Bapak. Sakit…. Sakit hatiku mendengar Ibu diumpat seperti itu.

Kaki Ibu memang tidak normal, terserang polio sedari kecil. Tapi bukan berarti ia tidak sempurna mendidik kami. Sungguh ia satu-satunya wanita yang membetot habis rasa cinta dan hormatku lebih dari apa pun. Satu lagi luka tertoreh. Kupandang Bapak dengan mata menyala. Biar….. biarlah Bu, Bapak mengambil tanah itu. Kita buktikan bahwa kita bisa hidup tanpa bantuannya bila itu yang Bapak mau. Aku berjanji, aku bertekad, akan kulakukan apa pun untuk Ibu dan adik-adikku.

Januari 1990

Rumah Makan Padang “Siang Malam”, Gringsing, Kendal Aku membawa truk bermuatan kelapa memasuki pelataran rumah makan. Sisa setengah perjalanan lagi menuju Jakarta. Ahmad dan Pak Gono membuka mata.

Dengan sopan aku menyilahkan mereka untuk beristirahat. Sementara aku harus berburu waktu mencari musholla, shalat Isya’. Celana hitam, jaket gombrangcoklat, dan jilbab kaos hitam telah menyulapku menjadi sosok yang cukup dikenal di rumah makan ini. Pemiliknya Pak Haji Yassin juga kenal denganku.Karena itu aku memilih tempat ini sebagai tempat istrirahat bila nyopir ke arah barat.

Selain lingkungannya apik, baik, juga ada musholla yang nyaman tempat aku istirahat sejenak. Sesekali bahkan Bu Haji menyuruhku istirahat di ruang belakang mereka. Sementara aku istirahat, Ahmad biasa mencuci kacadepan truk, mengisi air radiator, mengecek mesin, dan ban, serta tak lupa menyiapkan sebotol kecil kopi hangat di samping jok untuk persiapan nanti.

Truk ini milik Pak Jono, teman Bapak. Aku yang dipercaya mengelolanya dengan

sistem sewa. Dulu, hampir tiap hari aku keluar masuk desa untuk menawarkan jasa transportasi ini. Kini tinggal memetik hasilnya. Para petani dan pedaganglah yang datang apabila membutuhkan truk sekaligus sopirnya. Akutakpernah bercita-cita menjadi seorang sopir. Tidak, tidak karena itu dunialaki-laki yang keras dan penuh bahaya. Tapi aku tak punya pilihan lain.Hanya pekerjaan ini yang bisa menghasilkan uang paling banyak. Sekali nyopir aku bisa mengantongi uang lima puluh ribu sampai seratus ribu.

Bahkan bila musim panen, aku bisa memegang hingga satu juta rupiah sebulan. Alhamdulillah. Karena selain menyopir, aku juga memasok beberapa komoditi pasar seperti kelapa, pisang, semangka ke beberapa kota sekeliling Kediri.Tentu, dengan bagi hasil dengan Pak Jono.

Ibu terus berjualan pecel dan membuat krecek. Kini hanya dibantu Sundari karena Sutini dan Sulastri sudah kuliah di Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Sedang Partinah memilih ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.Bahagia rasanya melihat mereka terus sekolah, lebih bahagia karena mereka tak pernah mengecewakan lelehan keringatku. Mereka belajar keras, bahkan sangat keras untuk membahagiakan Ibu dan kakaknya yang sopir truk ini.Sekali waktu, Tini pernah marah padaku, ia minta diijinkan bekerja untuk ikut membantu ekonomi keluarga. Tapi adikku itu mengkeret begitu Melihatku memandang tajam ke arahnya. Adikku…. Maafkan Mbak Tiwuk. Biar Mbak Tiwuk saja yang berkorban, satu saja! Kalian semua jadilah manusia yang berhasil.Dengan lulus UMPTN, dengan kuliah yang benar, dengan cepat lulus, itu sudah cukup membantu Mbak Tiwuk. Sudah membuat Mbak bahagia. Jangan pikirkan yang lain. Doa Mbak untuk kalian semua.

Juli 1993

Rumah Makan “Ayem Tentrem”, Pelabuhan Ketapang Sudah larut malam ketika aku

beristirahat, menunggu kapal yang akan berangkat ke Pulau Bali. Ini rute pertamaku. Agak gamang juga. Tapi Ahmad, kenekku meyakinkan bahwa ia pernah ke Denpasar sebelumnya, jadi aku tak perlu khawatir tersesat.

Deretan truk terparkir dalam keremangan pelabuhan. Aku turun, mencari musholla dan tempat nyaman untuk menyantap rantang makanan bekal dari Ibu. Menjelang pukul dua, kudengar keributan di sekitar trukku. Ahmad berteriak-teriak, aku tertegun.Segerombolan preman tengah merubungnya. Tukang palak rupanya. Sementara Pak Sabar, pemilik kayu gelondongan yang kuangkut tergigil pucat pasi di sisi truk.

Pemalakan tidak tanggung-tanggung karena kami orang baru, diharuskan membayar biaya keamanan sebesar seratus ribu. Sejenak mereka melongo begitu tahu sopirnya wanita. Tapi tak pernah kugunakan sebutan itu untuk bersikaplemah, terlebih ini menyangkut hak untuk mencari penghidupan halal, hakasasi setiap umat untuk meneruskan hidupnya.

Setelah gertakan untuk melapor polisi tak ditanggapi, terpaksa kuladeni tantangannya. Ahmad satu tingkat di bawahku di perguruan Perisai Diri.

Jadi aku bisa mengandalkannya. Seratus ribu bukan jumlah yang sedikit. Apalagi Sulastri membutuhkan biaya untuk praktikumnya. Perkelahian berjalan tak seimbang, dua lawan tujuh. Kami bertarung sengit, tiga orang berhasil kami buat jatuh, seorang yang bertindak sebagai pemimpinnya berbuat nekad, saat tendangan kaki kiriku ku arahkan ke si brewok, ia menohok dari samping. Cras… kaki berbalut sepatu kets-ku berlumuran darah. Perih, darah keluar dengan deras. Aku masih bisa menangkis dua, tiga serangan, setelah itu gelap. Saat sadar aku telah berada dalam salah satu bangsal di RSU Banyuwangi. Menurut dokter, setelah sembuh nanti kemungkinan aku akan mengalami sedikit pincang. Sejumlah memar juga menghiasi leher dan punggung.Rupanya saat aku sudah jatuh mereka masih menendangiku. Untunglah Pak Sabar datang tepat pada waktunya dengan dua orang polisi pelabuhan. Aku bersyukur karena Ahmad dan Pak Sabar tak terluka. Ah, peristiwa pahit. Tapi tak akan melemahkan semangatku untuk terus mencari nafkah, karena lima bulan lagi Sundari lulus SMA.

Februari 1995

Kutuntun Ibu ke dalam ruangan penuh spanduk dan karangan bunga.Subhanallah, matahari pagi pucuk-pucuk pinisium ikut tersenyum memandang kami. Hari ini Sutini disumpah menjadi seorang dokter. Map hitam berlogo almamater diserahkan kepada Ibu dan aku sambil menahan tangis. “Ini….Untuk Ibu dan Mbak Tiwuk.”Kupeluk adikku, kuusap keningnya.

“Seandainya setiap kakak di dunia ini seperti Mbak Tiwuk…..,” ujarnya dengan mata basah.”Seandainya semua adik di dunia seperti kalian, tidak akan ragu seorang kakak melakukan apa pun,” kami berpelukan, kurengkuh bahu adikku, Tini yang bulan depan akan mengakhiri masa lajangnya, disunting oleh teman seangkatan, pemuda soleh yang bulan kemarin bersama keluarganya mengkhitbah Tini dirumah kecil kami. Jemputlah masa depanmu Adikku….Mbak Tiwuk ikhlas kau langkahi.

Mei 1997

Rumah Makan “Baranangsiang”, Bogor Menyebut kota ini menimbulkan luka lagi yang menganga, Bapak….. pelan ku eja namanya. Nama laki-laki yang seharusnya menanggung beban di atas pundakku. Pernikahan Tini kemarin beliau hadir, juga saat Tinah diakadkan.Semanis apa pun wajah kupasangkan, tak bisa membangun jembatan kemesraan anak beranak di antara kami. Hati ini terlanjur sakit.

Pada saat kupandang wajah Ibu, masih dengan tulus yang sama menyambut kepulangan Bapak. Alangkah luas telaga maafmu, Ibu. Sementara hanya setitik hormat yang masihku punya. Menurut berita yang kudengar, usaha Bapak di Bogor maju pesat,dengan seorang istri dan dua anak laki-laki yang diidamkannya.Syukurlah jika Bapak bahagia. Semoga waktu akan mengurai kebekuan hati ini hingga terbentuk maaf yang tulus untuknya. Karena aku tak mau selamanya jadi anak durhaka. Bukankah Allah telah begitu adil dengan apa yang telah kami terima selama ini? Sungguh aku bersyukur…….

Mei 2000

Rumah berdinding setengah bata setengah bambu kami terasa bertambah tua, atap dapur bahkan nyaris dorong. Seperti juga kerut pada Ibu, juga wajahnya yang makin mengental. Jika ada kesempatan untuk bernafas, inilah saatnya. Keempat adikku sudah mentas semua. Tinggal Sundari, itu pun sudah hamper mandiri, karena selain menyelesaikan S2, ia juga mengajar di sebuah yayasan. Kini perhatianku beralih ke Ibu. Ibu yang membesarkan kami dengan keduatangannya, dengan kakinya yang terseok, yang selalu membentengi kami melalui doa yang rutin dipanjatkan di setiap malam, melalui puasa Senn-Kamis, dengan keprihatinannya, juga dengan sabar dan cintanya.

“Wuk, bisa nggak ya niat Ibu kesampaian. Ibu ingin sekali melihat Baitullah.” Satu kata itulah yang menjadi perhatianku kini. Maka, ketikaTini, Tinah, dan Lastri menawarkan diri untuk merenovasi rumah, kalimat itu kuulang pada ketiga adikku. Dengan sisa tabungan dan sumbangan mereka, aku berharap bisa memenuhi permintaan Ibu.

Juli 2000

“Dunia begitu indah karena kami memiliki kakak seperti engkau. Terimakasih,

Mbak….” Kueja kalimat itu berulang. Sebuah cincin permata berlian menyertai kertas itu. Ah, aku lupa, hari ini aku berulang tahun. Aku memang selalu lupa dan tak pernah memikirkannya. Setitik air membasahi pipi, sudah berapa lama aku tidak menangis? Kucium kertas itu.Adik-adikku, dunia pun sangat indah karena aku memiliki kalian, juga Ibu.Terima kasih ya Alah.

Februari 2001

Garuda Indonesia, Boeing 737, Jamaah Haji Kloter 12 Pada Allah semua tujuan hidup bermuara. Tak pernah kubenci dan kusesali hidupku. Karena aku telah memandang semuanya dengan syukur dan karenanya sepahit apa pun kenyataan akan tetap terasa indah. Inna ma’al ‘usri yusro, sesungguhnya dibalikkesulitan itu ada kemudahan.

Allah akan memberi kemudahan itu pada setiap hambanya yang sabar. Sering aku tak percaya bisa melakukan semua ini, karena tugas itu nyaris usai. Allah Yang Maha Pemurah, telah memberiku kesempatan hidup lebih panjang dari yang divonis dokter. Gadis dengan cacat jantung bawaan seperti aku…… rasanya tak percaya. Allah, jika Engkau ijinkan, berilah hamba waktu lagi minimal untuk bisa berjumpa dengan Bapak, agar kebekuan ini mencair.

Untuk sebuah kata maaf yang belum pernah bisa kukeluarkan, karena aku, Tiwuk Hartati, pernah mempunyai doa yang sangat jelek untuknya. Biarlah maaf itu tumbuh seperti sejuta telaga kasih milik Ibu.

Awan putih menyembul di balik kaca, bar arak meniupkan simponi syahdu. Seolah aku sedang duduk di antaranya, membaca tanpa gerak bibir, bahasayang santun dan dewasa, mengantarku dalam kedalaman rasa tiada tara. Ibu memejamkan mata di seat sebelah, tenang dan damai. Oh Ibu, akhirnya penantianmu usai sudah. Lihatlah Bu, lihat awan itu. Ia akan mengantar kita ke suatu tempat yang paling Ibu dambakan.

Kuusap lembut jemari kisut dan kasar itu. Ibu…. Lelah guratan hidupmu, membayang pada raut wajah itu,tapi tak bisa mengurangi keagungan cinta milikmu. Kukecup lembut dan kubawatangan itu ke atas dada. Di bandara tadi, harta-hartamu mengantar kepergian kita dengan haru: Dokter Sutini, Dokter Sulastri, Insinyur Partinah, dan calon guru kita Sundari, juga suami-suami mereka dan keponakanku yang lucu-lucu: Hanif, Asfa, dan Abdus.

Tawamu jernih dan tulus ketika menciummereka satu per satu, mutiara hidupmu. Wajah damaimu Ibu, adalah bentuk kepasrahan seorang hamba dalam menjalani garis hidup Sang Pencipta, tanpa keluh dan putus asa.

Kepasrahan dalam ketegaran yang senantiasa yakin akanpertolongan Khaliknya. Kurasakan burung besi ini semakin meninggi, memecah udara, diiringi senyum hangat pramugari-pramugari anggun berbaju muslimahyang menawarkan makanan.

Kuambilkan satu untukmu, Ibu….

Garuda pun membelah angkasa menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Semakin jauh meninggalkan Jakarta, meninggalkan Kediri. Dan satu harapan

lagi, dengan izin-Mu akan terwujudkan. Allah Maha Besar

KETIKA MAS GAGAH PERGI

Oleh : Helvi Tyana Rosa

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?”

“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!”

“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

“Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…”Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

“Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

“Assalaamu’alaikum!”seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

“Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya.

“Matiin kasetnya!”kataku sewot.

“Lho memangnya kenapa?”

“Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut.

“Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!”

“Bodo!”

“Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar.”

“Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!”

“Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…”

“Pokoknya kedengaran!”

“Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!”

“Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?”

“Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!” begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya “Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!”

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

“Penampilanmu kok sekarang lain Gah?”

“Lain gimana Ma?”

“Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…”

Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.”

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. “Jadi mirip Pak Gino.” Komentarku menyamakannya dengan supir kami. “Untung aja masih lebih ganteng.”

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?”

“Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!”

“Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. “Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!”

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?”

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku.”Baca!”

Kubaca keras-keras. “Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim.”

Mas Gagah tersenyum.

“Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…,” kataku.

“Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?” Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. “Coba untuk mengerti ya dik manis?”

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

“Mau kemana Gita?”

“Nonton sama temen-temen.” Kataku sambil mengenakan sepatu.”Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya.”

“Ikut Mas aja yuk!”

“Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!”

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

“Assalamualaikum!” terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

“Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?”tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt.”

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!

“Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!” Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

“Ikhwan?’ ulangku. “Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?” Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

“Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita.” Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.”

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

“Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham.”

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

“Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, ” ujar Tika tiba-tiba.

“Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…” kataku jujur. “Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…”

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin.” Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

“Mbak Ana?”

“Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

“Hidayah.”

“Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!”

“Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!” tegurku ramah.

‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!” Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

“Dari rumah Tika, teman sekolah, “jawabku pendek. “Lagi ngapain, Mas?”tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…

“Cuma lagi baca!”

“Buku apa?”

“Tumben kamu pingin tahu?”

“Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?”desakku.

“Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. “Nih!”serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

“Naah yaaaa!”aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku “Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam” itu.

“Maaas…”

“Apa Dik Manis?”

“Gita akhwat bukan sih?”

“Memangnya kenapa?”

“Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…” tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

“Mas kok nangis?”

“Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit.”

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

“Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?” Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

“Gita capek marahan sama Mas Gagah!” ujarku sekenanya.

“Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?”

“Tenang aja. Gita ngerti kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.

“Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?” tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, “Iya deh, iya!”

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
“Nyoba pakai jilbab. Git!” pinta Mas Gagah suatu ketika.
“Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. “Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama.”

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.

“Gita mau tapi nggak sekarang,” kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

“Itu bukan halangan.” Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.

“Ini hidayah, Gita.” Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

“Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.

“Lho! ” Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, “Hei itu kan Mas Gagah-ku!”

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, “Lho Mas Gagah kok bisa sih?” Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. “Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, ” kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

“Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.

“Mas Gagah belum pulang. “kata Mama.

“Yaaaaa, kemana sih, Ma??” keluhku.

“Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…”

“Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. “

“Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini.” Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.

“Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!” Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.

“Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh..” hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

“Nginap barangkali, Ma.” Duga Papa.

Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa.”

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

“Kriiiinggg!” telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,”Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?”

“Ada apa, Pa.” Tanya Mama cemas.

“Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…” suara Papa lemah.

“Mas Gagaaaaahhhh!!!” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

” Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini.” Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. “Sabar sayang, sabar.”

Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

“Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?” tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?” Air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.

“Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…” bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga.”

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. “Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi..”

“Gita…” suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah.” Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

“Mas…ini Gita Mas..” sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.”

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

“Dzikir…Mas.” Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

“Gi..ta…”
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

“Gita di sini, Mas…”
Perlahan kelopak matanya terbuka.

“Aku tersenyum.”Gita…udah pakai…jilbab…” kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.

“Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…” ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

“Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.

Epilog:

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

“Mas, Gita akhwat bukan sih?”

“Ya, insya Allah akhwat!”

“Yang bener?”

“Iya, dik manis!”

“Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!”

“Kok nanya gitu sih?”

“Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?”

“Ganteng kan?”

“Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?” Jihad itu apa sih?”

“Ya always dong, jihad itu…”

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!

Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!

Mengadulah Pada Kekasihmu …!

Sahabatku rahimakumullah….

Ujian apakah gerangan yang sedang melanda dirimu

kini?.

Yang kau balut dengan senyuman?.

Dan jika sudah tak kuasa menahan…

Kau tumpahkan pada orang-orang yang terpercaya…

Ataupun lewat sarana dan media…

Sahabatku…

Yang Menciptakan kita berkata:

“I’lamuu annamal hayaa tuddun-yaa la ‘ibun”.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu

hanyalah suatu permainan. (QS. Al Hadiid 57:20)

Kita ini sesungguhnya sedang bermain dalam sebuah

panggung kehidupan yang diciptakan_Nya.

Dengan berbagai peran, keadaan dan penjiwaan…

“Wa annahuu huwa adhaka wa abkaa”.

Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa

dan menangis”.

(QS. An Najm 53:43)

Adegan apa yang sedang engkau perankan wahai

sahabatku???

Seorang yang kaya…ataukah miskin?.

(“Kaya Jiwa ataukah harta?”. “Miskin harta ataukah

bathin?”)

Seorang insan yang penuh duka…ataukah seorang hamba

yang senantiasa ceria dan bahagia?.

Suatu ketika peran yang kau mainkan akan memaksamu

untuk menangis…

Dan lain ketika memaksamu untuk tertawa…

Duniapun penuh warna dan langitpun terpesona…!!!

Masya Allah…Itulah Kuasa_Nya Allah…

(Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaa ha ilallah,

wallaahu Akbar…)

Karena itu sahabatku…

Bermainlah dengan penuh rasa cinta dan kesabaran.

Niscahya engkau ta’kan sulit melakukannya.

Ikuti petunjuk pengarah adeganmu.(Rasul Allah Saw)

Agar Sang Penulis Skenario Cerita (Allah Swt) merasa

senang.

Karena engkau mampu memainkannya dengan baik.

Ingat!!!

Jangan mau terperdaya…

Karena sungguh!!!

Setiap adegan yang kau lakukan akan senantiasa

dinilai.

Dengan cermat dan penuh pehitungan !!!

Aduhai gerangan.

Kini kau sulit memainkannya.

Adegan itu semakin hari semakin berat saja…

Terlalu payah dan melelahkan…

Begitu banyak menguras energi dan fikiran.

Rasamupun tak karu-karuan!

Tanpa disadari engkaupun bergumam, “Aku tak bisa…!”

Yach…begitulah kita manusia…!!!

Duhai yang dilanda duka.

Laa tahzan walaa takhaaf.

Janganlah sedih dan janganlah takut.

Sang Penulis Skenario berbisik lembut pada Qalbumu.:

“Maa wadda ‘aka rabbuka wamaa qalaa”.

Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak pula benci

kepadamu”.

(QS. Ad Dhuha 93:3)

“Asaabakum ghamman-bighammin-likailaa tahzanuu ‘alaa

maa faa takum walaa maa a shaa bakum”.

Allah menimpakan padamu kesedihan atas kesedihan,

supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang

luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa

kamu. (QS. Ali Imran 3:153)

Dekati Dia.

Bukankah dengan Sifat Maha Penyayang_Nya engkau sebut

Dia Yang Tersayang?!…

Bukankah dengan Sifat Maha Pengasih_Nya engkau sebut

Dia Sang Kekasih?!…

Mengadulah Pada Kekasihmu…!!!

Dia akan menguatkan jiwamu, menentramkan Qalbumu.

Dia sebaik-baik penolong…Sebaik-baik pelindung…

Percayakan semua pada_Nya.

Karena dalam Cinta ada kepercayaan!!!

O.O.O.Ini bukan saat yang tepat untukmu sahabatku.

Lihat di kanan dan kirimu.!

Hiruk pikuknya mebuatmu sulit untuk berkonsentrasi.

“Inna laka finnahaa ri sabhan-thawiilaa”.

Sesungguhnya bagimu pada siang hari mempunyai urusan

yang banyak”.

(QS. Al Muzzammil 73:7)

Karena itu menyepilah.

Ucapkan pada_Nya.

“Yaa Habibi.Wahai Kekasihku.Aku ingin mengadu

pada_Mu!”

Dengan kelembutan_Nya Ia berfirman:

“Qumil laila”.

Bangunlah untuk shalat di malam hari. (QS. Al

Muzzammil 73:2)

Nisfahuu awin-qush minhu qaliilaa”.

(Yaitu) seperduanya atau kurang dari padanya sedikit.

(QS. Al Muzzammil 73:3)

“Au zid ‘alaihi”.

Atau lebih atasnya. (QS. Al Muzzammil 73:4)

Shalatlah dengan penuh rasa cinta dan kerinduan.

Itu akan membuatmu khusyu’…

Kemudian…

Tumpahkanlah segala apa yang menyesakkan dadamu.

Adukan semua pada_Nya…

Dengan ungkapan pilu…ataupun diiringi tangisan yang

lembut…

Kerena sesungguhnya…

Dia adalah Sebaik-Baik Pendengar.

Dan Berdo’alah…

Dengan penuh harap, rendah diri, dan suara

perlahan…seperti do’a yang diajarkan_Nya:

“Rabbi adkhilnii mudkhala sidqin-wa akhrijnii mukhraja

sidqin-waj ‘al lii min-ladunka sulthaanan nashiraa”.

Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar

dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar,

dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan

yang menolong. (QS. Al Israa 17:80)

“Jaa al haqqu wazahaqal baa thilu, innalbaa thila

kaana zahuu qaa”.

Telah datang yang benar dan telah lenyap yang bathil.

Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti

lenyap. (QS. Al Israa 17:81)

Ataupun do’a-do’a lain yang menjadi keinginan…

Hantarkan ia dengan bahasa yang mudah bagimu…dan

Jangan pernah merasa sungkan…

Sabda Rasullullah Saw:

‘Sesungguhnya Roobmu itu pemalu lagi pemurah, merasa

malu apabila tidak mengabulkan do’a kepada hamba_Nya

yang mengangkat kedua tangannya untuk berdo’a lalu

dikembalikan kosong.

Selanjutnya…

“Faqra uu maa tayassara minal qur aan”.

Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Qur’an. (QS. Al

Muzzammil 73:20)

“Warattilil qur aana tartiilaa”.

Dan Bacalah Qur’an itu secara perlahan-lahan. (QS. Al

Muzzammil 73:4)

Untuk apa Ia menyuruhmu membaca Surat Cinta_Nya

(Qur’an) wahai sahabatku?…

“Nu nazzilu minal qur aani maa huwa syifaa

un-warahmatun-lilmu’miniin”.

Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi

penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.

Al Israa 17:82)

Nah.bagaimana keadaanmu sekarang?…

Terasa ringan bukan?

Insya Allah.

Dan saat-saat yang indah bersama_Nya ini tak’kan

pernah kau lupakan.

Dimana engkau akan senantiasa rindu dan ingin s’lalu

menjumpai_Nya.

Jika tak’bertemu sehari saja.

Ada sesuatu yang hilang.

Iapun semakin sayang dan semakin cinta padamu.

Masya Allah.

Tetapi sahabat.

Tahukah dirimu kenyataan yang sebenarnya?…

Sesungguhnya Sang Kekasih itu senantiasa ada

bersamamu.

Tak pernah jauh.

Dia begitu dekat.sangat dekat.

Mampukah engkau menangkap keberadaan_Nya?…

(QS. Al Baqarah 2:186), (QS. Qaaf 50:16), (QS. Al

Baqarah 2:115), (QS. Al Hadiid 57:4)

Dia ada di sini.

Melihat aku menulis untukmu.

Dan melihatmu.

Yang kini sedang meresapinya.

Karena ini juga adalah suatu adegan.

Bagaimana dengan adegan selanjutnya?.

Dengarkan bisik Qalbumu.

Dan engkaupun akan tahu jawabannya.!

“Waminal laili fatahajjad bihii naa filatan-lah, ‘asaa

an-yab ‘asaka rabbuka maqaa man-mahmuudaa(n)”.

Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu

sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan

Tuhanmu mengangkat kamu ketempat yang terpuji. (QS. Al

Israa’ 17:79)

“Inna naa syiatal laili hiya asyaddu wath an-wa aqwamu

qiilaa”.

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih

menguatkan (jiwa) dan bacaan di waktu itu lebih

berkesan. (QS. Al Muzzammil 73:6)

“Nazzalahuu ruuhul qudusi min-rabbika bil haqqi

liyusabbital laziina aamanuu wahudan-wabusyraa lil

muslimiin”.

Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari

Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati

orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk

serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah

diri (Kepada Allah Swt). (QS. An Nahl 16:102)

Wabillaahi taufiq walhidayah

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

INI KOTAKU !!!!!!!!! MANA KOTAMU ???????

Surabaya !!!!!!!!!!!!!!!

this is my Surabaya !!!!!!!!!!!!!!!!

kata orang ini kota pahlawan……….

ya,,!!!!! kota ini penuh sejuta pahlawan !!!!!!!!!!!!

ketika sebelum kemerdekaan………..

atau ketika masa kemerdekaan…………

bahkan ketika setelah kemerdekaan…………

di kota ini akan selalu lahir pahlawan yang berjuang di masanya…………

ana yakin itu !!!!!

jadi inget suatu ucapan seorang mujahid-Imam Hasan Al Banna-di suatu ketika. beliau pernah berkata :

” LIKULLI MARHALATIN RIJAALUHAA “

artinya,,, di setiap zaman pasti ada tokoh-tokohnya,,pahlawannya,,pejuangnya

ana pernah merinding waktu liat rekaman Bung Tomo ketika berorasi perihal ultimatum yang dilakukan oleh penjajah…

bukan karena serem,,,,tapi karena orasinya yang berapi-api

dengan bertakbir,,, beliau mengajak segenap arek-arek Suroboyo untuk tidak gentar berjihad fi sabilillah melawan para penjajah yang notabenenya para salibis…….

ana sangat bangga dengan beliau,, disamping karakter beliau yang tak sombong,,rendah hati,,dan punya keteguhan hati,,

beliau juga seorang yang mencintai agamanya,,,,beliau seorang muslim yang taat (insya Allah)……

tapi sayang…….dia tidak termasuk pada jajaran mutiara bangsa ini…..para Pahlawan Nasional…..

padahal orasi yang beliau sampaikan,,juga perjuangan beliau,,telah menjadi bahan bakar bagi kekuatan perlawanan arek-arek suroboyo,,

bahkan telah memotivasi pejuang-pejuang lain di belahan Indonesia untuk tetap semangat menghadapi para penjajah….

meskipun beliau tidak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional,,,,,,biarlah semangat beliau tetap mendarah daging disetiap jiwa arek-arek suroboyo sampai kapan pun……

INILAH KOTAKU !!!! TEMPATKU LAHIR DAN BERKARYA…..

INILAH KOTAKU !!!! SEDANGKAN KOTAMU,,,,,,MANA KOTAMU ?????!!!!!!